Selasa, 26 Mei 2026, pukul : 13:03 WIB
Surabaya
--°C

Mungkinkah Perang Saudara Secara Terbuka Terjadi di Myanmar?

KEMPALAN: Dengan memahami situasi yang berkembang sekarang, dapat dipastikan situasi di Myanmar benar-benar tidak terkontrol, dengan banyaknya korban dan kerusakan tidak dapat dipungkiri bahwa situasi akan semakin buruk dan cukup sulit untuk diredam kecuali tuntutan rakyat agar Tatmadaw menyerahkan pemerintahan dipenuhi. Hingga kemarin rezim militer yang berkuasa benar-benar tidak pandang bulu dalam melakukan tindak kekerasan terhadap warganya, bahkan beberapa warga di media social memposting tangan seseorang yang dibakar oleh rezim karena terdapat tattoo Au Sang Suu Kyi.

Mengingat Myanmar adalah republik kesatuan yang multi-etnis, dimana juga terdapat banyak Organisasi etnis Bersenjata yang memulai pemberontakan di negara itu sejak lama bahkan ada yang memerintah wilayah ototnomnya sendiri maka pertanyaan yang dapat ditanyakan adalah: “Apakah mungkin terjadi perang saudara secara terbuka di Myanmar?”.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka terdapat dua faktor yang wajib diketahui situasi dan kondisinya, yang pertama adalah faktor internal dan yang kedua adalah faktor eksternal. Faktor Internal, mencakup rakyat sipil, Tatmadaw, dan organisasi etnis bersenjata. Sementara faktor eksternal adalah kondisi negara-negara lain baik tetangga terdekat maupun yang mitra Myanmar.

Rakyat Sipil
Kondisi rakyat sipil di Myanmar sekarang terpecah menjadi dua kubu. Yang pertama adalah kubu pro-rezim dan kubu kontra-rezim. Kubu pro-rezim adalah keluarga dari Tatmadaw dan partai politik yang mendukung Tatmadaw, namun jumlahnya tidaklah banyak. Lantas siapakah kubu kontra-rezim? Dapat dipastikan kubu kontra rezim adalah mereka yang menentang Rezim, diantaranya aliansi mahasiswa, aliansi pegawai negeri, aliansi buruh, dan banyak gerakan bawah tanah lainnya.

Tatmadaw

Sangat jelas, hingga tulisan ini ditulis, Tatmadaw belum mau menyerahkan kepemimpinan negeri itu ke tangan rakyat sipil dan tetap membasmi para pendemo yang ada disetiap jalan kota. Diplomat perwakilan Myanmar untuk beberapa negara juga telah menolak untuk bekerja dibawah rezim, diantaranya Duta Besar untuk Jepang, Roma, Inggris, Prancis, AS, Inggris, Swiss, dan rezim juga telah memecat perwakilan Myanmar untuk PBB. Sudah sangat jelas bahwa tidak memungkinkan rezim mengandalkan keahlian para diplomatnya dan hanya memiliki kekuatan yang besar didalam negeri juga kekuatan yang masih berwarna “abu-abu”, yaitu organisasi etnis pemberontak yang masih “abstain”.

Organisasi etnis Bersenjata Kelompok entis bersenjata yang ada di negara itu sangat beragam, ada yang telah ada sejak negara itu merdeka dan juga ada yang baru saja terbentuk, diantaranya Shanni Nationalities Army (2016) dan Arakan Army (2009) yang masih aktif hingga saat ini. Kurang lebih kekuatan seluruh organisasi etnis yang masih aktif hingga saat ini tidak tanggung-tanggung, belasan ribu personil bersenjata, bahkan beberapa kelompok memiliki senjata dan kendaraan berat.

Sementara itu pada tanggal 4 April sepuluh pemimpin organisasi etnis bersenjata telah menggelar pertemuan secara online dimana menyatakan mendukung gerakan rakyat sipil dan telah mendesak pemerintahan rezim untuk menghentikan pembunuhan dan penahanan secara sewenang-wenang, dapat digaris bawahi bahwa kelompok etnis hingga perhari ini masih belum memulai langkah yang lebih berbaya yang bisa memicu konflik besar, namun Kachin Independent Army telah melancarkan serangan terhadap pos-pos militer Tatmadaw.

Bahkan terdapat ajakan menentang rezim oleh Kachin Independent Army dan Tripartite Brotherhood Alliance (Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar (MNDAA); Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang (TNLA); dan Arakan Army (AA)) pada tanggal 29 Maret. Jika keempat kelompok tersebut di gabungkan maka mereka memiliki lebih dari 15.000 pasukan.

Namun terdapat kekhawatiran dimana Tatmadaw berusaha untuk mendekati Dua Kelompok Etnis Bersenjata Terkuat di Myanmar, yaitu United Wa State Army (UWSA) dan Shan State Progressive Party (SSPP), sayap politik dari Shan State Army ( SSA) pada 7 dan 8 April. Beberapa media lokal mengatakan hal itu dilakukan untuk mendorong pejabat dari kelompok bersenjata untuk menjaga hubungan yang tidak terputus dengan militer dan menjelaskan kepada mereka alasan di balik kudeta 1 Februari.

UWSA dan SSPP dapat dipastikan masih abstain atau “abu-abu” dalam menganggapi demo yang semakin memburuk dan langkahnya kedepan karena belum terdapat laporan resmi dari kelompok tersebut. Sangat menguntungkan bagi Tatmadaw apabila mereka dapat mengambil hati dua organisasi kelompok etnis terbesar dinegara itu yang juga memiliki wilayah otonomnya dengan Sumber Daya Alam dan Manusia yang ada.

Negara Lain PBB telah mendesak untuk segera diadakannya dialog, beberapa negara juga demikian, anggota negara ASEAN juga telah mendesak hal tersebut, tetapi karena terdapat prinsip non-interference, maka ASEAN tidak dapat berbuat banyak. Sementara itu India dan China yang menjadi Raksasa diantara Myanmar masih diam, India yang masih sibuk dengan urusan Covidnya dan China yang diam karena prinsip netralitasnya. Terdapat juga kehawatiran terhadap Russia dan China mengintervensi Tatmadaw melalui bawah tanah karena kedatangan Wakil Menteri Pertahanan Russia pada ulang tahun Tatmadaw yang di isukan membawa kepentingan tertentu. Sementara hubungan komunis di negara itu yang telah terbangun sejak lama juga kedekatan Tatmadaw dengan Komunis China dikhawatirkan menjadi perisai untuk Tatmadaw.
Harusnya terdapat angkah yang pasti dari dunia untuk Myanmar, maka bisa jadi Myanmar menjadi Suriahnya ASEAN dan negara itu hancur diantara tetangganya yang makmur. Hingga hari ini negara itu masih mengalami kekalutan dan sedang dalam perjalanan menuju kehancuran. (Abdul Manaf Farid)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.