KEMPALAN: (Kisah Uways al-Qarni, seorang tabi’in, tidak pernah bertemu Rasulullah, tapi mendapat hadiah istimewa darinya. Kok bisa? Ngabuburit Ramadhan hari ke-16 layak mengangkat kisahnya, kisah laki-laki yang tidak dikenal di bumi, tapi terkenal di langit. Subhanallah.).
Uways al-Qarni, nama yang tidak asing dikisahkan dengan berbagai versi. Dan itu tentang kepatuhannya pada sang ibu. Ia selalu mentaati perintah ibunya. Sekalipun ia pantang membantah atau mengingkari apa yang diperintahkan sang ibu.
Uways al-Qarni, sebagaimana ditunjukkan pada akhir namanya, berasal dari desa Qarn, Yaman. Ayahnya, Abdullah al-Qarni, meninggal saat Uways masih kanak-kanak. Karenanya, ia hanya hidup berduaan dengan sang ibu.
Uways termasuk golongan tabi’in, tapi ia sekalipun belum pernah menjumpai Rasul Sahallallahu Alaihi Wassallam. Saat mendengar kabar kenabian Muhammad Shallallahu Alaihi Wassallam, ia bersama sang ibu langsung memeluk Islam. Hidayah begitu mudah masuk ke relung hatinya.
Uways al-Qarni merawat ibunya yang lumpuh dan sakit-sakitan dengan kesungguhan hati dan ikhlas. Tidak pernah ia merasa kecapean dan lalu mesti mengeluh. Ia sediakan dan adakan semampunya apa yang dibutuhkan sang ibu.

Bagaimana ia bisa meninggalkan sang ibu yang semua keperluannya mesti ia sediakan, maka keinginan untuk bisa menjumpai Rasulullah Sahallallahu Alaihi Wassallam di Medinah, ia urungkan. Tidak tega ia meminta izin pada sang ibu untuk maksud itu.
Tapi keinginan untuk menjumpai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam begitu kuat menyergapnya dan terus berkecamuk dalam pikirannya. Sampai ia mesti sampaikan perasaan ini pada sang ibu. Dan sang ibu mengizinkannya dengan syarat, “Temui Rasulullah di rumahnya. Jika Rasulullah sedang tidak ada di rumah, maka cepatlah engkau kembali ke rumah.”
Maka bukan alang kepalang suka cita hati Uways mendapat izin itu. Setelah ia siapkan keperluan ibunya, sekiranya selama ia tinggalkan sang ibu tidak merasa kesulitan. Setelah berpamitan, Uways melakukan perjalanannya menemui kekasih yang dirindu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam.
Dengan berjalan kaki ia menyusuri padang pasir, yang jika siang hari panasnya amat menyengat, dan jika malam hari angin menderu membuat ngilu tulang. Pada cuaca ekstrem itu, Uways terus berjalan. Istirahat sebentar, dan makan sedikit dari bekal seadanya. Lalu berjalan lagi.
Perjalanan panjang dari Qaran sampai Madinah, itu ditempuhnya selama tiga bulan. Sulit dinalar. Berjalan kaki selama tiga bulan, itu cuma bisa dilakukan oleh sang pecinta.
Ya, Uways al-Qarni, itu sang pecinta yang mencintai manusia pilihan, Muhammad Shallallahu Alaihi Wassallam. Manusia yang belum pernah dilihatnya, tapi ia langsung imani. Jalan hidayah yang sampai padanya juga ibunya, adalah jalan bagi penempuh imani.
***
Akhirnya, sampailah Uways di rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, dan mengetuk pintunya.
Aisyah Radhyallahu Anha, istri kinasih baginda Rasul, menjawab dari balik pintu, “Rasulullah tidak ada di rumah, beliau ada di masjid.”
Mengingat perintah ibunya, temui Rasulullah di rumahnya, maka janji itu yang ia pegang. Lalu ia katakan, “Tolong sampaikan salamku pada Rasulullah. Mohon disampaikan kepadanya, bahwa Uways datang dari Yaman. Karena tidak mendapati beliau di rumah, akan langsung kembali ke Yaman. Sebab ibunya hanya mengizinkan menemui Rasulullah hanya dirumahnya.”
Sepulang dari masjid, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam melihat cahaya Uways di depan rumahnya.
Aisyah Radyallahu Anha memberi tahu beliau tentang kedatangan Uways, dan menyampaikan salamnya. Rasulullah sambil menengadahkan wajahnya ke arah Yaman, dan berujar, “Bau harum sahabat Uways sampai di sini.”
Para Sahabat Radhyallahu Anhum yang mendengar kisah itu bertanya, “Jika Uways sahabatmu, ya Rasul, kenapa ia tidak menunggumu barang sebentar?” Rasul menjawab, “Ia sedang merawat ibunya.”
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam memahami, bahwa ia tidak akan bertemu Uways di dunia ini. Rasul berujar, “Uways akan datang lagi suatu saat nanti ke Madinah, tetapi ia tidak akan bertemu denganku. Sebab saat itu aku sudah kembali pada Rabb-ku.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam mewasiatkan pada Umar dan Ali Radhyallahu Anhum. “Jika Uways datang suatu saat nanti ke Madinah, maka berikan jubahku ini padanya. Mintakan ia mau mendoakan ummatku.”
Beliau juga memberikan ciri Uways, bahwa di salah satu tangannya ada tanda belang dari tangan satunya.
Umar dan Ali Radhyallahu Anhum, setiap mendengar ada rombongan dari Yaman selalu mencari nama Uways diantara rombongan itu.
Sampailah pada masa kekhalifahan Umar Radhyallahu Anhum, seperti biasanya, Umar dan Ali yang memegang amanah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam untuk menyerahkan jubah itu, sibuk mencari Uways, saat dilihatnya rombongan dari Yaman datang.
Maka bertanyalah mereka berdua, “Apakah di antara para rombongan ada orang alim bernama Uways dari Qaran?”
Rombongan orang Yaman itu tak mengenal si alim Uways, tetapi mereka menunjuk seorang penunggang unta dari Qaran yang lebih suka menyendiri, lebih suka menghabiskan waktunya untuk beribadah, dan menyendiri bersama untanya.
Umar dan Ali Radhyallahu Anhum kemudian mendekati Uways, mengucap salam kepadanya, menyalaminya, menyampaikan salam dari Rasulullah, dan memberikan titipan jubah Nabi Shallallahu Alaihi Wassallam untuknya.
Akan tetapi, Uways enggan menerimanya, “Pasti telah terjadi kesalahan,” ujarnya, dengan maksud menyembunyikan identitasnya.
Namun, melihat tanda belang di salah satu tangannya, Umar dan Ali, berujar, “Engkau adalah orang alim yang disebutkan Rasulullah, sebab beliau memberitahu kami tanda belang di tanganmu itu.”
Mereka juga menyampaikan permintaan Rasulullah, agar Uways mau mendoakan umat Muhammad Shallallahu Alaihi Wassallam.
Selanjutnya, Uways menerima jubah Nabi itu, dan menutupkan jubah itu di wajahnya sambil menciumnya. Uways lalu memenuhi permintaan Rasulullah, “Ya Allah, jubah ini milik Rasul kekasih-Mu. Beliau menghadiahkannya padaku, tetapi aku berjanji untuk memakainya, kecuali jika Engkau mengampuni umat Muhammad Shallallahu Alaihi Wassallam.
Sungguh merupakan doa kebaikan yang dipanjatkan Uways.
Rombongan dari Yaman yang datang ke Madinah itu tidak mengetahui jika ada orang alim bersama mereka. Orang alim yang doanya makbul.
Uways menjadi arketip yang tak dikenal, dan merahasiakan dirinya dari orang lain.
Uways seorang yang berbakti pada ibunya, mentaati perinta ibunya, dan karenanya mendapat hadiah jubah Nabi Shallalahu Alaihi Wassallam. Ia memang pantas mendapatkannya.
(Ady Amar).


Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi