Senin, 9 Februari 2026, pukul : 09:21 WIB
Surabaya
--°C

Fenomena Kompol Yuni dan Spirit Pencerahan yang Pudar

KEMPALAN: Kemarin (18/2) muncul fenomena baru yang mendera kepolisian Republik Indonesia. Seorang Kapolsek perempuan memimpin anak buahnya melakukan “pesta” narkoba dan terciduk berbarengan. Ia dalah Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi (Kempalan.com, Kamis (18/2)).

Ini menjadi tantangan baru bagi Kapolri baru Listyo Sigit Prabowo. Narkoba ini bukan hal main-main lagi, tapi sudah menggerogoti jantung kepolisian sehingga seorang Kapolsek tega-teganya memimpin dua belas anak buahnya untuk mengonsumsi narkoba bareng. Namun memang seperti diungkap oleh Ketua Presidium IPW, Neta S. Pane melihat kasus polisi terlibat narkoba selalu berulang

Namun apa yang dilakukan Kompol Yuni itu hanyalah a tip of iceberg. Ia hanyalah ujung dari sebuah puncak gunung es yang nampak di permukaan laut. Padahal hal yang serupa itu yang lebih besar dan dahsyat tidak nampak di permukaan.

Iceberg itu seperti digambakan tentang bagaimana adanya mafia di kepolisian, mafia di pengadilan; oligarki kekuasaan jahat yang selama ini diungkapkan para pakar di media sebagai musuh bersama yang tengah mengelilingi, untuk menghindari kata menguasai, the big boss.

Apakah ini hal yang wajar? Bagaimana kemudian menjelaskan hal ini? Sebuah tatanan sosisal yang rusak, corrupt.

Hancurnya Peradaban Manusia

Saya jadi teringat dengan sebuah deskripsi yang disampaikan oleh Robert Payne dalam bukunya The Corrupt Society: From Ancient Greece to Present-day America yang terbit 1 November, 1975. Buku kesekian Payne ini dimaksudkan sebagai anatomi korupsi sosial dari Zaman Periclean hingga pemerintahan Nixon.

Dalam masyarakat yang korup, Payne memulai dengan ilustrasi deskriptif yang seram, pada bagian awal bukunya, tentang “kerusakan” atau pembusukan tubuh manusia setelah kematian. Pembusukan ini mejalar perlahan-lahan ke seluruh tubuh. Ini menjadi metafora tentang tubuh politik untuk menjelaskan proses disintegrasi sosial. Ada daftar panjang dari “gejala” pembusukan sosial, Tindakan kerusakan/corrupt oleh anggota masyarakat akan membawa pembusukan yang menular ke seluruh organ tubuh.

Kita postulatkan yang dialami masyarakat yang corrupt itu itu berawal dari bandar narkoba. Bandar narkoba menularkan pembusukan dengan penyebaran narkoba. Dan pembusukan itu pun telah menjalar dalam kepolisian kita. Dan kini telah nampak pertama kali ada serombongan polisi ditangkap karena terlibat narkoba dan “pesta” narkoba itu dipimpin seorang Kapolsek. Ke 12 polisi yang menggunakan narkoba itu seperti gerombolan mafia narkoba yang sedang beraksi, yang dipimpin bosnya, seorang kapolsek. Bagaimana pun kasus yang sangat memalukan ini merupakan deskripsi telak tentang pembusukan tersbut.

Proses pembusukan itu dimulai ketika bandar narkoba dan para polisi bejat itu berusaha untuk mengaburkan makna kebenaran, sehingga antara kebenaran dan kepalsuan tidak bisa lagi dibedakan, benar dan salah menjadi pudar batas-batasnya. Seperti dijelaskan oleh Jean Baudrillard dalam Simulacra dan Simulation (1981). Baudrillard menggambarkan tentang realitas hiper yakni ketika polisi yang telah sekaligus menjadi penjahat; hakim yang juga sekaligus pelanggar hukum, dst.ketika kebenaran tidak bisa lagi dipegang nilainya. Kondisi ini dijelaskan sebagai simulacrum.

Pemujaan yang menunjukkan betapa irasionalnya perilaku konsumtif orang-orang yang rela melepas nilai yang diyakininya hanya untuk memuaskan nafsu, insting, dorongan dan impuls. Kolektivitas yang muncul adalah semu. Segerombolan orang riang gembira menikmati kebersamaan mereka. Kemudian kembali terpecah menjadi individu-individu yang menjemukan dengan rutinitas yang itu-itu saja. Ini adalah sebuah simulakrum

Kehancuran yang Dimulai dari Rusaknya Moral

Dalam bukunya yang berjudul Collapse: How Societies Choose to Fail or Survive, Prof. Jared Diamond menggambarkan kolapsnya berbagai peradaban dunia, mulai dari peradaban kuno di Montana, Kepulauan Pitcairn dan Henderson, Anasazi, Maya, Viking, Norse Greenland, hingga peradaban modern di Rwanda, Dominika, Haiti, China, dan Australia. Buku yang ditulis tahun 2004 itu menjelaskan faktor penghancur peradaban itu sangat beragam dan mungkin kompleks. Satu sama lain saling berkaitan. Dan, masyarakat memilih sendiri kehancurannya atau keselamatannya. Bisa jadi apa yang terjadi dalam perpolitikan Indonesia saat ini merupakan indikasi bahwa kita memilih kehancuran kita sendiri.

Bagi Diamond, sosok penulis yang bukunya Guns Germs and Steel merupakan favorit Bill Gates ini mengungkapkan persoalan mendasar yang dihadapi oleh masyarakat global saat ini adalah kendali diri Perilaku. Kendali diri perilaku yang bermuara pada akhlak ini berkontribusi besar pada keruntuhan perdaban.

Hal senada disampaikan oleh pakar sejarah peradaban dunia Prof. Arnold J. Toynbee (lahir 1889- wafat 1975)yang menyimpulkan, bahwa banyak peradaban yang hancur (mati) karena “bunuh diri” dan bukan karena benturan dengan kekuatan luar. Toynbee tidak menekankan pada wacana clash of civilizations seperti yang digagas oleh Samuel Huntington yang menggambarkan kehancuran peradaban lain karena benturantetapi lebih menekankan pada aspek “peran dinamis agama dan spiritualitas dalam kelahiran dan kehancuran satu peradaban.”

Dalam studinya yang mendalam dan panjang tentang kebangkitan dan kehancuran peradaban, Toynbee menemukan, bahwa agama dan spiritualitas memainkan peran yang luar biasa dalam jatuh dan bangunnya sebuah peradaban. Karena itu aspek spiritual memainkan peran sentral dalam mempertahankan eksistensi suatu peradaban. Peradaban yang telah hilang inti spiritualitasnya, maka ia akan mengalami penurunan bahkan kehancuran.

Kesimpulan Diamond dan Toynbee di atas jauh-jauh waktu telah tercermin dalam buku berjudul “Muqadimah” yang ditulis Filsuf dan ilmuwan Ibnu Khaldun (lahir1332 – wafat1406). Khaldun menegaskan bahwa jika Tuhan berkehendak menghancurkan peradaban, mereka akan diuji dengan seberapa jauh konsistensi dan komitmen memegang nilai dan moralitas di saat kemaksiatan merebak dimana-mana.

Ibn Khaldun mengindentifikasi tanda-tanda Negara yang mendekati kehancuran. Diantaranya adalah kekurangan lapangan pekerjaan. Ibn Khaldun mengatakan: “Ketahuilah bahwa apabila kerja sudah tidak ada lagi, atau telah kurang, maka itu berarti Allah telah mengizinkan agar laba dihilangkan.” Dengan demikian keadaan suatu Negara yang sudah mencapai usia senja itu ditandai dengan terjadinya krisis ekonomi. Berbagai faktor lain yang dapat menyebabkan percepatan kehancuran suatu Negara adalah berhubungan dengan moralitas. Akhlak, budi pekerti dan kesusilaan yang terdapat dalam masyarakat makin lama makin menurun, sehingga menciptakan suat bentuk kebobrokan moral.

Pencerahan, Awal Mula Sebuah Peradaban

Dalam konteks peradaban, maka pencerahan haruslah dipertahankan. Karena pencerahan adalah awal dari bangkit dan terjaganya peradaban. Pencerahan ini bukanlah pencerahan seperti yang diselenggarakan di Eropa pada abad pertengahan dalam gerakan “Renaissance” (kelahiran kembali) pada periode tahun 1300 – 1700 dan gerakan “Aufklarung” (bahasa Inggris: Enlightenment) pada tahun 1700an hingga kini. Gerakan Renaissance dan Aufklarung ini saling melengkapi.

Kebangkitan kembali rasionalitas Yunani Kuno dan mematikan semangat spiritualitas dan religiusitas ditopang dengan semangat Aufklarung Kantian yang mengedepankan individualisme dengan ekspresi semangat “Aude Sapere” yakni keberanaian untuk menggunakan pemahaman sendiri (the courage to use your own understanding) dengan mengabaikan entitas/otoritas di luar diri. Inilah yang melahirkan peradaban modern (gerakan modernisme) dalam bentuk ideologi yang kemudian dikembangkan dengan semangat sains (logico-hypotetiko-verifikatif) yakni ideologi kapitalisme dan komunisme beserta berbagai turunan politik-ekonomi dari kedua ideologi tersebut menjadi peradaban modern. Kapitalisme dan komunisme meski terlihat berseberangan, bahkan bermusuhan, namun keduanya adalah anak kandung dari modernisme.

Bagi kaum Muslimin, penolakan atas modernisme  adalah karena ilmu positif-empiris menjadi standar kebenaran tertinggi. Akibatnya nilai-nilai moral dan religius kehilangan wibawanya. Dengan demikian, timbullah disorientasi moral-religius, yang pada gilirannya mengakibatkan pula meningkatnya kekerasan, keterasingan, depresi mental, korupsi, dan seterusnya. Materialisme menjadikan materi sebagai kenyataan terdasar.

Materialisme ontologis ini didampingi pula dengan materialisme praktis, yaitu bahwa hidup pun menjadi keinginan yang tak habis-habisnya untuk memiliki dan mengontrol hal-hal material. Dalam hal ini aturan main utama tak lain adalah prinsip evolusionisme survival of the fittest, atau dalam skala lebih besar: persaingan dalam pasar bebas yang mematikan spirit kerjasama dan  ta’awun (tolong menolong). Etika persaingan dalam mengontrol sumbersumber material inilah yang merupakan pola perilaku dominan individu, bangsa, dan perusahaan-perusahaan modern.

Pencerahan di abad pertengahan itu menghadirkan era modern yang mana menegasikan keberadaan kekuatan wahyu dan melahirkan materialisme yang kini pun tengah banyak ditentang. Dan materialisme ini menjadi kehancuran bagi peradaban modern itu sendiri. Dan bisa jadi ini menjadi pilihan motivasi orang meninggalkan spiritualitas moral yang menjadi kehancuran yang direpresentasi oleh Kompol Yuni.

Pencerahan dalam Islam

Prof. Ziaul Haque dalam buku Revelation and Revolution in Islam (1987) menggambarkan bahwa kehadiran utusan Tuhan dalam masyarakat adalah untuk melakukan revolusi atas kegelapan yang hadir kembali pada masyarakat. Buku ini membuka pikiran dan mata jiwa pembaca berkenaan hakikat perjuangan para nabi terdahulu yang sebenarnya membawa suara kebenaran dan kesetaraan sosial dalam masyarakat termasuk melawan kerusakan dan kezaliman yang dibawa oleh pemimpin korup dan zalim yang ada pada masa kini. Dalam arti kata lain, kesyumulan perjuangan nabi dalam membawa pesan Ilahi itu perlu dinatijahkan kepada masyarakat dan pesan keadilan sosial dan melawan penindasan untuk diperjuangkan.  Aspek kesyumulan Islam itu dapat digarap dengan lebih dalam jika pesan pembawaan keadilan sosial-ekonomi ditumpukan oleh pejuang-pejuang berideologikan Islam pada masa kini dengan realitas hari ini.

Di era kini, Muhammadiyah sebagai oraganisasi kemasyarakatan Islam telah menyatakan diri sebagai gerakan pencerahan, mengutip Prof. Haedar Nashir dalam tulisannya Muhammadiyah Dan Gerakan Pencerahan Untuk Indonesia Berkemajuan (2020), mengungkapkan Muhammadiyah pada abad kedua berkomitmen kuat untuk melakukan gerakan pencerahan. Gerakan pencerahan (tanwir) merupakan praksis Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Gerakan pencerahan dihadirkan untuk memberikan jawaban atas problem-problem kemanusiaan berupa kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan persoalan-persoalan lainnya yang bercorak struktural dan kultural. Gerakan pencerahan menampilkan Islam untuk menjawab masalah kekeringan ruhani, krisis moral, kekerasan, terorisme, konflik, korupsi, kerusakan ekologis, dan bentuk-bentuk kejahatan kemanusiaan. Gerakan pencerahan berkomitmen untuk mengembangkan relasi sosial yang berkeadilan tanpa diskriminasi, memuliakan martabat manusia laki-laki dan perempuan, menjunjung tinggi toleransi dan kemajemukan, dan membangun pranata sosial yang utama.

Pencerahan dalam konteks keislaman tidaklah sama dengan pencerahan seperti pada era di Renisssance dan Aufklarung yang melahirkan peradaban Modern. Kunci pencerahan dalam Islam adalah cahaya yang menerangi kegelapan seperti tertulis dalam Al Quran: min adzulumati ila nur (2: 257). Menuju cahaya adalah menuju Allah karena Allah adalah cahaya langit dan bumi (Allahu nuurus samawati wal ardhi) (QS 24: 35). Allah-lah pemberi  cahaya dan dengan cahaya ini maka akan menjadi terang bagi siapapun yang menerimanya. Cahaya Allah menjadikan orang bisa “melihat” dan memiliki pengetahuan (‘ilm) tentang yang benar (al-haq) dan yang salah (al-bathil); dan kebenaran itu adalah dari Allah (QS 2: 147). Ilmu (al-‘ilm) itu sendiri ada di sisi Allah (al-‘ilm ‘inda Allah) (QS 67:36) karenanya untuk mendapatkan pengetahuan yang benar adalah melalui Allah dengan ikhtiar yang dilakukan manusia melalui pembelajaran (QS 2: 31). Cahaya ini adalah petunjuk, barang siapa mendapatkan petunjuk maka tidak ada takut dan sedih (QS 2:38).

Inilah pencerahan dalam Islam. Bagi anggota masyarakat Islam yang tercerahkan maka ia akan mendapati dirinya menjadi orang yang optimis dan produktif sehingga outcome-nya berupa rahmat bagi semesta. Rahmatan lilalamin Karena itu tidak mengherankan jika siapapun yang menerima cahaya tersebut akan menjadi penerang atas kegelapan. Ini bisa kita lihat bagaimaan era pada jaman Rasulullah.

Dalam sejarah yang terdokumentasikan secara saintifik, kita lihat banyak peradaban di dunia mengalami jatuh dan bangun. Dalam sejarah peradaban dan kebudayaan, kita lihat pula tema pencerahan selalu menjadi awal kebangkitan dari sebuah perubahan menuju peradaban mulia. Fenomena yang terjadi pada Kompol Yuni merupakan satu cuplikan sederhana yang menunjukkan komleksitas problem Negara Kesatuan Republik Indonesia sedang berada di ambang batas kejatuhan peradaban. Semoga ini segera disadari, dan kehancuran itu bida dihindari.

Wallahu’alam.

*Dr. Kumara Adji Kusuma adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan Sekretaris Takmir Masjid Annur Sidoarjo

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.