KEMPALAN: Kita menanti-nanti datangnya Ramadhan. Lalu kita hitung 100 hari lagi ia akan datang, lalu 75 hari lagi, sebulan lagi, dan lalu Ramadhan itu datang mengisi hari-hari selama sebulan. Bulan penuh Rahmat dan Ampunan yang dinanti-nanti itu datang.
Kita sambut Ramadhan, berasyik masyuk dengannya. Bergumul melebur dengannya, seolah ingin tak terpisah dengannya. Tapi tentu itu mustahil. Seperti kedatangannya yang dinanti, Ramadhan juga akan beringsut meninggalkan kita.
Sebentar lagi Ramadhan akan berpisah, meninggalkan kita. Meninggalkan kenangan yang selalu dikenang, dan yang akan mampu jadi semangat berprestasi dalam beribadah pada hari-hari diluar Ramadhan
Seperti layaknya kehidupan yang tak kekal, Ramadhan pun akan meninggalkan kita. Tidak ada yang mampu menahannya, agar ia tidak beranjak pergi, atau tidak ada yang mampu menjadikan setahun penuh itu Ramadhan.
Namun ada pribadi yang mampu menjadikan “seolah” setahun itu Ramadhan, yaitu spirit Ramadhan yang terus kita jaga di bulan-bulan berikutnya. Tentu ini bukan perkara mudah.

Tapi itu hal yang mudah bagi pribadi yang menjalankan ibadah Ramadhan sebulan penuh dengan sungguh-sungguh, dan beramal dengan penuh kebajikan. Pastilah itu akan membekas, mewarnai bulan-bulan berikutnya.
Jika itu yang terjadi, maka seolah Ramadhan hadir setahun penuh tanpa penghalang. Itulah manusia beruntung, sebagaimana digambarkan sebuah hadits:
“Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at, dan Ramadhan ke Ramadhan menghapuskan dosa-dosa di antara masa-masa itu, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (H.R Muslim).
Menjalankan amalan ibadah dan muamalah selama Ramadhan, itu diharapkan membekas dan bisa dilanjut pada hari-hari diluar Ramadhan, sampai dipertemukan Ramadhan berikutnya. Maka, setahun penuh itu Ramadhan senantiasa membersamainya.
Inilah manusia beruntung yang lulus dalam “madrasah” Ramadhan, yang menjadikan hari-harinya seolah Ramadhan. Manusia yang hari-harinya terus bergumul dengan hal-hal kebaikan.

Manusia yang amalan ibadah dan muamalahnya hanya mengharap pahala dari-Nya, tidak butuh pandangan manusia, yang lalu memunculkan hamburan beragam pujian.
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Subhana Wa Ta’ala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (H.R Bukhari dan Muslim).
Ramadhan yang kita tunggu-tunggu kehadirannya, sudah hampir memasuki sepuluh hari terakhir. Dan tentu waktu yang tersisa didalamnya tidaklah mungkin disia-siakan.
Ibadah disepertiga akhir Ramadhan, ini semacam memasuki final guna meraih kemenangan. Ya, kemenangan meraih pahala berlipat-lipat yang tidak ditemukan di bulan-bulan selainnya.
Inilah bulan meraih kemurahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ampunan atas dosa-dosa hamba-Nya, dan pelepasan diri dari siksa api neraka. Merugilah jika waktu yang tersisa ini tidak dimanfaatkan secara optimal dalam mengisinya. (Ady Amar)


Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi