Selasa, 26 Mei 2026, pukul : 07:31 WIB
Surabaya
--°C

Pemprov Jatim Jangan Baper soal Dugaan Buzzer Khofifah

SURABAYAKEMPALAN : Pemerintah Provinsi Jawa Timur diharapkan tidak mudah baper (terbawa perasaan) terkait nama Gubernur Khofifah Indarparawansa yang trending di media sosial. Sebaliknya apabila kepopuleran nama mantan Menteri Sosial itu bisa dikelola dengan baik, citra baik tersebut bisa dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

Menurut pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura, Surokim Abdussalam dihubungi Senin (5/4) melihat reaksi yang ditunjukkan Pemprov Jatim terlalu berlebihan. “Tidak perlu baper, apalagi sampai menyalahkan, mencurigai, menduga netizen. Itu tidak produktif karena mau menyalahkan siapa, wong serba anonim begitu,” kata Surokim.

Seperti yang ditulis sebelumnya, Plh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Heru Tjahjono menyempatkan mengklarifikasi mengenai kepopuleran Khofifah di medsos Twitter. Pemprov, kata Heru, tidak pernah mempekerjakan buzzer supaya mempopulerkan nama Ketua Muslimat NU itu.

Surokim berpendapat, Pemprov Jatim masih gagap dalam menanggapi isu yang berkembang di medsos. Alasannya dalam memahami medsos itu perlu gampang-gampang susah dan perlu kehati-hatian. “Justru jangan panik dan reaktif seperti ini, mainkan ombak saja,” kata pria yang juga dekan FISIB UTM itu.
Dia menduga klarifikasi Pemprov Jatim ini ada kaitan dengan ketidaknyamanan Khofifah jika namanya populer di medsos. Padahal, jika cerdas memainkan isu di media sosial, bisa membawa citra positif bagi karir politik Khofifah. Sehingga tidak perlu buru-buru ada dirijen yang menggerakkan akun-akun bodong itu.

BACA JUGA  Berebut Kursi Rumah Para Juara: Keketatan SNBT Unesa Tembus 12,2 Persen, Rumpun Kesehatan Mendominasi

“Kita tahu kalau Khofifah baru satu periode menjabat (Gubernur Jawa Timur). Jadi kalau kepopuleran ini bisa dikelola baik, tentu menguntungkan bagi karir politik beliau. Entah untuk kepentingan running Pilgub maupun Pilpres,” papar. peneliti senior Surabaya Survey Center ini.

Oleh karena itu, Surokim menyarankan agar Pemprov Jatim bisa mempelajari pola-pola komunikasi yang ada di media sosial. Dengan demikian, ketika dihantam isu yang membuat tidak nyaman, pemprov terlihat tetap elegan. “Isu di medsos ini tentu mempengaruhi kinerja birokrasi. Nah bagaimana caranya agar pemprov bisa berselancar dengan aman dan malah menaikkan citra positif pemprov, sekaligus Khofifah sebagai nahkodanya,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Protokoler Pemprov Jawa Timur Agung Subagyo masih belum bisa memastikan dampak isu buzzer bagi kinerja birokrat di lingkup pemprov. Menurutnya, semuanya masih perlu didalami. “Masih perlu kami dalam dulu,” kata Agung.
Nama Khofifah sempat populer pada Minggu (4/4) kemarin. Dari pantauan Kempalan.com, rata-rata cuitan yang diasosiasikan kepada Khofifah terkait kinerja dan capaian Pemprov Jatim.

BACA JUGA  Achmad Nurdjayanto Serap Aspirasi Warga Kalimas Baru 2, Soroti Infrastruktur hingga Akses Pendidikan

Namun yang jadi pertanyaan warganet adalah, cuitan tersebut berasal dari akun-akun yang diduga buzzer. Akun @pencarisinyal adalah salah satu yang mencuitkan adanya kinerja buzzer dalam kepopuleran nama Khofifah di Twitter. “Selamat bekerja para Buzzerp Gubernur Khofifah,” cuit akun tersebut. (Nani Mashita).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.