SURABAYA-KEMPALAN: Minggu (28/3) terjadi pengeboman di Gereja Katedral Makassar. Sejumlah 20 orang terluka, namun korban jiwa hanya dari pihak pengebom.
Pengeboman ini dilakukan oleh sepasang suami istri berinisial L (suami) dan YSF (istri) yang diduga berkaitan dengan pengeboman di Filipina.
Pada Selasa (30/3), Kempalan mewawancarai Syaifuddin Umar alias Abu Fida yang pernah menjadi mujahidin di Afghanistan yang sekarang sedang menggeluti bidang deradikalisasi berkaitan dengan pola radikalisasi yang menghasilkan bom Makassar.
“Saya banyak referensinya dari media,” ujar mahasiswa S2 Universitas Muhammadiyah Surabaya itu seraya menambahkan bahwa tindakan pengeboman itu tidak memiliki hubungan struktural yang jelas.
“Sepanjang ilmu yang saya miliki, sebagian masih terinspirasi dunia maya, sehingga sebagian bersumber dari internet,” tambah Umar. Ia menambahkan kalau pernyataan kepolisian mengatakan JAD maka memang organisasi tersebut selalu menggunakan internet sebagai sarana radikalisasinya.
Berkenaan dengan keterkaitan pelaku pengeboman Makassar yang diduga terlibat dengan pengeboman di Filipina, ia tidak memberikan komentar karena belum menemukan benang merahnya dan masih kurang update.
Adapun terkait radikalisasi yang terjadi apakah secara individu atau kelompok, Umar menyampaikan bahwa hal itu tergantung pada orangnya. Ia juga menyatakan bahwa nama-nama yang disebutkan tidak dikenalnya.
“Karena semuanya bersumber dari internet, maka benar jika pemerintah mengadakan patroli siber,” tambah Abu Fida. Ia juga menyarankan patroli siber ditingkatkan karena kemungkinan besar mencarinya sudah tidak melalui Google karena sudah sepaham dengan pemerintah dan berusaha mengantisipasi penyebaran konten teroris.
“Mungkin browsing-nya tidak melalui Google, tidak hanya Google yang harusnya (diajak) kerja sama, melainkan lainnya juga,” tutur mantan mujahidin Afghanistan tersebut. “Setelah Google apa, mungkin Yahoo, mesin pencarinya,” tambahnya.
“Misal Google sudah kerja sama, tapi apakah yang lain? Kan tidak juga, sekarang banyak mesin pencari kata kunci,” ujarnya berkaitan dengan sarana yang digunakan oleh kelompok militan.
Ia juga menyarankan untuk inovasi patroli siber berkaitan dengan kata kunci, jika sebelumnya menggunakan istilah jihad, mungkin sekarang bukan jihad dan pakai istilah lainnya dan lebih didetailkan lagi.
Umar turut menjelaskan bahwa ada dua jenis gerakan Islam, yang struktural maupun fungsional, kalau yang struktural seperti Jamaah Islamiyah (JI), sementara gerakan Islam yang baru lebih bersifat fungsional. Akan tetapi, ia menambahkan bahwa gerakan Islam sebenarnya dominan fungsional yang lebih mengarah ke online dan komandannya pun online. (Reza Maulana Hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi