Oleh : Ferry Is Mirza
Wartawan Utama, Pengurus PWI Jawa Timur
KEMPALAN: Di bulan Ramadhan ada amalan sunnah yang bisa dijalani yaitu makan sahur. Amalan ini disepakati oleh para ulama dihukumi sunnah, sebagaimana kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 7: 206. Namun amalan ini memiliki keutamaan karena dikatakan penuh berkah.
Dalam hadits muttafaqun ‘alaih, dari Anas bin Malik, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.”
(HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no.1095)
Yang dimaksud barokah adalah turunnya dan tetapnya kebaikan dari Allah pada sesuatu. Barokah bisa mendatangkan kebaikan dan pahala, bahkan bisa mendatangkan manfaat dunia dan akhirat. Namun patut diketahui bahwa barokah itu datangnya dari Allah yang hanya diperoleh jika seorang hamba mentaatiNya.
Keberkahan dalam Makan Sahur
Memenuhi perintah Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagaimana diperintahkan dalam hadits di atas.
Keutamaan mentaati beliau disebutkan dalam ayat,
“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” QS. An Nisaa’: 80)
Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”
(QS. Al Ahzab: 71)
Dengan makan sahur, keadaan fisik lebih kuat dalam menjalani puasa.
Beda halnya dengan orang yang tidak makan sahur. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Barokah makan sahur amat jelas yaitu semakin menguatkan dan menambah semangat orang yang berpuasa.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 206).
Orang yang makan sahur mendapatkan shalawat dari Allah dan do’a dari para malaikatNya.
Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.”
(HR. Ahmad 3: 44. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi).
Waktu makan sahur adalah waktu yang diberkahi.
Karena ketika itu, Allah turun ke langit dunia.
Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758).
Waktu sahur adalah waktu utama untuk beristighfar.
Sebagaimana orang yang beristighfar saat itu dipuji oleh Allah dalam beberapa ayat,
“Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17)
“Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.”
(QS.Adz Dzariyat: 18)
~ Orang yang makan sahur dijamin bisa menjawab adzan shalat Shubuh dan juga bisa mendapati shalat Shubuh di waktunya secara berjama’ah.
Tentu ini adalah suatu kebaikan. Makan sahur sendiri bernilai ibadah jika diniatkan untuk semakin kuat dalam melakukan ketaatan pada Allah.
Intinya, makan sahur punya berbagai keberkahan. Itulah rahasia-rahasia yang mungkin sebagian kita tidak mengetahuinya. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi