Minggu, 5 Juli 2026, pukul : 04:29 WIB
Surabaya
--°C

Ramadhan di Jerman, Bentuk Kebahagiaan dan Solidaritas Umat Muslim

BERLIN-KEMPALAN: Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah bagi umat Islam. Momen yang biasanya ditunggu-tunggu adalah saat berbuka puasa, bisa berkumpul dengan keluarga, saudara, maupun teman untuk menyambung tali silaturahmi. Ramadhan adalah saat ketika hubungan-hubungan antarmanusia dapat lebih rekat

Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam kalender Hijriyah. Selama bulan ini, umat Islam menahan hawa nafsu dari waktu fajar atau subuh hingga matahari terbenam atau maghrib. Kegiatan ini mampu merefleksikan terhadap beratnya melahan lapar selama berjam-jam. Selain itu, pada bulan ini terdapat ganjaran yang melimpah sehingga perbuatan baik merupakan poin utama yang dilakukan dalam Ramadhan.

Berpuasa diawali dengan sahur atau makan sebelum subuh. Setelah adzan subuh berkumandang umat Islam akan menahan hawa nafsu hingga matahari terbenam dan adzan maghrib dikumandangkan. Tak ada yang bisa menggantikan momen berkumpul ketika berbuka puasa.

Pada malam hari, umat Islam akan melaksanakan shalat sunnah tarawih berjamaah di masjid. Shalat tarawih sangat disarankan oleh Nabi Muhammad saw untuk dilaksanakan dan menjadi sarana umat Muslim saling bertemu.

Ramadhan di Jerman

Melansir dari Daily Sabah, umat Muslim di Jerman juga ikut merayakan hadirnya bulan Ramadhan. Layaknya umat Muslim yang lain, mereka juga melaksanakan puasa dari fajar hingga maghrib, yang membedakannya hanyalah waktu berpuasa yang berlangsung selama 17 jam karena perbedaan posisi secara geografis dengan Indonesia yang hanya berpuasa sekitar 13,5 jam.

Umat Muslim Jerman juga melakukan buka puasa bersama keluarga dan teman-teman layaknya di Indonesia. Masjid Fatih di Lindau dekat Danau Constance telah menyelenggarakan program Ramadhan khusus. Terdapat dua tenda raksasa di halaman masjid dan menyediakan bangku untuk 500 orang.

Seorang koki dari Turki yang merantau ke Lindau selama sebulan penuh menyiapkan hidangan Turki untuk buka puasa setiap hari. Di sini, orang-orang berbuka puasa bersama, minum teh dan menghabiskan waktu bersama anggota keluarga, teman serta anggota komunitas hingga keesokan harinya setelah sahur.

Di masa lalu, hanya umat Muslim yang mengatur acara buka puasa, namun telah berubah dalam beberapa tahun terakhir. Tuan rumah tidak lagi hanya mencakup komunitas masjid dan Muslim pada umumnya; tetapi semakin banyak orang, perusahaan, asosiasi bisnis, politisi, bahkan gereja sekarang menjadi tuan rumah untuk berbuka puasa.

Dari Augsburg hingga Zell, pertemuan buka puasa bersama di alun-alun dan taman kini dapat dilihat di mana-mana di Jerman. Asosiasi Islam yang lain juga menyelenggarakan malam buka puasa bersama, termasuk Persatuan Turki-Islam untuk Urusan Agama (DİTİB), Komunitas Islam Visi Nasional (IGMG) dan Uni Islam Turki Eropa (ATİB).

Dengan praktik buka puasa bersama di depan umum, ada pesan yang ingin disampaikan di atas segalanya yakni umat Muslim di Jerman adalah bagian dari masyarakat yang juga tertarik untuk saling berkomunikasi dan saling mengenal

Idul Fitri di Jerman

Bagi Muslim di Jerman, Idul Fitri adalah acara keagamaan yang sangat penting. Perayaan tiga hari menandai akhir Ramadhan. Ini adalah hari terpenting kedua bagi umat Islam setelah Idul Adha, yang memperingati kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya Ismail sebagai tindakan ketaatan kepada Tuhan.

Seperti semua hari raya Islam, keduanya mengikuti kalender hijriyah yang bergeser dari tahun ke tahun.

Muslim Jerman menganggap Ramadhan sebagai waktu solidaritas dengan komunitas Islam global. Ini adalah fase bersama dari rekoleksi, refleksi, dan rekonsiliasi.

Perayaan keluarga dari ‘dekat hingga jauh’ 

Hari pertama Idul Fitri diawali dengan sholat subuh di masjid yang seringkali hanya dihadiri oleh kaum pria. Dilanjutkan shalat sunnah Idul Fitri yang diikuti oleh seluruh umat Muslim. Di beberapa negara, umat Muslim mengunjungi makam anggota keluarga setelah dari masjid.

Kemudian perayaan keluarga dimulai. Selama liburan tiga hari, orang mengunjungi keluarga dan teman mereka, dimulai dengan kerabat dekat sebelum melanjutkan mengunjungi yang jauh atau biasa disebut mudik.

Kemiripan Perayaan Idul Fitri dan Natal di Jerman

Seringkali, Idul Fitri dimirip-miripkan dengan Natal di Jerman. Bukan hanya karena pentingnya liburan tetapi karena anak-anak juga menerima hadiah, sering kali pakaian baru dan permen.

Sementara itu, kunjungan gereja pada malam natal juga sesuai dengan adat islami yaitu “setiap pengunjung masjid dengan setelan terindah, baju terindah dan sepatu terindah datang ke masjid untuk menghadiri sholat di hari pertama Idul Fitri”. (Daily Sabah, Belva Dzaky Aulia)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.