Ini Tiga Tanda Anda Diduga Menderita TBC
SURABAYA–KEMPALAN: Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan membuat masyarakat takut memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan. Banyak dampaknya, termasuk seseorang yang memiliki gejala tuberculosis (TBC) menjadi tidak terdeteksi.
Pakar epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr. M. Atoillah Isfandiari, dr., M.Kes mengatakan terdapat tiga gejala penting TBC yang perlu diketahui dan diwaspadai oleh seluruh masyarakat.
Yang pertama jika seseorang mengalami penurunan nafsu makan secara drastis. Kemudian diikuti dengan penurunan berat badan secara drastis pula dan biasanya mengalami penurunan sebanyak tiga kilogram dalam sebulan. Gejala terakhir yaitu mengalami keringat dingin pada malam hari.
“Jadi bukan satu gejala muncul maka langsung diindikasikan TBC, tetapi ketika serangkaian tiga gejala itu muncul baru dapat dicurigai seseorang menderita TBC,” paparnya pada Selasa (23/3).
Adapun pencegahan resiko tertular TBC, Wakil Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair Surabaya itu menjabarkan beberapa hal. Yang pertama menciptakan lingkungan yang sehat, memperhatikan jumlah ventilasi, paparan sinar matahari harus didapatkan dalam jumlah cukup dan perlu adanya sirkulasi udara yang baik. Asupan nutrisi, lanjut dr. Ato, juga perlu diperhatikan. “Seseorang dengan nutrisi yang kurang baik lebih mudah untuk tertular TBC,” katanya.
Menurut dr. Ato, pasien TBC saat ini mendapat kesulitan dalam mengambil obat karena pembatasan di fasilitas kesehatan dalam upaya mencegah penyebaran Covid-19. Dia mengingatkan keengganan pasien berobat ke faskes meningkatkan risiko ketidakpatuhan meminum obat dan mengakibatkan penderita menjadi resisten atau kebal terhadap obat.
“Jadi sebaiknya penderita TBC tetap rutin berobat ke fasilitas kesehatn dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” katanya.
Dia juga mengingatkan tenaga kesehatan untuk meningkatkan kewaspadaan. Hal ini terkait pemeriksaan dahak karena terdapat ancaman tertular TBC dan juga berisiko tertular Covid-19. “Pelayanan TBC ini tidak boleh kendor, karena kurang lebih dampak yang ditimbulkan TBC dari aspek mortalitasnya itu hampir tinggi. Mungkin Covid-19 penularannya lebih cepat namun mortalitas (jumlah kematian, Red) akibat TBC itu juga termasuk tinggi,” jelasnya.
Hari ini diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia dengan mengusung tema The Clock is Ticking. Merujuk tema tersebut, Indonesia mengambil tema nasional “Setiap Detik Berharga, Selamatkan Bangsa dari Tuberkulosis”. Melalui peringatan Hari TBC Sedunia, dr. Ato berharap stigma pada penderita dapat segera dihilangkan dari masyarakat, pelayanan serta kebutuhan logistik TBC juga perlu mendapat perhatian agar kepatuhan meminum obat bagi penderita TBC terjamin. “Edukasi tentang risiko penularan TBC yang berhubungan dengan lingkungan rumah juga perlu dioptimalkan,” tutupnya. (nani mashita)

