MOSKOW-KEMPALAN: Seorang diplomat senior Rusia pada Selasa (27/4) mengatakan pemerintahnya telah menawarkan pembentukan kembali hubungan renggang antara Moskow dan Washington usai pelantikan Presiden AS, Joe Biden, namun tawaran itu ditolak oleh Gedung Putih.
Berbicara kepada jurnalis Dmitry Kiselyov, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov menjelaskan bahwa Rusia ingin kembali pada pijakan yang sehat dalam hubungannya dengan AS.
“Jika hanya bergantung pada kami, kami akan kembali ke hubungan normal,” jelas Lavrov seperti yang dikutip Kempalan dari Russia Today, mencatat bahwa langkah pertama adalah membatalkan pengusiran diplomat Rusia dari Washington, dan diplomat AS dari Moskow.
“Kami menawarkan ini kepada Pemerintahan Presiden Biden segera setelah dia mengambil semua sumpah yang diperlukan dan mengambil alih kekuasaan,” lanjutnya seraya menambahkan bahwa ia menyebutkan hal ini kepada Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken.
Menurut Lavrov, krisis dimulai ketika mantan Presiden Barack Obama mengambil tindakan terhadap Rusia sebelum meninggalkan jabatannya. Setelah pemilihan Donald Trump, Moskow tetap bersabar dan menunggu pemerintahan baru untuk membalikkan “ekses” presiden yang akan keluar, tetapi itu tidak pernah terjadi.
“Saya sangat berharap Washington, seperti yang kita lakukan, mengakui tanggung jawab mereka atas stabilitas dunia,” lanjut Lavrov. Ia juga menambahkan bahwa permasalahan tidak hanya antara Rusia dan AS yang memperumit kehidupan warga negara keduanya, tapi juga ketidaksepakatan yang membuat keamanan internasional sangat beresiko dalam makna yang luas. Dalam beberapa minggu terakhir, hubungan Rusia-AS semakin renggang.
Pada 15 April, Biden menandatangani perintah eksekutif yang memberlakukan sanksi lebih lanjut terhadap Rusia. Menargetkan lebih dari 30 individu dan organisasi, tindakan tersebut dikatakan sebagai hukuman atas dugaan campur tangan dalam pemilihan presiden AS, serta kasus spionase dunia maya SolarWinds yang terkenal, yang menurut Washington diperintahkan oleh pemerintah Rusia. Biden juga mengumumkan pengusiran 10 orang dari misi diplomatik Rusia.
Kremlin secara konsisten membantah melakukan upaya untuk ikut campur dalam kontestasi itu, di mana Biden mengalahkan mantan Presiden Donald Trump. Rusia juga menolak tudingan bahwa mereka sedang mengembangkan program senjata kimia dan berkomentar perkara masalah Navalny bahwa hal itu adalah urusan dalam negeri Rusia dan sebuah konsekuensi atas perundangan domestik.
Berkenaan dengan pengusiran diplomat Rusia dari Amerika, hal yang sebaliknya juga dilakukan Rusia yang mengusir 10 diplomat AS, seperti yang telah diumumkan oleh Sergei Lavrov ketika konferensi pers pada Jumat minggu lalu seraya menambahkan negaranya akan melarang pendanaan dan LSM dari AS untuk campur tangan dalam urusan dalam negeri Rusia. (Russia Today, reza m hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi