Senin, 25 Mei 2026, pukul : 09:28 WIB
Surabaya
--°C

Presiden Afghanistan Bertemu Perdana Menteri Tajikistan Bahas Kerjasama Bilateral

DUSHANBE-KEMPALAN: Presiden Republik Islam Afghanistan, Mohammad Ashraf Ghani bertemu dengan Perdana Menteri Tajikistan, Qaher Rasulzada pada Senin (29/3) malam di rumah sang PM Tajikistan, Bustan Sarai di Dushanbe.

Menurut Kantor Pers Kepresidenan kepada Bakhtar News Agency (BNA), dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak membahas perluasan hubungan kedua negara di bidang keamanan, ekonomi, perdagangan, transit dan budaya, serta memperkuat kesamaan visi Afghanistan dan Tajikistan serta menegaskan perluasan kerjasama regional.

Sementara menurut laporan lainnya, Ashraf Ghani menemui juru bicara Parlemen Tajikistan, Mohammad Taher Zakerzada di rumahnya di Bustan Sarai pada hari yang sama. Selama pertemuan, kedua belah pihak membicarakan mengenai perluasan hubungan antara Afghanistan dan Tajikistan di berbagai bidang, terutama memperkuat hubungan parlementer.

Ditambah lagi, sang Presiden Afghanistan bertemu dengan Menteri Luar Negeri India dalam Konferensi ke-9 dari Menteri Luar Negeri dari Jantung Asia – Proses Istanbul, keduanya mendiskusikan kerjasama regional dalam proses perdamaian Afghanistan.

BACA JUGA  Iran Tolak Ultimatum Trump soal Uranium, Teheran Pilih Perang Lawan Israel dan AS

Selama kunjungan ini, sang presiden Afghanistan juga akan memberikan pidato di National University of Tajikistan, dimana ia akan mendapatkan doctor honoris causa dari presiden universitas tersebut. Ia rencananya juga akan bertemu dengan presiden Tajikistan, Ali Rahman.

Presiden Ashraf Ghani menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Tajik National University.

“Kehormatan untuk memanggil Presiden @ashrafghani sebelum dimulainya @HeartofAsia_IPConference. Berbagi perspektif kami tentang proses perdamaian,” cuit Jaishankar dalam Twitternya yang dikutip Kempalan dari NDTV.

Sementara dalam konferensi itu, Presiden Tajikistan, Emomali Rahmon mengatakan bahwa konflik selama empat dekade terakhir di Afghanistan telah menunjukkan bahwa tidak ada solusi militer terhadap permasalahan negara Asia Tengah itu kecuali dengan upaya diplomatis dan politis. Ia juga menyatakan bahwa negaranya lebih memilih perdamaian dan kestabilan di Afghanistan.

Ia juga menambahkan bahwa akhir dari seluruh peperangan adalah rekonsiliasi seraya menyampaikan bahwa pemerintahannya memaafkan 6.000 milisi di Tajikistan dan merekrutnya masuk ke dalam pemerintahan yang pada saat rekonsiliasi dibantu oleh pemerintah Afghanistan.

BACA JUGA  Iran Tolak Ultimatum Trump soal Uranium, Teheran Pilih Perang Lawan Israel dan AS

Dia meminta masyarakat internasional untuk membantu Afghanistan dalam perdamaian dan stabilitas. “Kerja sama dengan Afghanistan adalah prioritas utama dalam kebijakan luar negeri Tajikistan,” Rahmon menegaskan. “Ada lebih banyak ruang untuk kerja sama di sektor energi antara Afghanistan dan Tajikistan.”

Ia turut menyampaikan bahwa negaranya siap untuk mengembangkan kerjasama dengan Afghanistan dan mengajukan usul pembentukan jalur kereta api bersama antara Tajikistan, Iran, dan Afghanistan. Adapun volume perdagangan bilateral pada tahun 2020 mencapai $70 juta dan diharapkan meningkat.

Sementara itu, Presiden Ghani, yang berpidato dalam konferensi tersebut, mengatakan hubungan Afghanistan-Tajikistan didasarkan pada rasa saling menghormati dan kepercayaan. Dia mencatat bahwa perdamaian di Afghanistan akan membawa perdamaian dan stabilitas di kawasan dan dunia, menambahkan bahwa kekerasan yang sedang berlangsung di negara itu bertentangan dengan keinginan rakyat. (BNA/NDTV, reza m hikam)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.