Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 16:14 WIB
Surabaya
--°C

Adakan Bincang Isu, Komunitas Madani Ingin Berikan Edukasi Mengenai Teror, Agama, dan Negara

SURABAYA-KEMPALAN: Terorisme merupakan sebuah perbuatan yang menggunakan tindakan kekerasan yang menimbukan rasa takut atau terror secara masif dan meluas. Minggu (28/3), terjadi ledakan bom bunuh diri di depan Gereja Katedral di Makassar, Sulawesi Selatan. Kejadian yang memilukan ini, memantik Komunitas Madani untuk mengadakan diskusi bertajuk Bincang Isu dengan tema “Teror, Agama, dan Negara”.

Diskusi tematik yang diadakan pada hari Selasa (30/3) malam, diisi oleh Prihandono Wibowo selaku dosen Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional Jawa Timur. Diskusi ini menjadi ruang bagi terbentuknya diaektika dalam konteks pembahasan teror, agama, dan negara.

Dono, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa ada empat gelombang teroris di dunia. Yakni ada gelombang anarkis yang mulai pada tahun 1880-1920, lalu gelombang anti kolonial yang merebak pada pertengahan 1920-1960, ada gelombang gerakan kiri di kisaran waktu 1960-1980, dan gelombang agama yang sekarang sedang terjadi.

Dono melihat bahwa ada dua perspektif untuk melihat agama yang seringkali dijustifikasi melekat dengan terorisme. Pertama, adalah perspektif yang melihat bahwa agama sangat inheren dengan proses terorisme. Dimana agama selalu berbicara mengenai suatu hal yang benar dan salah. Agama seakan menjadi sebuah dogma dalam polarisasi antara yang haq dan bathil. Kondisi ini yang kemudian diejawantahkan menjadi perbuatan anomie, seperti teror yang berkembang dewasa ini. Kedua, adalah perspektif yang menolak bahwa agama dan teroris merupakan sebuah hal yang bertolak belakang atau kontradiktif.

“Agama dan teroris itu sangat tidak identik, karena secara historis, teroris banyak disebabkan oleh ideologi politik, pergualatan pemikiran, dan lain sebagainya,” ujar Prihandono Wibowo selaku pemateri dalam Bincang Isu dengan tema “Teror, Agama, dan Isu” via Zoom meeting, Selasa (30/3).

Ketika ditanya, apakah teroris itu semuanya beragama islam. Dono dengan lugas menjawab bahwa teroris tidak secara keseluruhan beragama islam. Ada beberapa gerakan teroris yang diinisiasi oleh kelompok-kelompok beragama lain dan berideologi lain.

“Namun sekarang ini, banyak literatur dari negara-negara barat yang mengungkapkan bahwa agama islam adalah teroris,” jelas Dono sembari menunjukkan slide dengan tampilan buku berjudul “The New Terrorism dan Islamic Radicalism and Global Jihad”.

Dono menjelaskan slide dengan foto dari buku “The New Terrorism dan Islamic Radicalism and Global Jihad”

Di era yang serba digital, teknologi dan informasi dimanfaatkan dalam konteks negatif oleh para kelompok teroris dalam menyebarkan kabar hoax serta propaganda. Hal ini yang menjadi tantangan bagi negara dalam menangkal pengaruh dari masifnya berita mengenai isu teroris ini.

“Negara masih kesulitan untuk memfilter konten-konten dari teroris yang tersebar di internet,” tegas Dono.

Ia menganalisa bahwa kelompok teroris melakukan tindakan-tindakan tersebut untuk menarik simpati dari masyarakat. Acapkali, para kelompok teroris juga menggunakan dalil-dalil agama, kutipan hadis, dan ayat-ayat Al-Qur’an, dalam mempengaruhi konstruksi dari masyarakat yang secara mental masih mudah terombang-ambing.

Ketika ditanya oleh moderator, Irham Wildana, mengenai pentingnya pengawasan terkait sumber dana untuk teroris. Dono merespon bahwa skema pendanaan itu sekarang mulai bervariasi dan berubah sesuai kondisi zaman. Dimana model pendanaan terdahulu lebih menekankan pada kekerasan, seperti perampokan dan penjarahan. Namun, model pendanaan sekarang sudah menggunakan media-media yang non-mainstream. Seperti, dengan pemanfaatan kotak amal, menggunakan media yayasan amal, bahkan teknologi bictoin.

Pria alumnus Hubungan Internsional Universitas Airlangga ini, mengungkapkan bahwa pola gerakan teroris di Indonesia cenderung menurun. Dapat dilihat dari kontras yang signifikan dengan frekuensi gerakan teroris di awal tahun 2000-an. Kemudian juga terjadi penyusutan lingkup dan skala dari gerakan teroris dewasa ini. Karena, jika menilik pada kasus yang terjadi di beberapa tahun terakhir, lingkupnya hanya di skala keluarga saja. Berbeda dengan di awal tahun 2000-an yang melibatkan kelompok besar yang terorganisir.

“Lokasi proses pengeboman juga tidak strategis, berbeda dengan di awal tahun 2000-an yang melakukan pemboman di Hotel dan Kedutaan Besar,” imbuh Dono.

Dosen Hubungan Internasional UPN Jatim ini, beranggapan bahwa problematikan terorisme ini merupakan suatu hal yang sangat sulit untuk diselesaikan oleh negara. Karena teroris ini sangat sulit untuk dideteksi secara kasat mata. Namun ia mengapresiasi negara yang sudah mulai menangkap orang-orang yang disinyalir sebagai teroris.

Diskusi berjalan cukup seru dengan forum yang kurang lebih berjumlah 28 peserta. Terjadi diskusi interaktif antara beberapa peserta dengan pemateri yang membahas mengenai konteks-konteks teroris dan agama. Agenda Bincang Isu pun ditutup dengan closing statement dari pemateri dan peserta pada pukul 21.00 malam. (Rafi Aufa Mawardi)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.