Berbondong-bondong Mengikuti dan Melakukan Bisnis Halal

waktu baca 8 menit

KEMPALAN: Akhir-akhir ini kita mendengar bahwa bisnis syariah (halal) itu menguntungkan, sehingga banyak yang tertarik untuk mengikutinya. Terutama bidang bisnis online, salon dan kosmetik muslimah, makanan/kuliner/resep halal, busana muslim, toko serba ada, bahkan penitipan bayi/anak-anak (day care) Islami (dari berbagai sumber). Tinggal kita tertarik dan ahli dibidang apa. Terlepas dari apakah pengikutnya (pengusahanya) muslim atau tidak. Seperti diungkapkan dalam  al Quran dan beberapa hadist yang relevan, habwa Allah tidak melarang muslim untuk menolong atau berbisnis dengan non muslim selama kita bisa menjaga agar semua pihak dapat berlaku adil – memberikan manfaat bagi semua pihak (QS 60: 8; Jaami’ul Bayan fii Ta’wilil Qur’an, 28: 81; Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7:247). Jadi berbisnis dengan siapa saja memang tidak masalah.

Saya masih ingat sewaktu sekolah S2 dulu di Australia, sekitar tahun 1990, pertama kali ke luar negeri, sewaktu pesawat landing di Sydney, itu Sabtu pagi. Setelah dijemput dan diantar ke rumah peristirahatan, barulah kita mencari makanan. Sambil terheran-heran karena semua toko tutup pada hari itu, sampailah kita di satu-satunya rumah makan (RM) yang buka, yaitu MacDonald. Maka kehendak diri makan, tetapi sewaktu antri, seorang teman dari Aceh bertanya kepada saya, yaitu apakah saya makan atau tidak. Dia mengatakan, ini dagingnya tidak halal lho pak. Jadi niat hati akan makan, tetapi karena diingatkan seorang teman, maka tidak jadi, kecuali roti yang diisi sayur dan telur. Karena hal inilah saya jadi ingat masalah kehalalannya.

Cerita yang kedua yang juga menyenangkan yaitu sewaktu anak kuliah di United Kingdom (UK), sekitar 2015. Pada waktu itu, karena sudah concern dengan masalah kehalalan makanan, saya tanyakan ke anak. Dia tidak banyak menjawab, hanya mengajak ke pertokoan untuk makan. Dia menunjukkan tempat sambil berkata: “Kalau bapak masuk di RM yang itu ya salah sendiri”. Setelah saya baca, label halal itu dimana-mana banyak. Jadi bila kita masuk ke tempat yang tidak ada labelnya itu salah sendiri.  Artinya, yaitu bahwa negara-negara Eropa itu sangat perhatian dengan masalah halal. Sekarang kita melihat bahwa itu merupakan kesempatan bisnis yang baik. Bahkan di Thailand sendiri ada kampus (Universitas Thammasat, Bangkok) yang mengajarkan cara masak yang halal. Hal ini saya ketahui sewaktu saya tugas ke sana tahun 2019.

Jadi kalau kita melihat paragraph yang terakhir yang di atas ini, salah satu hal yang dapat kita pahami yaitu bahwa bisnis halal itu sudah menjadi pegangan bagi orang non muslim. Di Inggris dan negara non muslim lain sudah menjadi bagian kebijakannya. Lalu yang wajib kita pikirkan adalah bagaimana kita menyikapinya?

Sedang yang saya sampaikan ini adalah bagaimana kita harus bertindak yang sebaiknya guna meningkatkan bisnisnya. Mohon diingat bahwa bisnis halal ini bukan hanya untuk umat Islam saja, tetapi siapapun bisa mengikutinya, baik sebagai penjual maupun pembelinya.  Hanya apabila  mereka yang menjajakan/berjualan non-muslim, maka bagi yang care terhadap masalah kehalalan, hal ini harap benar-benar di perhatikan. Tetapi apabila sudah ada label halal dari institusi yang boleh mengeluarkan, kita wajib mempercayainya. Harap dipahami bahwa secara bisnis, tidak ada masalah bila orang yang non-muslim ikut memperhatikan atau ikut berbisnis ini. Hal ini perlu dipahami, bahwa kalau bisnis mengikuti cara Islam, maka hal itu tidak akan merugikan pihak manapun, termasuk jika orangnya non-muslim. Seperti yang telah saya jelaskan di atas, bahwa Allah tidak membedakan apakah penjual atau pembeli itu muslim. Hal ini karena melakukan bisnis secara Islami itu akan menguntungkan dirinya serta masyarakat pada umumnya, sehingga tidak akan ada pihak yang dirugikan. Malah yang kita harapkan, melalui proses bisnis ini, setelah mereka melihat keuntungan, baik jasmani maupun rohani, maka mereka berubah keyakinannya.

Untuk meningkatkan kegiatan bisnis, suatu hal yang penting adalah meyakini bahwa bisnis secara Islam ini tidak akan merugikan siapa saja. Bahkan kita jangan hanya berpikir halal saja, tetapi bisnis islami, antara lain, bebas dari gharar, maysir, riba, cara memproduksi, cara memperoleh barang, jenis barangnya sendiri, dan lain-lain. Suatu hal yang perlu diingat bahwa cara ini akan mendatangkan manfaat positif bagi pelakunya, baik penjual, pembeli, maupun orang lain yang terlibat.

Untuk itu, marilah kita yakini bahwa untuk melakukan bisnis yang baik dan menguntungkan, maka kita harus meneladani sifat-sifat rasul, yaitu amanah (dapat dipercaya), shidiq (kejujuran), fatonah (kecerdasan), serta tabligh (menyampaikan) (sumber: dari berbagai bacaan Islam). Mari kita kaitkan dengan apa yang disebutkan pada awal artikel ini, yaitu bisnis online. Kuncinya yaitu menerapkannya ilmu Islam dalam praktek. Bila dikaitkan dengan ilmu marketing yang sekarang dikenal, yaitu (P) product, place, price, promotion, people, prospect, physical facility (sumber: berbagai buku-buku marketing yang ada), maka dasarnya semua itu adalah sifat rasul. Hanya saja, sifat-sifat rasul itu harap dikembangkan. Tetapi intinya seperti itulah. Sebagai contoh, misalnya kita memilih dan menetapkan product. Product apa yang paling diminati oleh pembeli maupun keahlian oleh penjual. Pemilihan ini akan memperhatikan keahlian apa yang dimiliki oleh penjual. Kalau penjual memilih penitipan bayi dan anak, penetapan produknya tentu telah memperhatikan lingkungan serta kebutuhan pembeli. Inilah fatonahnya dalam ilmu sifat-sifat rasul. Demikian pula P yang lain, tentu tidak akan bergeser dari sifat rasul.

Sifat-sifat yang baik dari rasul itu harus menjiwai bisnis, karena apapun bidang bisnisnya, entah itu salon, bisnis teknologi online, kosmetik, penitipan bayi dan anak, atau bisnis apa saja, maka sifat rasul ini harus menjadi landasan utamanya. Jadi membahasnya bukan hanya kalau sedang membahas agama saja, tetapi aplikasinya dalam dunia yang penting. Seperti yang dikatakan Sukoso (2021), sebagai Kepala Badan Jaminan Produk Halal (KBPJH), bahwa kita semua harus melaksanakan agama dalam praktek, bukan hanya diomongkan saja. Amanah harus menjadi sifat dasar para pengusaha. Sifat ini harus melandasi jiwa berbisnis. Tanpa sifat ini niscaya bisnisnya tidak akan dipercaya orang. Lalu bagaimana cara agar dipercaya? Maka apapun bisnisnya dasar berbisnis itu harus amanah, segala niat yang dilakukan harus untuk menjaga kepercayaan, tidak boleh berbohong, serta segala keahlian dan kepandaian harus dicurahkan ke bisnisnya.

Dalam penjelasan atau untuk mengungkap sifat rasul, memang pembahasannya satu persatu seperti di atas. Tetapi dalam praktek bisnis, semua itu menyatu yang intinya yaitu amanah. Sebagai contoh, misalkan kita bisnis online kemudian ada pembeli. Lalu barang yang dikirim itu berbeda dari gambar yang ditunjukkan awal. Apa yang terjadi, orang akan merasa dibohongi atau tidak shidiq. Pembeli akan meminta uang dikembalikan atau tuntutan lain. Suatu hal yang paling menakutkan bila kita berbisnis dengan cara seperti itu adalah bahwa pembeli itu akan menceritakan kepada temannya, akhirnya bisnis kita akan gulung tikar. Inilah awal bahwa kepercayaan bisnis itu penting. Cara tersebut tersirat pada pengenalan produk atau beriklan yaitu tabligh.

Oleh karenanya, berbisnis juga harus memperhatikan tablighnya (penyampaiannya). Kalau dikaitkan dengan masa sekarang, hal ini dapat dikatakan beriklan. Maka pilihlah iklan yang membantu mengenalkan jasa/produknya. Apapun cara teknik/caranya harus dilakukan. Baik itu menggunakan computer atau mobile phone (hp), brosur, atau cara lain (memilih dengan cara menggunakan keahlian – fatonah), yang perlu diperhatikan iyalah bahwa orang mengenal jasa/produk kita. Tetapi suatu hal yang harus diingat, yaitu tetap menjaga kepercayaan. Dengan kata lain, janganlah sekali-kali berbohong, karena menjaga amanah itu sangat penting. Tidak kalah pentingnya dalam beriklan yaitu penggunaan kepandaian.

Maka berbisnis itu juga harus mencurahkan segala kepiawaian atau ilmunya demi tercapainya tujuannya, yaitu beriklan. Maka jenis iklan apa yang akan diterapkan itu memerlukan unsur fatonah. Sebenarnya memilih sarana apa yang sesuai dengan tujuan bisnisnya itu adalah fatonah (keahlian). Caranya entah dengan membaca segala sumber atau cara lain. Inilah penggunaan keahlian atau kecerdasan. Dengan kata lain, kalau berbisnis itu memerlukan implementasi sifat-sifat rasul. Dengan kata lain, semua sifat rasul itu, bila dipelajari dan dikembangkan akan menjadi sebuah ilmu yang mau-tidak mau akan diikuti oleh kalayak umum.

Contoh lain adalah menjual makanan. Salah satunya yang penting adalah rasa. Menetapkan rasa itu tidak mudah, ini semua memerlukan kecerdasan, maka fatonah atau keahlian sangat deperlukan. Setelah itu maka penjual harus mengenalkan produknya. Inilah adalah memanfaatkan iklan atau cara lain agar produk ini dikenal oleh masyarakat. Inilah tabligh. Lalu untuk itu kita tidak boleh mengelabui calon pembeli. Maka ini adalah shidiqnya. Semuanya itu adalah untuk menjaga amanah. Oleh karenanya, sifat rasul ini tidak terpisahkan dalam segala hal, termasuk berbisnis.

Nah karena mengenalkan cara ini adalah makan waktu, maka marilah kita mengikuti Badri (Khan, 2015). Dia mengatakan bahwa merubah sifat manusia itu tidak semudah membalik tangan. Ini memerlukan kerja kolektif yang serius dan perlu waktu yang cukup lama, oleh karenanya semua orang yang mengajari, entah itu guru (dosen), para kyai, para da’I, dan pembicara lainnya haruslah sepakat tentang hal ini. Dengan cara ini, insya Allah semua akan berubah, bisnis Islam akan menjadi kenyataan.

Daftar Referensi:

Rahmattullah Khan Abdul Wahab Khan, 2015, An interview with prof Malik Badri about his contributions to the Islamisation of psychology, Intellectual Discourse, 159-172.

Sukoso, 2021, Seminar Nasional (webinar) tentang Peningkatan Kesadaran Produk Halal, Lembaga Halal Thoyyibah Center, Universitas Bosowa, Makassar, 13 Februari 2021.

(Prof. Drs. Tjiptohadi Sawarjuwono, M.Ec, Ph.D, CPA, CA adalah Guru Besar/Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *