Menu

Mode Gelap

Kempalanart · 28 Mar 2021 11:25 WIB ·

Empat Rekomendasi Buku Fiksi Bernuansa Timur Tengah


					Empat Rekomendasi Buku Fiksi Bernuansa Timur Tengah Perbesar

KEMPALAN: Buku fiksi tidak selalu berupa novel dengan narasi panjang dan memuat kisah-kisah yang terlalu sendu, adakalanya karya fiksi berisikan cerita-cerita pendek yang lucu namun memiliki makna dibaliknya, menyenangkan sekaligus menenangkan.

Kisah semacam itu banyak ditemukan di kumpulan cerita di dunia Timur Tengah atau wilayah Muslim lainnya yang memuat berbagai nama yang tidak asing ketika membacanya. Tiap kisah memiliki kedekatan dengan kehidupan sehari-hari sehingga cocok menjadi hiburan pelipur lara, berikut adalah buku-buku fiksi yang cocok mengisi waktu luang di weekend:

  1. Kisah 1001 Malam (Arabian Nights)

Tak ada yang tahu pasti siapakah yang menuliskan kisah 1001 malam, namun kumpulan cerita ini sangatlah fenomenal dan selalu dikaitkan dengan dunia Muslim dan Timur Tengah. Seperti judulnya, 1001 Malam mengisahkan tentang Syahrazad, gadis pandai yang merupakan anak seorang wazir dari seorang raja yang dikhianati istrinya.

Kebencian sang raja terhadap istrinya menjadikannya benci seluruh perempuan yang ada dan berusaha membunuh tiap perempuan dengan menikahinya di siang hari dan membunuhnya di malam hari, hingga tiba saatnya Syahrazad yang meminta pada ayahnya untuk dinikahkan guna menceritakan 1001 Malam untuk menunda kematiannya.

Kisah dalam buku ini sangat menarik selain karena ada amanah di dalamnya, tapi juga dipenuhi dengan kisah bersambung dimana di dalamnya ada kisah di dalam kisah yang terkadang berada di dalam kisah lainnya.

  1. Nasruddin Hodja: Kumpulan Humor

Nama Nasruddin Hodja bukanlah nama yang asing di Turki dan sekitanya, seorang Kadi (Hakim) di daerah Aksehir yang hidupnya miskin sekali sehingga terkadang suka membuat lelucon untuk melipur lara di dunia.

Buku Nasruddin Hodja ini seperti kumpulan cerita mengenai orang tersebut dari sudut pandang orang lain, mungkin para penduduk yang hidup di masa sang Kadi itu. Ia memiliki kebijaksanaan yang luar biasa bahkan terkadang dianggap aneh dan konyol, namun sang Hodja senantiasa mengajarkan kita nilai-nilai keislaman yang baik melalui cara yang tidak umum.

Kehebatan lain dari buku ini adalah permainan kata dari sang Hodja yang sangat masuk akal dan sarat akan satire terhadap penguasa. Kesederhanaan hidupnya yang berbatasan dengan kemiskinan juga memperlihatkan dimensi sufistik dari kumpulan cerita humor ini yang pertama kali dibukukan pada tahun 1571 dan berisi lebih dari 200 kisah.

  1. Kalila wa Dimna

 

Buku ini lebih memiliki genre khusus, yakni kumpulan fabel yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada masa Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Bagdad oleh Abdullan bin al-Muqaffa. Kisah ini awalnya ditulis oleh Bebda, orang pintar dari India yang menuliskannya untuk Debshleem, raja di India.

Fabel ini memuat banyak kisah yang pastinya digambarkan melalui hewan-hewan namun mewakili tindakan manusia, terutama hubungan antara raja dan masyarakatnya. Bahkan Raja Khosrau I dari Persia meminta dokternya, Borzuya untuk pergi ke India guna menyalinnya dalam bahasa Persia.

Buku ini berisikan 15 bab yang mana para pemerannya adalah hewan dengan karakteristik manusia, sementara nama Kalila dan Dimna adalah nama dua anjing yang juga tertera dalam buku itu. Bebda sendiri menganggap bahwa cerita-cerita itu berisikan amanah yang penting bagi raja. Sampai sekarang Kalila wa Dimna masih menjadi karya sastra yang banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

  1. Layla Majnun

Judul buku ini sangat terkenal di dunia Arab mengenai penyair Qays bin al-Mulawwah dan cintanya, Layla binti Mahdi. Kisah ini disusun oleh penyair ternama dari Persia, Nizami Ganjavi pada tahun 1188. Berbeda dengan tiga buku sebelumnya yang lebih menekankan kepada humor, buku ini bernuansa lebih seperti roman percintaan.

Diawali dengan percintaan Layla dan Qays ketika masih muda, saat dewasa keduanya tak bisa bersama dan Qays menjadi sangat terobsesi dengan Layla sehingga dianggap oleh Bani Amir sebagai orang gila (majnun). Meskipun memiliki nuansa percintaan yang kuat, namun tetap dipenuhi dengan anekdot seperti buku sebelum-sebelumnya.

Nizami Ganjavi sendiri hidup di wilayah Ganja yang merupakan bagian dari Kesultanan Seljuk. Wilayah itu sekarang masuk ke wilayah Azerbaijan. Kota itu didominasi oleh penduduk Iran dan menajdi pusat kebudayaan dari Kekhanan Ganja yang sempat dicaplok oleh Kekaisaran Rusia. (*)

Artikel ini telah dibaca 681 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Pembibitan Anggrek UBAYA Hadiahkan Anggrek Bulan kepada Ketua TP PKK Jatim

1 Juli 2022 - 05:22 WIB

“Berkepribadian dalam Kebudayaan” Ganjar Ingatkan Pesan Bung Karno di Pentas Tari dan Musik Bulan Bung Karno

28 Juni 2022 - 05:01 WIB

Ragam Karya Mahasiswa Desain Fashion dan Tekstil UK Petra di Innofashion Show 4

25 Juni 2022 - 18:08 WIB

Multi Semesta yang Semakin Trending, Absurd dan Membingungkan

25 Juni 2022 - 11:06 WIB

Gubernur Khofifah: Desa Wisata Aeng Tong-Tong Sumenep, Warisan UNESCO dengan Mpu Keris Terbanyak di Dunia

23 Juni 2022 - 12:45 WIB

Furniture in The Post Pandemic Area, Pamerkan Karya Mahasiswa Desain Interior UK Petra

22 Juni 2022 - 14:37 WIB

Trending di Kempalanart