KEMPALAN: Entah sampai kapan pandemi Covid-29 akan berakhir? Entah berapa triliun lagi uang pemerintah yang akan dihabiskan? Pasalnya, virus ini terus bermutasi dan memunculkan varian baru. Seperti kemunculan tiga mutasi virus Corona yang belakangan membuat geger dan ramai menjadi perbincangan di seluruh dunia, yakni mutasi virus Corona D614G, mutasi virus Corona B117 dan mutasi virus Corona 501.V2.
Para ahli dan peneliti di dunia sangat kaget saat tiga varian baru hasil mutasi virus Corona ini muncul, mengingat keganasannya.
Sebuah studi menunjukkan bahwa mutasi virus Corona D614G diklaim lebih menular 10 kali lipat.
Seperti dikutip dari laman Times of India, D614G terletak di dalam protein yang menyusun spike virus yang digunakannya untuk masuk ke dalam sel manusia.
Disebut bahwa mutasi virus Corona ini mengubah asam amino pada posisi 614, dari D (asam aspartat) menjadi G (glisin), sehingga dinamakan D-614-G. Mutasi ini diduga muncul beberapa saat setelah wabah awal Wuhan.
Ahli Biologi Komputasi & Ahli Genetik, Bette Korber menjelaskan bahwa mutasi dari varian D614G memiliki penyebaran yang lebih tinggi dibandingkan virus aslinya dan hingga kini menjadi mutasi paling dominan di seluruh dunia.
Sementara mutasi virus Corona B117 pertama kali terdeteksi di Inggris. Malaysia dan Singapura pun sudah melaporkan munculnya varian baru ini.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memprediksi jika mutasi virus Corona B117 akan jadi varian yang dominan. Pasalnya, varian ini lebih mudah menular.
Karena itu, Ketua Tim Bidang Molekuler CDC, Dr Gregory Armstrong mengatakan, perlu upaya yang lebih keras untuk mengendalikan penyebaran virus Covid-19. Kasus dapat ditekan bila masyarakat dapat semakin disiplin dan proses vaksinasi dengan cakupan yang luas berjalan lancar.
Sedang mutasi virus Corona 501.V2 ditemukan dan diidentifikasi para ilmuwan di Afrika Selatan. Penyebaran varian baru Covid-19 ini pun terjadi begitu cepat di negara tersebut. Tidak kalah ganasnya dengan varian lain.
Entah, varian baru apalagi yang akan muncul? Padahal, untuk mengatasi varian yang ada saja sudah kewalahan dan sulitnya minta ampun. Hampir setahun sejak virus ini muncul, hingga kini belum ada tanda-tanda pemerintah mampu mengendalikan laju penularannya. Tidak hanya Indonesia, tapi seluruh negara di dunia. Meskipun demikian, berbagai upaya terus dilakukan untuk menangkal dan membasmi.
Memang biayanya mahal. Untuk perawatan pasien Covid-19, bukan jutaan atau puluhan juta, tapi ratusan juta, bahkan bisa mencapai miliaran rupiah per pasien. Itu jika kondisinya sudah parah.
Soal biaya mahal ini saya mendapat cerita dari seorang sahabat yang pernah terpapar Covid-19 dan menjalani isolasi di sebuah rumah sakit.
Sebut saja MM, yang kini sudah menyandang predikat penyintas Covid-19. Sahabat saya yang tinggal di kawasan Surabaya Barat ini mengaku di rawat di sebuah rumah sakit swasta di kawasan Sukolilo, Surabaya dengan biaya sebuah perusahaan asuransi. Setelah 22 hari dia pun dinyatakan sembuh. Hasil swab-nya dinyatakan negatif.
Ketika mau pulang, MM diminta menandatangani beberapa berkas oleh pihak rumah sakit. Di pun kaget setelah melihat angka yang tertera. Ternyata, biaya perawatannya selama menjalani isolasi di rumah sakit itu mencapai Rp 250 juta lebih.
“Untung saya ikut asuransi. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana kalau biaya itu harus saya tanggung sendiri,” kata teman saya itu.
Kebetulan isterinya juga terpapar Covid-19 dan dirawat di rumah sakit yang sama. Bedanya, kondisi isterinya lebih parah dan menjalani perawatan atas biaya pemerintah. Gratis. Kecuali untuk jenis obat tertentu yang harganya mahal. Harus ditanggung sendiri. Untuk obat ini, MM diminta menyerahkan uang ratusan juta sebagai jaminan. Dengan catatan, kalau isterinya sembuh dan ada uang sisa, maka akan dikembalikan.
Sahabat saya terkejut. Kok mahal banget? Tapi, karena demi istrinya, ia akhirnya menyerahkan uang Rp 50 juta. “Adanya hanya ini, tolong dicukup-cukupkan,” ucapnya pada petugas rumah sakit yang diserahi uang jaminan.
MM lebih terkejut lagi ketika isterinya diperbolehkan pulang dan ia diminta menandatangani berkas kwitansi. “Edan, angkanya Rp 500 juta lebih,” katanya yang membuat saya juga ikut terkejut.
Mahalnya biaya perawatan Covid-19 ini juga diceritakan AG, teman saya yang di kawasan Waru, Sidoarjo. Dia mengaku punya seorang kakak perempuan yang terpapar Covid-19 dan tinggal di kawasan Kenjeran, Surabaya. Untuk perawatan kakaknya di sebuah rumah sakit swasta di kawasan Surabaya Timur, AG mengaku harus mengeluarkan uang Rp 267 juta.
“Untungnya biaya itu dikembalikan oleh pihak rumah sakit, karena ditanggung pemerintah,” kata AG yang sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan swasta di kawasan Surabaya Utara.
Sebelumnya, ia juga mengaku dimintai uang untuk pembelian peti mati dan biaya pemakaman khusus Covid-19 di TPU Keputih, karena kakaknya meninggal dunia. Tapi, uang yang sudah dibayar itu juga dikembalikan oleh pihak rumah sakit.
Purwoko, pria penyintas Covid-19 berusia 71 tahun yang tinggal di kawasan Rungkut, Surabaya ini, punya cerita lain. Ia mengaku tidak dimintai uang ketika dirawat di Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya.
“Semua gratis. Saya tidak diminta uang sepeserpun ,” aku Purwoko ketika saya temui dalam acara wisuda penyintas Covid-19 di (RSLI), Selasa (9/2/2022).
Karena gratis, ia mengaku tidak tahu berapa biaya perawatannya. “Mestinya mahal, karena pelayanannya istimewa. Mirip hotel berbintang, sehari makan tiga kali dan bergizi. Ada buahnya juga,” ungkap pensiunan sebuah bank di Surabaya ini.
Itu hanya sekadar contoh. Dapat dibayangkan, berapa anggaran yang harus ditanggung pemerintah untuk pasien Covid-19 ini, mengingat jumlahnya yang sudah mencapai mencapai satu juta lebih.
Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 yang diakses melalui situs Covid-19.go.id, hingga Kamis (11/2/2021), total kasus Covid-19 di Indonesia kini sudah mencapai 1.191.990 orang. Angka itu terhitung sejak awal pandemi pada 2 Maret 2020. Sedang yang meninggal dunia jumlahnya mencapai 32.381 orang.
Sementara WNI di luar negeri, berdasarkan informasi Kementerian Luar Negeri, hingga Kamis (11/2/2021) pukul 08.00 WIB, yang terpapar tercatat 3.155 orang.
Karena biayanya mahal, marilah kita mendukung program pemerintah dengan menaati protokol kesehatan. Yakni, menggunakan masker, rajin menyuci tangan, jaga jarak, menghindari kerumunan dan selalu menjaga kebersihan. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi