KEMPALAN: Akhir-akhir ini kita dapat menemukan tindak terorisme yang sangat konyol, dimana ledakan bom bunuh diri hanya menewaskan pelakunya sendiri, dan media dengan bombastisnya memberitakan tindakan tersebut ke seluruh penjuru dunia.
Fenomena pemberitaan terorisme konyol ini justru menjadi tujuan dari teroris itu yang untungnya tidak menelan korban jiwa. Semakin banyak media yang meliput, semakin besar dampak yang akan dirasakan, semakin meluas “teror” karena banyak pemirsa yang dengan “ngeri” melihat berita itu.
Dapat kita lihat kasus pengemboman di Katedral Makassar pada Minggu (28/3) jam 10.30, berbondong-bondong media dalam maupun luar negeri memberitakan kasus itu. Jagad dunia maya gempar dengan terorisme yang terjadi lagi di Indonesia, semenjak pengeboman di Surabaya tahun 2018 yang lalu.
Saya masih ingat penjelasan Rohan Gunaratna, profesor kajian keamanan di RSIS, Nanyang Technological University, Singapura, kepada saya ketika berkunjung di rumahnya pada tahun 2018 silam. Ia memberitahu perbedaan antara kriminalitas dan terorisme, dimana kriminal memiliki tujuan yang bersifat ekonomis, sementara teroris mempunyai motif politik, namun keduanya sama-sama melanggar hak orang lain dengan kekerasan.
Karena bermotif politik, entah untuk menggaungkan ideologi politiknya sendiri atau untuk memenangkan kepentingan politik kelompoknya, teroris membutuhkan sarana untuk menggemakan tindakan yang dia lakukan. Media massa, baik koran, media daring, televisi, radio dan semua media yang memberitakan atau menyiarkan peristiwa itu justru menjadi alat sang teroris itu sendiri.
Adapun sang teroris tidak perlu susah payah untuk mengundang para wartawan, penyiar, jurnalis, reporter atau apapun sebutan bagi mereka yang mewartakan kejadian itu. Para pewarta itu akan datang sendirinya karena bagi mereka, tindak terorisme adalah peristiwa penting yang bisa menjadi “berita”, seperti pepatah lawas, bad news is a good news.
Sementara itu, teroris sendiri memiliki dua sasaran: penduduk sipil yang berada di tempat dimana ia melakukan tindak terorisme dan para pemirsa. Kedua sasaran ini saling berkaitan, semakin besar korban jiwa dan korban luka dari tindak terorisme, maka semakin menakutkan perasaan yang akan dirasakan para pemirsanya. Siapakah yang membantu menyampaikan pada para penonton ini? Media lagi pastinya.
Salah satu yang memberi nama “Taliban” kepada kelompok yang nantinya menggunakan nama “Emirat Islam Afghanistan” adalah media massa juga, nama yang akan melekat bahkan digunakan secara “resmi” oleh Pemerintah Amerika Serikat ketika menandatangani perjanjian damai dengan “Taliban” itu sendiri.
Jika tidak membuat-buat nama untuk para teroris itu, media juga membantu membuat memperkenalkan nama mereka, semisal “Jamaah Ansharut Daulah”; “Jamaah Islamiyah”; “Jamaah Ansharut Tauhid”; “Irish Republican Army”; “Tamil Tigers”; “Lord’s Resistance Army”; “Wirathu” dan “Tatmadaw”.
Selain membuat atau memperkenalkan nama-nama kelompok teroris itu, media juga seringkali membuat serangkaian linimasa sejarah tindak teroris dari kelompok-kelompok tersebut. Hal ini membuat mereka semakin “beken” dan mungkin saja semakin termotivasi untuk melakukan tindak terorisme untuk menambahkan “capaian” mereka dalam “curriculum vitae” yang dibuatkan oleh media massa.
Bahayanya adalah jangan-jangan “curriculum vitae” itu justru dibuat perbandingan oleh kelompok teroris untuk bersaing sebanyak-banyaknya melakukan tindak terorisme, kultur kompetisi antara satu grup dengan lainnya mungkin juga ada di ranah terorisme. Akhirnya karena tidak mau kalah, kekerasan justru terjadi di antara para teroris itu karena persaingan mereka yang tidak sekedar di balot suara, tapi di medan perang dan tempat umum.
Akibat pemberitaan, para teroris akan melakukan penilaian terhadap “kinerja” kawannya yang “berhasil” atau “gagal” dengan melihat pemberitaan di media. Apabila berita itu bernuansa ketakutan, maka kawan seperjuangannya akan dianggap “berhasil” dan metodenya akan terus diduplikasi. Memang kenapa bom bunuh diri marak di Indonesia? Karena beritanya masif sekali ketika ada bom bunuh diri. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi