Rabu, 10 Juni 2026, pukul : 16:02 WIB
Surabaya
--°C

Pamor Begonia yang Makin Meroket

KEMPALAN: Sudah tiga bulan terakhir ini Martalina Br Ginting makin sibuk. Bukan dalam kapasitas sebagai ibu rumahtangga, melainkan karena ‘panen’ tanaman hias berdaun cantik: Begonia.

Kalau orderan membanjir, maka  seharian penuh warga Desa Dolat Rayat Dusun 3 Tongkoh, Kecamatan Dolat Rayat, Kabupaten Karo (Sumatera Utara) itu dituntut menata Begonia sedemikian rupa, lantas mengemasnya untuk kemudian dikirim via kargo udara atau darat. “Mulai pagi hingga sore hari baru selesai ‘panen’, sekaligus packing-nya,” kata perempuan yang telah dikaruniai seorang anak ini.

Martalina biasa menjual Begonia berusia remaja hingga indukan. Harga remaja lebih dari Rp 100 ribu. Kalau indukan dibanderol mulai Rp 200 ribuan. “Semua harganya bergantung varian dan kondisi tanaman,” jelasnya.

Martalina mengakui permintaan Begonia makin meningkat sejak 5 bulan terakhir ini. Kondisi tersebut  juga dialami oleh ratusan orang petani Begonia di Tongkoh. “Berapa pun Begonia yang diproduksi pekebun di Tongkoh, selalu habis dibeli orang. Kami bahkan kekurangan stok produk yang siap jual, karena permintaan  dari konsumen yang makin meningkat,” tambah Hengki Sembiring, suami Martalina.

Tongkoh –berjarak 60 kilometer dari Medan– memang dikenal sebagai salah satu sentra tanaman hias di Sumatera Utara. Karena berada di dataran tinggi, maka Tongkoh sekaligus juga dikenal sebagai kawasan wisata berhawa dingin.

Pamor Tongkoh sebagai pusat tanaman hias makin meningkat pada 2002. “Hampir 50 persen penduduk di sini punya kebun bunga. Sebab, pada tahun itu permintaan tanaman hias ke Tongkoh, benar-benar melonjak, khususnya pettunia. Pengirimannya bukan hanya ke Sumatera Utara saja, melainkan tembus ke Aceh,” kenang Hengki.

Sesungguhnya, lanjut Hengki, sejak 1990  Tongkoh sudah memproduksi tanaman hias. Di antaranya cemara, dahlia, ester, dan mawar. Namun, pada 2004 bisnis tanaman hias di Tongkoh meredup, pasca Aceh dihantam tsunami.

Hengki dan istrinya sendiri baru berkebun tanaman hias sejak 2015. Pilihannya jatuh pada mawar dan anthurium bunga. Tetapi, setahun kemudian dia enggan membudidayakan mawar, lantaran kesulitan mengatasi penyakit rontok daun.

Demi mengembangkan bisnis tanaman hiasnya, maka sejak 2016 Martalina dan Hengki mulai menanam Begonia Escargot. Sekarang, dia punya 20 varian Begonia Rex.

Seiring perkembangan waktu, baru pada 2019 Martalina dan suaminya optimis, bahwa Begonia bakal meledak di pasaran.

Alasannya sederhana saja. “Daun Begonia sangat cantik. Bentuknya khas. Warnanya amat beragam,” jelas Martalina. “Lebih-lebih Begonia varian Rex,” sambung dia.

Tary Sinambela, pedagang besar Begonia  di Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang (Sumatera Utara) mengaku setiap pekan mengirim ratusan pot Begonia Rex ke berbagai kota di Indonesia. Harga yang dipatoknya mulai Rp 100 ribuan. “Bergantung jenis dan kondisi Begonianya. Semakin rimbun, tentu harganya makin mahal,” komentarnya. “Dan, kami sering kehabisan stok, lho,” sambung dia.

Hal tersebut juga diamini oleh Martalina. “Saya sering kehabisan stok, sehingga terpaksa menolak orderan,” ucapnya.

Berbagai varian Begonia Rex

Telaten dan Teliti

Bagi Hengki, budidaya Begonia hanya membutuhkan ketelatenan dan ketelitian. “Kami dituntut untuk mengetahui sifat dasarnya,” katanya.

Begonia, sambung Hengki, membutuhkan tanah humus. “Penempatannya harus terlindung dari panas dan hujan. Saya jarang memberinya pupuk,” katanya.

Menurut Hengki, lebih sulit berkebun Begonia dibandingkan stroberi.

Maklum, selama ini Hengki memang populer sebagai petani stroberi. “Saya sudah membudidayakan stroberi lebih dari 15 tahun yang lalu. Warga Tongkoh lebih dikenal sebagai petani stroberi,” tuturnya.

Walaupun Begonia Rex mempunyai prospek bisnis yang sangat cerah, namun Hengki tetap menggantungkan hidupnya dari stroberi. “Butuh waktu 6 bulan untuk panen Rex yang siap jual dengan harga mulai Rp 125 ribu per pot. Sementara itu panen stroberi lebih singkat,” alasannya.

Stroberi bisa dipanen sejak usia 3 bulan hingga 2 tahun. Hengki punya 8 ribu pohon stroberi di atas lahan 2.500 meter persegi. Dalam sepekan, dia sanggup menjual 60 kilogram stroberi.

Yang membelenggu hati Hengki dalam berkebun Begonia adalah cuaca ekstrim yang terjadi pada setiap  November dan Desember. Isi kebun mini Begonianya menjadi berantakan, karena panas dan hujan datang tanpa bisa diduga sebelumnya.

Tentang hal itu, Hengki justru berpendapat, Begonia lebih pas dibudidayakan di dataran rendah. “Untuk siap jual di dataran rendah, hanya memerlukan waktu 4 bulan saja,” ucap dia.

Sementara itu Moch Taufiq, pengelola komunitas Begonia Club, beranggapan prospek Begonia sangat cerah. “Ke depan, Begonia makin diminati banyak orang. Otomatis harganya makin meroket, karena stoknya memang terbatas. Tidak seimbang dengan volume permintaan pasarnya,” kata mantan jurnalis senior di Grup Jawa Pos ini. “Apalagi harganya relatif terjangkau untuk semua kalangan. Corak daunnya ‘ajaib’. Kombinasi warnanya sangat keren,” sambung dia.

Martalina punya strategi khusus agar seluruh Begonia yang dikirimnya tetap bugar hingga ke tangan konsumen di luar provinsi. “Sehari sebelum dikirim, Begonia sama sekali tidak boleh tersentuh air. Agar media tanamnya tidak merusak akarnya,” alasannya.

Kini, Begonia Rex varian Ice Cream, Red Robin, dan Pink Lady yang dibudidayakan petani di Tongkoh, paling banyak diminati pasar. “Namun, pasokannya terbatas,” kata Martalina. (moch taufik)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.