Ketua DPD HKTI Jatim HM Arum Sabil. (Foto: Dwi Arifin/kempalan.com)
SURABAYA-KEMPALAN: Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur mewanti-wanti potensi terganggunya ketahanan pangan akibat ketidakpastian pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang dipicu konflik global.
Ketua DPD HKTI Jawa Timur HM Arum Sabil mengatakan, dampak konflik antara Iran dan Israel tidak hanya dirasakan di kawasan tersebut, tetapi juga berimbas ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
“Dampaknya global, bukan hanya Indonesia. Yang paling kami khawatirkan adalah terkait bahan bakar minyak,” ujarnya usai audiensi dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (1/4).
Arum menjelaskan, sektor pertanian saat ini masih sangat bergantung pada BBM, baik untuk operasional traktor maupun pompa air. Di tengah kondisi pasokan yang mulai tidak stabil, aktivitas pertanian dinilai berpotensi terganggu.
“Pertanian tidak boleh berhenti, sementara alat-alat pertanian sebagian besar masih membutuhkan bahan bakar,” kata Arum yang juga Ketua Kwarda Pramuka Jatim.
Selain persoalan energi, Arum menyoroti ketersediaan air sebagai tantangan utama yang dihadapi petani saat ini. Menurutnya, banyak saluran irigasi yang rusak atau terputus, sementara debit air juga mengalami penurunan.
Ia menambahkan, tidak semua lahan pertanian memiliki akses irigasi teknis. Sebagian besar masih mengandalkan tadah hujan, sehingga rentan terdampak musim kemarau.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, HKTI Jatim mendorong pemanfaatan teknologi pompa air berbasis tenaga surya sebagai alternatif pengganti BBM. Inovasi ini dinilai lebih efisien dan berkelanjutan.
“Di HKTI sudah ada petani dan anak muda yang mengembangkan pompa air tenaga surya. Ini bisa digunakan secara gotong royong,” jelasnya.
Arum mengatakan, teknologi tersebut telah diuji coba, namun masih membutuhkan dukungan pemerintah agar dapat diterapkan secara lebih luas.
Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan program pemberdayaan bagi kelompok tani, termasuk bantuan alat yang disertai pendampingan penggunaan dan perawatan.
Selain itu, HKTI juga mendorong kemudahan akses permodalan bagi petani serta distribusi pupuk yang tepat waktu guna menjaga produktivitas pertanian.
Di sisi lain, Arum mengingatkan potensi musim kemarau yang diprediksi lebih panjang tahun ini. Kondisi tersebut dinilai akan semakin memperbesar tantangan sektor pertanian, terutama dalam pemenuhan kebutuhan air.
“Air itu ada, tetapi sering berada di bawah dan harus diangkat dengan pompa. Ini tentu membutuhkan energi,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi