WASHINGTON-KEMPALAN: Sebuah penilaian intelijen memprediksi, seperti yang dikutip dari New York Times pada Jumat (26/3), bahwa Taliban berpotensi merebut kekuasaan di Afghanistan seketika pasukan AS dan sekutunya ditarik dari negara tersebut.
Penilaian intelijen ini digunakan untuk memperkuat alasan agar pasukan asing tetap bertahan lebih lama dari pada tenggat waktu 1 Mei di Afghanistan dan badan intelijen Amerika menyampaikan kepada Biden bahwa jika pasukan AS mundur sebelum kesepakatan tercapai antara Pemerintah Afghanistan dengan Taliban, maka negara itu akan jatuh ke tangan Taliban dalam jangka waktu dua sampai tiga tahun setelah penarikan pasukan asing yang dapat bermuara pada pembangunan kembali kekuatan Al-Qaeda di Afghanistan.
Beberapa pejabat senior pemerintahan Biden juga menyampaikan skeptisisme atas prediksi intelijen mengenai kemunculan kembali Al-Qaeda atau ISIS yang sudah melemah. Hal ini dikarenakan para komandan Taliban tetap bermusuhan dengan ISIS, sementara Al-Qaeda bisa membangun kekuatannya di tempat lain.
Prediksi itu juga tidak menjelaskan apakah Afghanistan bisa makmur apabila pasukan asing masih berada di wilayahnya. Meskipun pasukan asing itu akan membantu pihak keamanan Afghanistan tapi Emirat Islam Afghanistan alias Taliban juga perlahan akan memperluas kekuasaannya.
Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan seorang juru bicara Taliban yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan pada Jumat (26/3) bahwa jika pasukan tidak ditarik mundur pada 1 Mei, maka Taliban akan “melanjutkan jihad dan perjuangan bersenjatanya melawan pasukan asing.”
Sementara itu, beberapa komandan militer dan pejabat pemerintah berpendapat bahwa setiap tanggal yang ditetapkan untuk menarik 3.500 tentara Amerika yang tersisa akan menggagalkan misi tersebut, maka dari itu satu-satunya cara untuk mempertahankan pencapaian di negara Asia Tengah itu adalah menyisakan sejumlah kecil pasukan Amerika di sana dengan jangka waktu yang cukup lama untuk memaksa kesepakatan yang langgeng antara Taliban dan Pemerintah Afghanistan.
Para pejabat di atas menggunakan penilaian intelijen guna memberitahukan bahwa penarikan pasukan di tahun ini akan membawa kejatuhan pemerintahan Ashraf Ghani dan kembalinya kelompok teroris internasional, karena penarikan yang tergesa-gesa akan membawa AS kembali ke Afghanistan seperti yang terjadi di Irak pada 2014 ketika Obama menarik pasukan dari wilayah itu.
Pejabat pemerintahan AS di bawah Biden lebih memfokuskan pada ancaman Taliban terhadap wanita di Afghanistan yang diperkirakan oleh beberapa mantan pejabat intelijen tidak akan terjadi secara mendadak, namun hal itu memang akan terancam apabila Emirat Islam Afghanistan kembali mengambil alih seluruh negeri.
Menurut penilaian intelijen itu, akan ada perang saudara antara Emirat Islam Afghanistan dengan Republik Islam Afghanistan ketika keduanya gagal mencapai kesepakatan dan pasukan asing sudah terlanjur ditarik keluar.
Namun ada pejabat lainnya yang memperingatkan bahwa membuat prediksi intelijen adalah sesuatu yang menantang dan prediksi akan masa depan seringkali tidak tepat serta berbagai faktor dapat mempengaruhi analisis tersebut. Juga muncul pertanyaan sekuat apa kelompok militan di Afghanistan karena jumlah kelompok tersebut sangat sedikit di negara itu.
Adam Smith, anggota DPR dari fraksi Demokrat menyampaikan bahwa tahun sudah berubah dan sekarang tidak sama dengan dasawarsa 90-an dimana Al-Qaeda bisa membangun kamp dan masih memiliki Taliban sementara orang tidak memperhatikan mereka. Ia menambahkan bahwa mempertahankan pasukan AS di Afghanistan justru akan menambah bahaya bagi warga AS di sana dan menggelontorkan dana jauh lebih banyak.
Di ranah penanggulangan terorisme pun para pejabatnya masih dipenuhi perdebatan apakah Al-Qaeda akan tetap membangun markasnya di Afghanistan atau justru pindah ke Afrika atau Timur Tengah. Adapun ketertarikan mengenai ISIS, namun hal ini ditampik dengan fakta bahwa ISIS dan Taliban seringkali bertempur dan Taliban selalu memukul mundur pasukan ISIS.
“Saya tidak dapat membayangkan skenario di mana ISIS dan Taliban akan secara strategis bekerja sama atau berkolaborasi di Afghanistan,” kata Lisa Maddox, mantan analis CIA yang juga menambahkan bahwa Taliban adalah organisasi ideologis yang ideologinya berfokus pada Afghanistan.
Namun, laporan intelijen nampaknya bersikukuh bahwa Taliban akan dengan cepat memperluas kendalinya atas Afghanistan dan memprediksikan bahwa pihak keamanan Afghanistan masih lemah meskipun dilatih dan didanai milyaran dolar oleh AS.
Pemerintah Afghanistan masih bersandar pada bantuan udara dari AS untuk mempertahankan wilayahnya. Akan tetapi masih belum jelas apakah pasukan udara AS akan masih beroperasi ketika pasukannya meninggalkan negara Asia Tengah itu yang mungkin serangannya dapat dikirimkan dari markas AS di Teluk Persia.
“Kemampuan yang disediakan AS bagi Afghanistan untuk dapat memerangi Taliban dan ancaman lain yang berada di Afghanistan sangat penting bagi keberhasilan mereka,” Jenderal Richard D. Clarke, kepala Komando Operasi Khusus, mengatakan kepada Senat pada Kamis (25/3). (The New York Times, rez)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi