KEMPALAN: Seorang ibu tersedu-sedu menangisi suaminya yang meninggal. Pentakziyah menenangkan sang ibu.
“Saya menyesal,” kata si ibu. “Selama suami saya hidup saya larang dia merokok, saya cegah dia minum kopi, tidak boleh makan jeroan, minum air putih, minum teh tidak pakai gula, tapi sekarag dia mati ketabrak truk…”
Sebagian pentakziyah ada yang menahan tawa. Bukan karena menertawakan kematian, tapi merasakan ironi yang getir tapi kadang lucu mengenai hidup dan kematian. Di saat musim pandemi seperti sekarang cerita kematian muncul setiap saat. Dalam dua hari terakhir dua wartawan senior di Jawa Timur meninggal dunia. Mereka sudah mendapatkan perawatan standar yang baik tapi penyakit komorbid yang menyertai mereka tidak kenal kompromi dan merenggut nyawa dalam beberapa hari.
Seorang teman yang meninggal itu jagoan makan enak. Tiap hari dia meneror teman-temannya melalui unggahan di medsos memamerkan pesta duren. Tidak ada hari tanpa makan duren. Di pinggir jalan, di pasar, di rumah, di lapak, di toko buah, di mana-mana. Pokoknya dia tidak boleh lihat duren lewat atau melewati duren, pasti tiga atau empat buah akan dia santap sampai licin tandas.
Itu belum cukup. Masih ada sate kambing, masih ada seafood, ada lobster, udang, kepiting, cumi-cumi. Semua masuk. Betapa nikmatnya hidup.
Gaya hidup koboi tidak menjamin umur panjang atau pendek. Sama saja dengan gaya hidup bersih sang bapak yang tidak ngopi, tidak merokok, tidak minum gula, tapi mati juga karena ketabrak truk. Ngopi dan rokok adalah simbol kelaki-lakian. Begitu kata budayawan Emha Ainun Nadjib. Laki-laki yang tidak merokok dan tidan mengopi “kurang lanange”, kurang kelelakiannya, kurang macho. “Laki-laki kok tidak merokok, tidak minum kopi, minumnya air putih, kalau lihat perempuan tidak suit-suit, tidak pernah punya rambut gondrong…lalu buat apa jadi lelaki?” Begitu Cak Nun.
Tentu saja ini guyonan khas Cak Nun sekaligus upayanya untuk memberikan self legitimation bagi dirinya sendiri. Sampai sekarang Cak Nun masih merokok dan minum kopi. Rambutnya gondrong sejak muda. Tapi mungkin sekarang sudah tidak suit-suit lagi ketika ada cewek lewat, karena takut pada Mbak Fia. Di usianya yang mendekati 70 tahun Cak Nun masih sehat dan tetap enerjik seperti 30 tahun yang lalu. Masih tetap memberi pegajian sampai subuh. Kalau orang normal matanya redup setelah tengah malam, Cak Nun malah makin padang, terang matanya, seiring dengan semakin terangnya bulan dini hari. Mungkin itu sebabnya pengajian Cak Nun diberi nama Padang Bulan.
Gaya hidup dan umur tidak berkorelasi. Saya empat bersaudara laki-laki. Semua hidup sehat dan rajin berolahraga tiap hari. Makan sehat dan hidup teratur. Kakak mbarep meninggal dunia setelah main tenis. Kakak kedua meninggal ketika mengikuti lomba maraton 10K. Adik meninggal ketika bersepeda 50 kilometer PP. Semuanya meninggal karena serangan jantung dan tidak melewati umur 60 tahun.
Jantung adalah penyakit pembunuh utama manusia modern. Begitu kata para ahli kedokteran. Tapi tidak kata Prof Jared Diamond, ahli geografi dan pakar evolusi biologi dari Universitas California, Amerika Serikat. Penyakit utama yang menjadi musuh utama manusia modern adalah gaya hidup atau lifestyle gaya Barat.
Prof Diamond melanglang buana ke hutan-hutan di Afrika dan Asia. Ia hidup di pedalaman Papua selama puluhan tahun sejak 1970-an. Ia hafal semua sudut hutan Papua Indonesia dan Papua Nugini, paham puluhan bahasa lokal, dan mencicipi makanan lokal termasuk puluhan jenis jamur.
Prof Diamond menyaksikan perang dan permusuhan antar suku yang mengakibatkan kematian. Ia melihat suku-suku mati karena penyakit. Ia melihat suku-suku itu berinteraksi dan bernegosiasi. Ia menjadi saksi dua dunia yang sangat bertolak belakang. Dunia serba modern di kampung halamannya di California dan kampung suku-suku pedalaman di pegunungan Papua.
Prof Diamond menuangkan petualangannya dalam buku menarik “The World until Yesterday” (2012). Ia memberi ilustrasi yang unik mengenai perbedaan pemandangan di bandara California dan bandara Port Moresby. Pada 1970-an ketika ia mencapai Port Moresby dari Australia ia melihat orang lalu-lalang tidak terlalu banyak dan tidak tergesa-gesa. Tubuh para lelaki Papua ramping, tangan dan bahu kekar, lingkar perut rata, dan kaki yang kokoh. Gigi mereka kuat dan ada warna kemerahan sisa menginang sirih. Mereka mengobrol dan tertawa-tawa saling menyapa.
Pemandangan yang kontras terjadi di California. Manusia berjubel-jubel berjalan tergesa-gesa tidak saling berbicara. Mata terlihat lelah disembunyikan di balik kacamata gelap. Badan gemuk, jalannya berat, lingkar perut membuncit, dan kaki goyah tidak mampu menahan berat badan yang tidak proporsional.
Di California pembunuh utama manusia adalah penyakit-penyakit degeneratif seperti jantung, ginjal, dan diabetes. Kematian oleh senjata api dan kejahatan jalanan cukup tinggi karena kepemilikan senjata api dan angka kriminalitas yang cukup tinggi. Keecelakaan di jalan raya juga menjadi penyumbang kematian yang cukup tinggi.
Sebaliknya di masyarakat tradisional suku-suku di Papua angka kematian karena penyakit sangat rendah. Orang lebih berisiko mati karena tersambar halilintar daripada kena penyakit jantung. Masyarakat Papua lebih rentan mati karena tertimpa pohon daripada mati karena diabetes. Orang Papua ada yang mati karena perang antar-suku yang terjadi tiap tahun, tapi jumlahnya hanya beberapa orang saja. Perang suku di Papua dilakukan satu melawan satu atau sekelompok melawan kelompok lain yang saling mengenal. Tidak ada perang yang sampai mematikan seluruh anggota suku.
Kira-kira 30 tahun kemudian Prof Diamond memberi gambaran yang sangat berbeda. Pemandangan di bandara California tidak banyak beda dengan di Port Moresby. Orang-orang gemuk lalu-lalang dengan lingkar perut membundar dan kaki goyah keberatan beban. Makin jarang orang menginang dan makin banyak yang merokok.
Kematian orang-orang di pedalaman lebih banyak diakibatkan oleh jantung dan diabetes daripada oleh perang suku atau kejatuhan pohon di hutan. Masyarakat Papua menjadi berubah dalam tigapuluh tahun.
Apa yang membuat perubahan itu? Apa yang membuat masyarakat Papua yang dulu sehat sekarang sakit-sakitan? Jared Diamond menemukan jawabannya. Ternyata penyebabnya ada dua, yaitu gula dan garam yang dibawa orang kulit putih dan diperkenalkan kepada masyarakat Papua.
Dalam waktu singkat garam dan gula menjadi bagian gaya hidup. Makanan yang dulu diambil dari hutan dan dimakan segar sekarang dimasak dengan garam dan disimpan dalam lemari es. Minuman yang dulu asli dari mata air pegunungan sekarang dicampuri kopi dan gula.
Itulah yang menjadi pembunuh paling berbahaya bagi suku pedalaman Papua. Modernitas yang dibawa oleh orang kulit putih Eropa membawa kemakmuran dan sekaligus bencana. Manusia modern serba mudah hidupnya, serba kurang geraknya karena semua disediakan oleh tekonologi modern. Tapi modernitas itu pula yang menjadi sumber kematian. Globalisasi membuat seluruh dunia terkoneksi menjadi satu, demikian juga manusia Papua.
Bersamaan dengan itu globalisasi juga membawa penyakit global seperti Covid 19 ini.
Itulah pilihan hidup antara modernitas dan tradisionalitas. Risiko ditanggung penumpang, mau mati karena jantung atau ketiban kayu di hutan. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi