Sabtu, 2 Mei 2026, pukul : 00:32 WIB
Surabaya
--°C

Masuklah ke Surga dengan Rahmat-Ku

KEMPALAN: (Ngabuburit Ramadhan hari ke-18 ini, menyampaikan satu pesan: seseorang memasuki surga-Nya bukan disebabkan amalan ibadahnya, tapi karena Rahmat-Nya. Maka Rahmat Allah-lah yang kita harapkan, di samping tentunya amalan ibadah sesuai anjuran-Nya. Selamat berbuka puasa.).

***

Sebuah episode perdebatan seorang ‘abid (ahli ibadah) dengan Allah, menarik diangkat. Dan itu tentang dengan apa ia diganjar surga.

‘Abid itu menganggap, bahwa ia akan diganjar surga karena ibadahnya, yang memang diperuntukkan semata mengabdi kepada-Nya.

Tapi tidak di mata Allah, ia akan masuk surga bukan karena ibadahnya, tapi karena Rahmat-Nya. Dengan Rahmat-Nya itu ia akan dimasukkan ke surga.

Begini perintah Allah, “Masukkan hamba-Ku ke surga dengan sebab Rahmat-Ku.”

Sang ‘abid itu menolak dengan protesnya, “Dengan sebab amalku, ya Rabb.”

Protes itu bagian dirinya yang telah menjalankan ibadah dengan sungguh-sungguh. Maka selayaknya, menurutnya, ia masuk surga itu karena ibadahnya.

Episode perdebatan dengan apa seseorang dimasukkan ke surga, itu dikisahkan oleh sahabat Jabir Radhiyallahu Anhu, dan dimuat dalam hadits panjang riwayat Muslim.

Begini kata Jabir, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam: “Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelamatkannya dari neraka. Tidak juga denganku (Muhammad), kecuali dengan Rahmat dari Allah.”

Jabir Radhiyallahu Anhu mengisahkan, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatangi kami, kemudian Beliau bersabda:

“Jibril berkata, wahai Muhammad, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki seorang hamba, yang telah beribadah kepada Allah selama lima ratus tahun di puncak gunung yang luas, panjangnya 30 X 30 hasta, dan lautan yang melingkar di sekitarnya seluas 4.000 farsakh dari setiap penjuru, di bawah gunung tersebut terdapat sumber air jernih kira-kira beberapa ruas jari lebarnya, dan terdapat pula pohon delima yang sengaja disediakan Allah untuknya, dimana setiap hari mengeluarkan buahnya satu biji.

Tiap sore sesudah berwudhu, buah tersebut diambil dan dimakan, kemudian ia melakukan shalat seraya berdoa mohon agar nyawanya diambil saat tengah melakukan sujud, agar tubuhnya tidak tersentuh bumi atau makhluk lainnya, sampai ia bangkit di Hari Kiamat dalam posisi tengah bersujud kepada Allah. Permohonannya itu dikabulkan Allah, karena itu setiap kami naik-turun langit ia tengah bersujud.”

“Lanjut Jibril kemudian, ‘Kami temukan tulisannya di Lauhil Mahfuzh, bahwa ia akan dibangkitkan kelak di Hari Kiamat dalam keadaan masih tetap bersujud. Firman-Nya: ‘Masukkanlah hamba-Ku ini ke surga karena Rahmat-Ku.’ Tetapi hamba itu menjawab: ‘Dengan sebab amalku, ya Rabb.’

Maka Allah meminta malaikat menghitung semua amal ibadahnya dibanding dengan nikmat pemberian-Nya. Dihitunglah, dimulai dengan menghitung nikmatnya mata, ternyata sebanding dengan lima ratus tahun ibadahnya, padahal nikmat-nikmat lainnya belum dihitung.

Lalu Allah berfirman: ‘Lemparkan ia ke dalam neraka.’ Kemudian malaikat membawanya, dan saat akan dilempar ke neraka, ia menyadari kesalahannya seraya berkata penuh penyesalan, ‘Ya Allah, masukkanlah aku ke surga karena Rahmat-Mu.’

Lalu firman-Nya: ‘Kembalikanlah ia.’

Lantas Allah bertanya, ‘Siapakah yang menciptakanmu dari asalnya yang tiada?’

Ia menjawab, ‘Engkau, ya Allah.’

‘Hal itu dikarenakan amalmu atau Rahmat-Ku?’

Ia menjawab lagi, ‘Karena Rahmat-Mu.’

‘Siapakah yang menguatkanmu mampu beribadah selama lima ratus tahun?’

Ia menjawab, ‘Engkau, ya Allah.’

‘Lalu siapakah yang menempatkanmu di atas gunung yang di sekitarnya dikelilingi lautan, dari kaki gunung itu memancar sumber air tawar dan tumbuh pohon delima yang buahnya engkau petik tiap sore hari. Padahal buah delima berbuah setahun sekali, lalu engkau minta mati dalam keadaan bersujud, siapa yang menghadirkan itu semua?’

Sang ‘abid menjawab dengan lirih, ‘Engkau, ya Allah.’

Maka firman-Nya: ‘Sadarlah kamu, semua itu karena Rahmat-Ku, dan sekarang Aku masukkan kamu ke surga juga semata karena Rahmat-Ku.’

Kemudian Jibril berkata kepadaku, ‘Segala-galanya di alam ini ada, karena Rahmat Allah semata’.”

***

Apa yang bisa menjadi ibrah dari kisah di atas? Allah lewat perantaraan Jibril Alaihissalam ingin mengingatkan bahwa masuknya seseorang ke surga bukan semata diukur oleh kuantitas dan kualitas ibadah yang dilakukannya. Tapi semua ditentukan oleh Rahmat-Nya.

Itu semua agar manusia tidak sombong, terjebak dan bangga akan amalan ibadah yang dilakukannya.

Maka iblis menjadi contoh, yang beribadah sekian juta tahun mengabdi, bahkan dianggap berprestasi di antara malaikat lainnya. Namun iblis hancur saat merasa lebih baik dibanding manusia Adam Alaihissalam (Qur’an, Surat al-A’raf: 12, dan Surat Shaad: 76).

Wallahu a’lam. (Ady Amar)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.