KEMPALAN: Sudah dua bulan terakhir ini hati Alibin Sarman Saragih berbunga-bunga. Sebab, sebatang Begonia Rex Bambu berusia 5 bulan yang dimilikinya, memiliki kelainan khusus.
Warna daunnya merah marun. Kesannya sangat cantik dan berkesan seksi. Ini berbeda jauh dengan Begonia Rex Bambu pada umumnya yang memiliki kombinasi warna merah dan hijau.
Alibin mengaku baru mengetahui kelainan Begonianya sejak 2 bulan yang lalu. “Secara tidak sengaja saya baru tahu kelainannya, ketika sedang menyiraminya,” cerita Alibin di kebun Begonianya yang seluas 225 meter persegi di Desa Tongkoh, Kecamatan Dolat Rayat, Kabupaten Karo (Sumatera Utara).
Sejak itu pula dia memberikan perhatian ekstra atas tanaman hiasnya tersebut. “Saya mendapatkannya dengan cara stek batang. Indukannya memiliki daun yang normal. Warnanya juga sesuai Rex Bambu pada umumnya,” kenang Alibin.
Lelaki 37 tahun ini tidak tahu, mengapa sebatang Rex Bambunya mengalami perubahan warna. Dia pun tak melakukan perlakuan khusus agar terjadi perubahan warna terhadap Begonia koleksinya.
“Frekuensi penyiramannya sama seperti koleksi yang lainnya. Begitu pula penempatannya sama saja di paranet gelap,” jelas Alibin.
Kini Rex Bambu istimewanya tersebut ‘disembunyikan’ oleh Alibin. Alasannya sederhana. “Saya penasaran, apakah warnanya bakal bertahan sehingga siap menjadi indukan. Sekaligus menurunkan karakter yang sama kepada anak-anaknya,” sambung Alibin.
Itu pula sebabnya dia tidak berniat menjual Rex Bambu mutasi warnanya yang kini memiliki 15 daun tersebut. “Saya simpan dulu sebagai indukan,” alasannya.
Rex Bambu sendiri dikenal sebagai Begonia yang relatif mudah perawatannya. Harganya sekitar Rp 200 ribuan. “Kalau musim kemarau atau cuaca panas, ya harus disiram setiap hari,” papar Alibin. Kalau musim hujan, maksimal disiram dua kali dalam sepekan.
Alibin menambahkan, Rex Bambunya yang diduga kuat mengalami mutasi ini sepintas mirip Begonia Rex Lipstik yang memiliki warna dominan merah dengan kombinasi hijau muda di pinggir daunnya.
Mutasi Permanen

Sementara itu Moch Taufiq, pengelola komunitas akun Begonia Club di Facebook, berpendapat bahwa tanaman hias bisa disebut mengalami mutasi jika sudah menurunkan karakter yang sama kepada anak-anaknya.
“Kalau sudah teruji sifatnya menurun ke anak-anaknya, maka bisa disebut mutasi permanen,” ujar mantan jurnalis senior di Grup Jawa Pos ini.
Sementara itu Hengki Sembiring, pembudidaya Begonia di Desa Tongkoh, Kecamatan Dolat Rayat, Kabupaten Karo menambahkan, sangat kecil kemungkinan Begonia mengalami mutasi permanen. Selama menekuni budidaya Begonia sejak 5 tahun yang lalu, Begonia Hengki tidak pernah mengalami mutasi.
“Yang kerap terjadi adalah adanya perubahan warna daun yang disebabkan ekstra kelebihan atau ekstra kekurangan sinar matahari,” kata Hengki.
Di kawasan yang berhawa dingin seperti Tongkoh, lanjut Hengki, daun Begonia akan berwarna lebih nge-jreng. “Dibandingkan daerah berhawa sejuk atau panas, maka warna daun Begonia di Tongkoh lebih tampak keren. Karakter warnanya benar-benar hidup,” ucap dia. (moch taufiq)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi