WASHINGTON-KEMPALAN: Pada Selasa (23/3), Presiden AS Joe Biden menyerukan larangan nasional terhadap senjata api setelah terjadi penembakan di Boulder, Colorado yang menewaskan 10 orang, termasuk seorang perwira polisi.
“Saya tidak perlu menunggu satu menit, apalagi satu jam, untuk mengambil langkah-langkah yang masuk akal untuk menyelamatkan nyawa,” ujar Joe Biden di Gedung Putih. Ia mendesak anggota DPR dan Senat AS untuk segera bertindak.
“Kami dapat melarang senjata serbu dan magasin berkapasitas tinggi,” kata Biden, mencatat bahwa dia mengerjakan undang-undang serupa ketika dia, dirinya sendiri adalah seorang senator dan ketua Komite Kehakiman Senat. Undang-undang itu disahkan pada tahun 1994, tetapi dibiarkan berakhir 10 tahun kemudian.
Biden juga meminta Senat untuk mengeluarkan tindakan yang sudah disahkan oleh DPR yang akan menutup celah dalam undang-undang yang membutuhkan pemeriksaan latar belakang atas pembelian senjata. Komite kehakiman Senat mengadakan hearing Selasa (23/3) dengan tajuk “Langkah Konstitusional dan Masuk Akal untuk Mengurangi Kekerasan Senjata”yang merupakan pertama dari serangkaian hearing untuk membicarakan cara mengurangi kekerasan bersenjata.
Penembakan Colorado
Polisi di kota Boulder, Colorado, AS, mengatakan 10 orang tewas Senin (22/3) dalam penembakan di toko bahan makanan, King Soopers Market yang dimulai pada jam 14.30. Kepala Polisi Boulder Maris Herold mengatakan korban tewas termasuk petugas Eric Talley, yang pertama tiba di tempat kejadian setelah laporan tembakan. Herold menyebut tindakan Talley “heroik”.

Herold mengatakan kepada wartawan pada pengarahan malam hari bahwa satu tersangka ditahan, dan penyelidikan penembakan diperkirakan akan memakan waktu setidaknya lima hari. Sementara itu upaya untuk mengidentifikasi korban lainnya dan mengabarkan kepada para keluarganya sedang dilakukan.
Jaksa Michael Dougherty mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk berspekulasi tentang motif serangan itu. Ia menjanjikan keadilan kepada penduduk Colorado dan berusaha semampu mungkin untuk menegakkan keadilan.
“Orang-orang ini menjalani hari mereka, berbelanja makanan, dan hidup mereka tiba-tiba terputus dan tragisnya singkat oleh penembak yang sekarang ditahan,” kata Dougherty seperti yang dikutip Kempalan dari Voice of America.
Menurut BBC, Penjabat Jaksa Wilayah AS Michael Dougherty menekankan penyelidikan itu “dalam tahap awal” tetapi Ahmad Al Aliwi Al Issa (Alissa) yang berumur 21 tahun, adalah satu-satunya tersangka yang terlibat. Dia mengatakan bahwa Tuan Al Issa berasal dari Arvada, Colorado, dan telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di AS. Pernyataan tertulis usai penangkapan mengatakan basis data penegakan hukum menunjukkan Alissa membeli pistol Ruger AR-556, senjata yang menyerupai senapan semi-otomatis dan memiliki kapasitas 30 peluru, pada 16 Maret, enam hari sebelum penembakan.

Kakak iparnya mengatakan kepada polisi pada Senin (22/3) malam bahwa Alissa telah “bermain dengan” senjata api yang dia gambarkan menyerupai “senapan mesin” dua hari sebelum serangan itu, membuat marah anggota keluarga, kata pernyataan tertulis yang dikutip Kempalan dari Inforum.
Saksi mata mengatakan tersangka bersenjata senapan. Sumber polisi yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada media AS bahwa itu adalah senapan gaya AR-15, senjata semi-otomatis yang telah digunakan dalam beberapa penembakan massal di seluruh AS.
Seminggu sebelumnya telah terjadi penembakan delapan orang di tiga tempat wilayah pijat di Atlanta dan menjadi pembunuhan massal ketujuh tahun ini di Amerika Serikat. (VOA/BBC/Inforum, rez)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi