Jalan dakwah bisa lewat mana saja, bahkan dari sepakbola pun dakwah bisa lebih efektif.
Mohammad Salah di Liverpool bukan hanya ikon sepakbola, tapi sudah menjadi ikon dakwah yang mewakili wajah Islam.Mo Salah-lah-lah-lah, Mo Salah-lah-lah-lah.
Jika dia cukup baik untukmu, dia cukup baik untukku. Jika dia mencetak beberapa gol lagi, maka aku akan menjadi seorang muslim juga.” Begitulah chant yang dinyanyikan 50 ribu fans Liverpool di Stadion Anfiel setiap akhir pekan.
Ketika wajah Islam masih selalu disalahpahami di Eropa. Ketika islamophobia, ketakutan terhadap Islam, masih marak di berbagai penjuru dunia, wajah Islam ala Mohammad Salah adalah oase yang menyegarkan.
Nun. Di Indonesia, lebih dari 10 ribu kilometer dari Inggris, persoalan yang dihadapi Islam sama saja. Di negara yang secara statistik Islam adalah mayoritas, kesalahpahaman, kecurigaan, ketakutan, ketidakpercayaan terhadap Islam masih menjadi berita besar setiap hari.
Wajah dakwah Islam di Indonesia diwarnai kecurigaan ketika seorang pendakwah seperti Habib Rizieq Shihab dianggap sebagai ancaman terhadap kekuasaan karena model dakwah yang berapi-api melawan kemunkaran, terutama kemunkaran kekuasaan.
Jalan dakwah yang dianggap divisif, memecah belah, menjadikan penguasa risi dan melakukan apa saja untuk menghentikannya. Jalan dakwah seperti ini membutuhkan keberanian, dan tidak banyak orang semacam HRS yang berani mengambil jalan itu.
Tetapi, ada orang seperti Ali Saleh Muhammad Ali Jaber yang menempuh jalan dakwah yang berbeda, dan membawa pengaruh perubahan yang sangat besar. Ketika ia meninggal dunia Kamis (14/1) kehilangan itu bagi banyak orang sangat terasa.
Syekh Ali Jaber. Begitu ia dikenal. Masih cukup muda, 44 tahun. Ia mewakili genre baru pendakwah di Indonesia.
Ia membawa warna baru dalam gerakan dakwah Islam di Indonesia dengan pesan-pesan dakwah yang mengajak kembali kepara orisinalitas Islam tanpa harus mengalami stigmatisasi negatif.
Ali Jaber membawa wajah segar dan sejuk mirip Mohamad Salah. Sama-sama brewokan. Sama-sama berasal dari Timur Tengah. Salah dari Mesir, Jaber dari Madinah, Arab Saudi. Sama-sama main bola. Salah menjadi pemain sepakbola profesional. Jaber menjadi pemain sepakbola amatir di Ampenan, Nusa Tenggara Barat.
Di lingkungan pemukiman komunitas Arab di Ampenan Jaber bergabung dengan klub sepakbola amatir Asy-Syabaab, dan dikenal sebagai pemain gelandang yang bagus.
Di kalangan komunitas bola di Ampenan Jaber adalah Zinedine Zidane van Ampenan. Mainnya disebut mirip Zizou sang legenda Le Bleus, yang mempunyai teknik tinggi dan visi bermain yang tajam. Saat jadi pemain Zidane membawa Prancis menjadi juara Eropa dan juara dunia.
Sekarang ia melatih Real Madrid dan membawa Los Blancos, Si Putih, menjadi klub pertama yang mampu memenangkan Liga Champions back to back dua tahun berturut-turut pada 2016-2017.
Ali Jaber pernah bercita-cita menjadi pemain sepakbola profesional. Mungkin ia ingin seperti Zizou yang menjadi legenda Si Putih Real Madrid.
Tapi, jalan hidup Ali Jaber membawanya menjadi pendakwah profesional. Ia berseragam Los Blancos, putih-putih, bukan jersey sepakbola, tapi gamis putih-putih yang sudah menjadi trade-marknya.
Dalam usia 32 tahun pada 2008 Ali Jaber mengunjungi Indonesia dan langsung jatuh cinta. Seperti cinta pada pandangan pertama, cinta Jaber pada Indonesia dibawa sampai mati.
Ketika kali pertama menginjakkan kaki ke Indonesia Jaber hanya tahu kata “Apa kabar” dan “Selamat pagi”. Empat tahun kemudian pada 2012 ia memutuskan untuk menjadi warga negara Indonesia. Bahasa Indonesianya “flawless” nyaris sempurna kecuali ketika mengucapkan ”ng” yang masih terdengar ‘n’.
Sejarah dakwah Indonesia melewati masa-masa dakwah manual, ketika seorang pendakwah berpidato secara manual di depan seribu atau dua ribu jamaah, dan hal itu sudah dianggap sebagai “tablig akbar”. Era ini memunculkan pendakwah Zainddin MZ yang dijuluki sebagai “Dai Sejuta Umat”.
Lalu muncul era televisi, ketika para pendakwah mulai mengalami profesionalisasi. Konten ceramah bukan sekadar dakwah tapi dikemas sebagai show, pertunjukan, yang memasukkan unsur-unsur entertainment di dalamnya. Di era ini, antara lain, muncullah pendakwah Abdullah Gymnastiar alias Aa’ Gym yang popularitasnya sama dengan selebritas entertainment lainnya.
Di Amerika era ini disebut sebagai era “Televangelist” atau “television evangelist”, ketika pendakwah populer Pat Robertson mempunyai jaringan stasiun televisi dakwah sendiri CBN (Christian Broadcasting Network) yang menjangkau seluruh Amerika. Stasiun CBN menjadi jaringan televisi dakwah terbesar dan menghasilkan revenue besar yang tak kalah dari stasiun televisi komersial.
Pendeta Pat Robertson pun menjelma menjadi pendeta, pengusaha, dan figur politik yang sangat berpengaruh.
Di Indonesia perkembangan dakwah belum sampai melahirkan jaringan televisi terestrial komersial sehebat CBN. Di Indonesia muncul generasi Televangelist seangkatan Abdullah Gymnastiar yang menjadi selebritas baru yang sangat populer dan secara rutin menjadi objek berita infotainment karena life style mereka.
Ketika sekarang muncul era internet, wajah dakwah Indonesia pun ikut berubah dengan munculnya para pendakwah yang memanfaatkan internet dan media sosial sebagai sarana dakwah. Akun Instagram pendakwah seperti Ustad Abdul Shomad diikuti oleh hampir 10 juta pengikut.
Inilah era “Netangelist”, era dakwah melalui internet, yang memunculkan ustad dan pendakwah dengan follower jutaan orang dan bisa mendanai dakwahnya sendiri dari hasil monetisasi akun media sosial.
Di era manual, sebuah pengajian yang diikuti seribu jamaah sudah dianggap sebagai “pengajian akbar”. Di era internet ini pengajian virtual yang diakses jutaan orang mungkin dinamai “pengajian super-duper akbar”.
Tentu saja ada trade-off yang harus dibayar. Di era “Netangelist” ini bermunculan ustad-ustad internet yang kurang ikhlas berdakwah dan sibuk mencari follower dengan memproduksi konten-konten yang cepat viral.
Pada era seperti inilah Syekh Ali Jaber memberi perspektif yang beda. Ia besar karena kualitas keilmuannya yang mumpuni dan dakwah yang menyejukkan. Ia melakukan “community building” membangun masyarakat melalui program seperti menciptakan sejuta penghafal Alquran.
Ali Jaber, De Los Blancos, Si Putih-Putih, bukan tipe Netangelist yang sibuk cari follower dan sekadar pintar bikin konten viral. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi