Minggu, 26 April 2026, pukul : 04:30 WIB
Surabaya
--°C

Kekuatan Massa dalam Saga Gamestop

TEXAS-KEMPALAN: ALKISAH, ada seorang pedagang kaya datang ke pasar sayur. Dia melihat ada banyak sayur seharga Rp 10 ribu, dan jika tidak terjual, harganya pasti akan turun pada sore harinya. Untuk itu, dia kemudian bilang ke para pedagang lainnya. ’’Gini aja, saya sewa sayurmu. Jaminannya, harga sekarang. Tapi, nanti saya beli dengan harga nanti sore,’’ katanya. ’’Ayo bawa sini semuanya,’’ imbuhnya.

Dia kemudian mendapat sewa sebanyak 5 ribu sayur. Sebagai jaminan, dia menaruh uang sebanyak Rp 50 juta (Rp 10 ribu x 5 ribu sayur). Di kepalanya dia berspekulasi akan mendapat sayuran dengan harga murah di sore hari. Dia memperkirakan pada sore hari, harga sayur akan turun menjadi Rp 3 ribu. Artinya, dia hanya perlu membayar Rp 15 juta saja untuk 10 ribu sayuran, plus mungkin ditambah sewa lapak Rp 500 ribu. Masih menang banyak.

Dia pergi, dan kemana-mana mengumumkan bahwa sayuran itu akan cepat busuk, dan berharap kabar itu didengar pedagang pasar, dan membuat harganya menjadi turun. Sebagai pengantar, dalam trading saham, praktek ini disebut shorted.

Eh, yang dia tidak tahu, ada seorang pedagang kecil yang mengamatinya. Dia tahu betul bahwa pedagang kaya itu tamak, dan berusaha mendapat untung dari praktek shorted itu. Kebetulan, pedagang kecil itu mempunyai sebuah forum serikat pedagang kecil. Dia kemudian mengagitasi teman-temannya. ’’Itu pedagang besar tamak banget. Masih mau ambil keuntungan dari hal kayak gini. Mari kita bangkrutkan dia,’’ katanya, berapi-api. ’’Caranya gimana?’’ tanya rekan-rekannya. ’’Gampang, kita kerahkan teman-teman kita untuk ramai-ramai beli sayurnya,’’ ucapnya. “Cuma itu?’’ tanya rekannya. “Cuma itu saja,” katanya, yakin.

Selanjutnya, prinsip ekonomi bekerja. Ketika demand naik sementara supply tetap, maka harga pasti akan melonjak. Pasar menjadi ramai transaksi sayur. Yang sudah terlanjur jual, malah mau beli lagi dengan harga tinggi. Harga sayur ketika sore hari kini sudah mencapai Rp 100 ribu. Naik sepuluh kali lipat.

Ketika pedagang tamak itu datang ke pasar itu sore harinya, dia langsung pucat. Yang awalnya dia mengira harganya sudah jatuh menjadi sekitar Rp 3 ribu, kini malah menjadi Rp 100 ribu. Dia buntung banyak. Alih-alih bisa mendapatkan 10 ribu sayuran dengan harga Rp 15,5 juta, kini dia harus membayar Rp 500 juta. Belum ditambah sewa lapak di pasar itu sebesar Rp 500 ribu.

Pedagang itu langsung berkeringat dingin ketika diminta pedagang lainnya membeli sayuran itu seharga Rp 500 juta sesuai perjanjian. ’’Sebentar ya, kalau segini saya harus nyari utangan dulu,’’ katanya. Dia kemudian pergi menemui temannya, dan meminta talangan untuk membayar sayuran tersebut.

Senyampang pedagang kaya itu pergi, pedagang kecil yang cerdik itu ngompori masyarakat. ’’Ayo beli terus,’’ ucapnya. Sehingga, transaksi terus berjalan ketika pedagang kaya dan tamak itu cari utangan. Alhasil, pedagang kaya itu nyaris pingsan ketika sudah balik lagi ke pasar. Karena harga sayuran yang mulai busuk dan hendak dishorted itu kini sudah mencapai Rp 200 ribu per bijinya. Jadi, dia harus membayar Rp 1 miliar untuk 10 ribu sayuran.

***

Saya tahu bahwa analogi itu mungkin tidak pas untuk menggambarkan kegilaan apa yang terjadi di Wall Street belakangan ini. Mungkin yang paling pas untuk menjelaskan dan membenarkan hal ini si om Haryo Setyo Wibowo. Karena tentu, regulasi di bursa saham tentu sangat njelimet dan saya tak begitu paham seperti blio-nya. Tapi, setidaknya ilustrasi menggampangkan di atas semoga bisa mendekati cerita umumnya.

GameStop adalah sebuah perusahaan retailer video game yang bermarkas di Grapevine, Texas, yang mengoperasikan lebih dari lima ribu toko. Perusahaan itu kembang kempis. Ia bahkan diperkirakan tak bisa mencetak keuntungan hingga 2023 mendatang dalam prospektus bisnisnya. Apalagi penyebabnya jika bukan kalah bersaing (GameStop masih beroperasi dan menjual secara manual. Kalah bersaing dengan digital) dan pandemi. Bagi para Wolf of the Wall Street, GameStop adalah sebuah kasus yang khas untuk di-shorted. Para hedge fund ini berniat mencetak uang dari praktek shorted ini (untuk kemudian menggoreng sahamnya di kemudian hari).

Yang tidak mereka perhitungkan adalah kekuatan massa peritel saham muda. Ditambah dengan masa pandemi yang membuat mereka mengalihkan pandangan untuk berinvestasi saham. Yang luput dari perhitungan adalah para peritel saham muda ini punya ideologi. Para peritel milenial ini punya kultur sendiri. Yang tidak memperhitungkan segala sesuatunya hanya berdasarkan perhitungan untung rugi yang rigid secara ekonomi.

Seperti pedagang kecil dengan forum serikat pedagangnya, mereka berhimpun di forum-forum media sosial seperti Reddit dan Wallstreetbets’. Mereka berdiskusi, mempunyai kesamaan ideologi, dan tujuan mereka bermain saham bukan hanya meraih keuntungan sebesar-besarnya saja. Tetapi juga mereka puas untuk bisa menghajar para hedgefund besar.

Bagi mereka, dosa para hedge fund jumbo ini sangat besar. Krisis ekonomi 2008 pun bagi para milenial ini tak lepas dari kesalahan mereka. Selain itu, mereka juga merasa ada perlakuan yang tak adil bagi mereka: para peritel kecil. Jika salah berinvestasi dan mengalami kerugian besar, para hedgefund ini masih bisa dapat bailout pemerintah. Karena, mereka sudah dianggap too big to fail. Alias, kebangkrutan mereka bisa berdampak sistemik. Tapi, para pemain kecil ini tak akan mendapat perlindungan serupa ketika salah berinvestasi. Situasinya jadi seperti ini: investor besar ini jika untung, untungnya sangat besar. CEO-nya bergaji sangat tinggi. Dan kalau rugi, mereka dapat bailout. Pemain kecil? Salah berinvestasi dan merah portofolio-mu, ya resikone emploken dewe. Bangkrut tanggung sendiri. Tidak ada perlindungan apa-apa dari pemerintah.

Pengamat ekonomi dari Bloomberg Brandon Kochkodin mengatakan sudah melihat fenomena ini sejak agak lama. Kochkodin menyebut sebuah postingan di Reddit empat bulan lalu yang berisi seperti ini: “Bankrupting Institutional Investors for Dummies, ft GameStop” –Cara mudah membangkrutkan investor besar, ft GameStop.

Yang terjadi selanjutnya adalah kehebohan. Nilai saham GameStop melonjak drastis. Senilai USD 20 per lembarnya pada awal tahun, ditutup pada 27 Januari 2021 dngan harga USD 350. Bandar besar kalah besar. Saking kencangnya kenaikan, perdagangan sahamnya sampai mengaktifkan alarm adanya transaksi tidak rasional. Memang tidak rasional, secara perhitungan ekonomi. Tapi, ini sesuatu yang di luar kekuatan ekonomi. Namanya adalah kekuatan massa. Anak-anak muda yang ingin mengubah situasi dengan memberi pelajaran keras kepada yang tamak.

Memang terjadi perdebatan. Sejumlah kalangan yang dikenal pro investor menilai bahwa ini tak lebih dari manipulasi pasar saja. Menggoreng saham. Membuat bubble. Apapun yang ingin anda sebut. Bahwa apa yang sudah terjadi ini menyalahi aturan main pasar saham, dan sebagainya. Juga mempertanyakan, jika memang ada banyak hedge fund yang berusaha nyari untung dari praktek shorted itu, kenapa tidak diumumkan saja ke publik. Sehingga tak perlu sampai seperti ini.

Namun, suara di forum seperti WallstreetBets’ tak kalah menyanggah. Semuanya terbuka. Tidak ada informasi yang disembunyikan. Toh, penjualan itu juga semuanya sah. Mengikuti hukum ekonomi semuanya. Jika demand lebih banyak, sementara supply tetap, ya harga akan naik. Tapi ada nada yang lebih keras. “Sejumlah orang ini (kalangan pro investor), biasanya menggunakan media sebagai alat untuk memanipulasi pasar. Nah, sekarang mereka gagal dan kalah. Dan hendak menuduh kita-kita ini sebagai manipulator. Enak saja,” begitu posting salah satu moderator di forum tersebut.

Tapi, setidaknya ini membangkitkan sebuah kesadaran, dan sekaligus harapan. Sudah terlalu lama dunia ini diatur oleh segelintir orang, dan kekayaannya juga dikuasai oleh sedikit orang. Kasus GameStop ini bisa menjadi salah satu pengingat bahwa jika memang bisa bersatu, warga kebanyakan bisa melawan kekuatan sebesar apa pun. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.