KEMPALAN: Dalam sejarah hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah al Munawarah, bangunan pertama yang dibangun adalah masjid, sarana untuk menyembah Allah SWT.
Mengapa masjid yang dibangun pertama?
Dalam sejarahnya, masjid di sejarah Nabi Muhammad dan khulafaurrasyidin, menjadi pusat kegiatan.
Cendekiawan muslim Quraish Shihab merinci 10 peran dan fungsi masjid di zaman Nabi, yaitu tempat shalat; tempat konsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi, sosial, dan budaya); dan tempat pendidikan. Lalu sebagai tempat santunan sosial; dan tempat latihan militer serta persiapan alat-alatnya.
Selanjutnya sebagai tempat pengobatan korban perang; tempat perdamaian dan pengadilan sengketa; serta sebagai aula dan tempat menerima tamu. Ditambah lagi sebagai tempat menawan tahanan perang; serta pusat penerangan dan pembelaan agama.
Tidak salah jika memang dikatakan masjid di masa Rasulullah adalah sebagai pusat aktivitas masyarakat.
Namun, persoalannya, fenomena fungsi masjid sebagai pusat aktivitas masyarakat ini tidak nampak di era kini. Fungsi Masjid menjadi eksklusif hanya satu fungsi saja: tempat salat.
Namun ada satu masjid di kawasan Yogyakarta yang cukup fenomenal, yang fungsinya mendekati definisi yang digambarkan dalam sejarah tentang masjid pada masa Rasulullah. Shalat subuh di masjid ini serasa shalat jumat. Jamaah shalat subuhnya sama banyaknya dsengan jamaah pelaksanaan Shalat Jumatnya.
Masjid ini pun disebut-sebut menjadi “benchmark” pengembangan masjid di era modern. Masjid itu adalah masjid Jogokariyan. Belajar dari Masjid Jogokariyan, penulis berkesempatan bertemu dengan Ust. Jazir, ketua takmir masjid Jogokariyan.
Ust. Jazir memulai dengan kiat untuk memakmurkan Masjid. “Untuk memakmurkan Masjid, pertama yang harus dipahami adalah fungsi masjid itu sendiri agar berfungsi seperti pada masa Rasulullah: untuk ibadah, pendidikan, sosial, ekonomi.” katanya. “Salah satu elemen penting, adalah memaksimalkan fungsi menara masjid,” tandasnya.
Ya, Masjid Jogokariyan, dimajukan dengan memaksimalkan fungsi menaranya.
Seperti kita ketahui, bahwa ada banyak bagian dalam masjid, salah satunya adalah Menara. Setiap orang, bahkan orang masjid sendiri, ketika ditanya apa fungsi Menara? Jawabannya hampis bisa dipastikan adalah untuk tempat mengumandangkan adzan. Memang benar, tapi fungsi Menara pada masa Rasulullah tidak hanya sebatas itu.
Ust. Jazir menceritakan dalam sebuah Hadits, disebutkan bahwa setelah Bilal medapatkan tugas sebagai muadzin, beliau merasa perlu untuk mengumandangkan adzan hingga terdengar ke seluruh wilayah. Kebetulan, ada rumah di dekat masjid Nabawi yang bangunannya tinggi. Ini dimanfaatkan oleh Bilal untuk mengumandangkan adzan dengan berdiri di loteng rumah ini. Hal ini dilakukan secara rutin 5 kali sehari.
Namun, pada suatu subuh, Bilal mengalami kesulitan untuk naik ke loteng rumah tersebut lantaran pemilik rumah tertidur dan rumahnya terkunci. Sehingga, Bilal tidak bisa mengumandangkan adzan secara luas. Akhirnya diputuskanlah untuk mendirikan sebuah Menara Masjid untuk Bilal bisa mengumandangkan adzan.
Seiring berjalannya waktu, fungsi Menara Masjid kemudian tidak hanya sebatas untuk mengumandangkan adzan.
Rasulullah pun kerapkali naik ke atas menara, namun tidak untuk melantunkan adzan, melainkan untuk meneropong kondisi dapur masyarakat Madinah kala itu. Jika ada dapur yang tidak mengepul, maka Rasulullah akan mendatangi dan menayakan. Jika dapur tidak mengepul karena kemiskinan maka akan diambilkan makanan dari baitul maal. Dampaknya, dia pun bisa beribadah dengan jamaah dengan rutin di masjid.
Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, hal serupa seperti Rasulullah dilakukan. Pada suatu malam Khalifah Umar melihat dapur salah satu rumah mengepulkan asap. Lantas didatangilah rumah tersebut. Ternyata di dalam rumah didapati seorang ibu yang memask batu dalam air hanya untuk menenangkan tangis anak-anaknya yang kelaparan.

Tanpa pikir panjang, Khalifahpun pergi ke baitul maal yang tengah dijaga Abu Hurairah untuk mengambil sekarung gandum. Abu Hurairah bertanya untuk apa Khalifah membawa gandum itu sendiri. Dia menawarkan diri untuk membawakan sekarung gandum terserbut. Namun ditolak oleh Khalifah, dengan jawaban, “Ini tanggung jawab saya untuk memberikan gandum ini pada Ibu yang anaknya kelaparan.”
Hikmah dari kisah tersebut, menurut Ust. Jazir bahwa fungsi Menara Masjid dan pengurus Masjid lebih dari sekedar untuk mengumanadangkan adzan dan menggelar solat berjamaah. Atau hanya sekedar membangun masjid dan menjaganya. Kemudian menguncinya pada saat tidak ada kegiatan Solat. Pengurus masjid harus menjaga ekonomi umat. “Karena Menara Masjid untuk meneropong kebutuhan umat harus dijaga,” kata Ust. Jazir.
Lalu dalam konteks kekinian, bagaimana pengurus masjid bisa menjaga kebutuhan umat?
Pengurus Masjid Jogokariyan kemudian mencermati bahwa fungsi Menara itu adalah untuk mengumpulkan informasi umat. Maka ini diterjemahkan dengan menyusun database jamaah.
Database ini berisi informasi lengkap tentang jamaah di sekitar masjid yang terus meluas secara lengkap beserta peta rumahnya dengan kode kodenya. Diketahui berapa jumlah muslim dan non muslimnya, berapa jumlah muslim yang solat berjamaah dan tidak solat berjamaah. Yang tidak solat akan diajak untuk solat dan diketahui mengapa tidak bisa solat.
Siapa Muslim yang bisa ngaji dan tidak bisa ngaji. Berapa orang yang sudah berhaji. Siapa saja di wilayah itu yang masuk kategori Muzakki dan Mustahiq. Maka masjid pro aktif untuk mengunjungi rumah-rumah warga yang perlu untuk bimbingan, baik solat, mengaji maupun bimbingan keagamaan yang lain. Sehingga dengan mengetahui data tersebut maka edukasi bisa tepat sasaran.
Dalam konteks ini, Masjid Jogokariyan menjadikan database sebagai pengganti Menara. Pendekatannya kepada masyarakat adalah dengan keagamaan. Misalnya terkait dengan baitul maal, ketika ada orang yang membayar zakat, maka pengurus masjid mendoakannya. Tidak seperti badan amil zakat yang hanya mendekati secara administratif saja. “orang akan milih bayar zakat di masjid karena didoakan,” kata Ust. Jazir.
Fungsi baitul maal Masjid Jogokariyan kemudian dihidupkan. Baitul maal benar-benar dari umat untuk umat. Dana baitul maal Masjid Jogokariyan antara lain untuk:
- Program benah-benah rumah jamaah agar layak.
- Pada H-1 bulan Ramadan, setiap warga miskin diberi subsidi sahur berupa sembako. Ini dengan tujuan agar ketika dibangunkan sahur oleh suara dari pengeras suara masjid mereka bangun dan ada yang dimakan untuk sahur.
- Buka puasa dengan menyediakan 2000 porsi makanan setiap hari.
- Setiap bulan warga miskin dapat jatah beras masjid (Rasjid). Caranya setiap kali jamaah Masjid Jogokariyan yang menanak nasi, mereka menyisihkan segenggam beras untuk disumbangkan dengan dikumpulkan di masjid.
- Pemenuhan kebutuhan alat ibadah bagi masyarakat yang memerlukan.
- Diterapkan fungsi kas nol rupiah. Seluruh dana zakat dan infaq setiap bulannya harus nol karena uang ini adalah umat dan langsung kembali kepada umat.
- Dsb.
Dengan menggunakakan data terkait masyarakat sekitar itu, kemudian takmir masjid mewujudkan target-target pengentasan persoalan yang menjadi penyebab seorang anggota masyarakat sekitar tidak bisa menjalankan solat berjamaah. Dengan demikian masjid akan bisa menjadi pusat pemakmuran masyarakat. Masyarakatpun secara otomatis akan memakmurkan masjid. Masjid yang memakmurkan dan dimakmurkan.
(Dr. Kumara Adji Kusuma adalah dosen pada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan sekretaris Takmir Masjid An-Nur Sidoarjo)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi