Senin, 9 Februari 2026, pukul : 18:15 WIB
Surabaya
--°C

Generasi Emas dan Generasi Kaleng Stikosa-AWS

KEMPALAN: Budi “Uglu” Sugiharto, wartawan senior yang wafat karena Covid 19 Selasa (16/3) adalah bagian dari generasi emas Stikosa-AWS, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi jelmaan dari Akademi Wartawan Surabaya yang berdiri pada 1964.

Setiap zaman ada orangnya dan setiap orang ada zamannya. Pertengahan 1990-an menjelang milenium kedua tahun 2000, dunia media sudah mulai memasuki era baru yang oleh Rhenald Kasali disebut sebagai the great disruption, guncangan besar. Teknologi informasi sudah mulai meluas pemakaiannya di Indonesia dan jaringan internet sudah semakin luas dan mudah diakses.

Pada waktu itu di Surabaya terjadi persaingan media yang ketat antara petahana Surabaya Post melawan  pendatang baru Jawa Pos. Surabaya Post yang menjadi market leader sejak 1970an sebagai koran sore terguncang oleh perubahan pola baca masyarakat karena kehadiran televisi. Semula masyarakat membaca koran di sore hari tapi kemudian berubah menjadi pagi hari.

Perubahan ini antara lain karena munculnya televisi berita yang bisa membuat liputan breaking news secara real time.

Perubahan pola konsumsi media ini dieksploitasi secara agresif oleh Jawa Pos yang terbit pagi, sehingga praktis sejak pertengahan 1990an Jawa Pos merebut posisi market leader dari Surabaya Post. Setelah Surabaya Post berhenti terbit pada awal 2000 maka Jawa Pos kemudian menjadi market leader dominan.

Ketika terjadi disrupsi besar krisis moneter 1998 Jawa Pos terguncang tapi berhasil lolos dengan inovasi produk dan pengetatan manajemen. Bersamaan dengan itu pada 1998 lahirlah Detik.com sebagai media digital pertama di Indonesia. Pola konsumsi media masih didominasi oleh media cetak. Tapi pelan namun pasti generasi baru mulai lahir dan sejarah baru dimulai.

Bersama Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa

Uglu yang dididik sebagai wartawan dan fotografer cetak cepat mampu melakukan transformasi dengan cepat dan beralih menggeluti jurnalisme online bersama Detik.com yang didirikan antara lain oleh Budiono Darsono, kakak kandung Uglu.

Belakangan Budiono meninggalkan Detik.com dan mendirikan Kumparan.com. Uglu mengikuti jejak kakaknya dan mendirikan media online Jatimnow.com yang dalam waktu singkat menjadi salah satu media online berpengaruh di Jawa Timur.

Uglu masuk ke Stikosa-AWS pada 1993. Generasi awal 1990an itu melahirkan banyak sekali alumnus  yang berprestasi bagus dan bisa disebut sebagai generasi emas. Alumnus Stikosa-AWS generasi itu masuk di industri media besar baik cetak, broadcast, maupun digital, dan juga masuk ke lembaga regulator penyiaran seperti KPI (Komisi Penyiaran Indonesia).

Selain Uglu, generasi emas Stikosa-AWS juga melahirkan Sapto Anggoro yang mendirikan Tirto.id, salah satu media digital terkemuka Indonesia. Di industri cetak ada  beberapa nama dari generasi yang lebih muda seperti Abdul Manan, wartawan Tempo yang sekarang menjadi ketua AJI (Aliansi Jurnalis Independen) pusat.

Di dunia regulator media Stikosa-AWS melahirkan Fajar Arifianto Isnugroho yang menjadi ketua KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) Jatim periode 2010-2013, yang kemudian pada periode berikutnya Fajar menjadi anggota KPI pusat.

Di dunia pendidikan generasi emas melahirkan Bob Priambodo yang menjadi jurnalis internasional bersama Kantor Berita Antara dan kemudian menjadi direktur eksekutif di Lembaga Pers Dr. Soetomo, Jakarta. Di dunia
politik generasi emas melahirkan Saifuddin “Sefdin” Alamsyah yang sekarang menjadi staf khusus ketua DPD (Dewan Perwakilan Daerah) La Nyalla Mattalitti.

Alumni Stikosa-AWS menggelar doa untuk Budi “Uglu” Sugiharto

Di media cetak regional dan nasional Stikosa-AWS generasi 1990an tak terhitung melahirkan jurnalis tangguh yang menyebar di berbagai penerbitan termasuk dua penerbitan konglomerasi Jawa Pos Group maupun Kompas-Gramedia.

Pada era 2010 dunia media berubah total dengan diperkenalkannya teknologi Android dan produk Iphone mulai merambah pasar dunia. Penggunaan internet semakin meluas dan pola konsumsi media berubah drastis. Media arus utama terutama cetak dan broadcast kalang kabut terkena serbuan media sosial yang membawa tsunami informasi dahsyat. Disrupsi besar ini membunuh media-media cetak dan mengancam media broadcast. Transformasi digital dan konvergensi lintas plarform menjadi keniscayaan jika media mau menyintas dan berkembang.

Stikosa-AWS di bawah kepemimpinan Dr Ismoyo Herdono menghadapi era disrupsi besar itu dengan berbagai inovasi manajemen pendidikan dan melakukan upgrading terhadap kualitas dosen pengajar. Kepemimpinan Ismoyo yang punya pengalaman ekstensif di dunia televisi mencatat sejarah dengan melahirkan empat orang doktor yang menjadi dosen tetap di Stikosa-AWS.

Dua periode kepemimpinan Ismoyo berakhir pada 2019. Sekarang Stikosa-AWS berada pada kendali kepemimpinan akademik dan yayasan baru. Bersamaan dengan transisi itu muncul pandemi Covid 19 yang melumpuhkan semua sektor kehidupan termasuk pendidikan tinggi.

Stikosa-AWS termasuk yang menjadi korban. Jumlah mahasiswa baru yang tidak mencapai 20 orang, dan aktivitas perkuliahan yang  dilakukan secara daring, membuat kampus–kata seorang mahasiswa–seperti kuburan. Kepemimpinan baru tidak berhasil melakukan konsolidasi internal sehingga makin membuat sulit masa transisi. Selain mahasiswa sepi, banyak dosen-dosen pemegang posisi strategis yang mengundurkan diri. Empat doktor yang dihasilkan oleh kepemimpinan Ismoyo mengundurkan diri dari Stikosa-AWS.

Kepemimpinan akademik Stikosa-AWS dan yayasan tidak diisi oleh orang-orang yang berkompeten, kemampuan mereka untuk menghadapi era disrupsi besar ini sangat meragukan.

Generasi emas Uglu dan kawan-kawan telah mengharumkan nama almamater. Jangan sampai sekarang Stikosa-AWS melahirkan generasi kaleng, karena kepemimpinan yang diisi oleh manusia kaleng-kaleng. (dad)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.