Jumat, 1 Mei 2026, pukul : 04:10 WIB
Surabaya
--°C

Efek Domino Gugurnya Elit Keamanan Iran

Jika Israel berharap bahwa strategi “decapitation” akan melumpuhkan Iran, maka sejarah konflik asimetris menunjukkan hasil yang justru seringkali sebaliknya: radikalisasi, konsolidasi, dan eskalasi berkepanjangan.

Oleh: Dr. Selamat Ginting

KEMPALAN: Tokoh kunci Iran – Ali Larijani dan Gholamreza Soleimani – dalam serangan udara di  Teheran pada Selasa (17/3/2026), menandai babak baru yang lebih tajam dalam konflik terbuka di Timur Tengah.

Pernyataan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bukan sekadar konfirmasi operasi militer, melainkan sinyal bahwa Israel kini menargetkan inti kekuasaan strategis Iran, bukan lagi sekadar aset militer perifer.

Peristiwa ini tidak berdiri sendiri. Namun merupakan kelanjutan dari eskalasi sejak serangan awal pada Sabtu, 28 Februari 2026, yang juga menandai gugurnya Ali Khamenei, figur sentral dalam struktur kekuasaan Republik Islam Iran.

Dengan gugurnya Larijani, yang dikenal sebagai arsitek kebijakan strategis dan penghubung antara militer, politik, dan intelijen, Iran kehilangan salah satu “otak koordinasi” di tengah krisis eksistensial.

Disrupsi Struktur Komando Iran

Secara militer, gugurnya Larijani dan Soleimani berpotensi menciptakan disrupsi serius dalam rantai komando Iran. Larijani bukan sekadar pejabat administratif, ia berperan dalam orkestrasi kebijakan keamanan nasional melalui Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.

Sedangkan Soleimani, yaitu sebagai komandan Basij, mengendalikan jaringan paramiliter yang menjadi tulang punggung mobilisasi domestik dan perang asimetris. Kehilangan keduanya berarti akan terjadi:

1. Vacuum of command (kekosongan komando) dalam koordinasi antara militer reguler, Garda Revolusi (IRGC), dan jaringan paramiliter.

2. Penurunan respons cepat terhadap ancaman eksternal maupun potensi instabilitas internal.

3. Risiko fragmentasi internal, terutama jika faksi-faksi dalam IRGC atau elit politik berebut pengaruh.

Namun, sejarah Iran menunjukkan, struktur kekuasaannya relatif tahan terhadap decapitation strike. IRGC (Garda Revolusi Iran) memiliki sistem kaderisasi dan redundansi komando yang memungkinkan regenerasi cepat. Dengan kata lain, disrupsi ini bersifat taktis, bukan strategis, dalam jangka panjang.

Momentum Eskalasi bagi Israel

Bagi Israel sendiri, keberhasilan operasi ini memperkuat doktrin “pre-emptive decapitation”, menghancurkan kepemimpinan lawan untuk melemahkan kapasitas perang mereka. Setelah menargetkan figur puncak seperti Khamenei, kini Israel bergerak sistematis ke lapisan kedua elit Iran.

Implikasinya:

1. Superioritas intelijen Israel semakin terbukti, menunjukkan penetrasi mendalam ke dalam sistem keamanan Iran.

2. Efek psikologis terhadap elite Iran: tidak ada posisi yang benar-benar aman.

3. Legitimasi domestik bagi pemerintah Israel untuk melanjutkan operasi ofensif.

Namun, strategi ini juga berisiko tinggi. Dalam banyak kasus, pembunuhan tokoh kunci justru memicu eskalasi, bukan de-eskalasi. Iran bisa melihat ini sebagai perang eksistensial yang menuntut respons total.

Balas Dendam dan Konsolidasi

Secara politik, gugurnya Larijani bisa menjadi katalis bagi 2 arah yang berlawanan. Pertama, eskalasi balasan. Iran memiliki kapasitas untuk merespons melalui proksi regional di Lebanon, Irak, Suriah, hingga Yaman. Serangan terhadap Israel atau kepentingan sekutunya bisa meningkat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kedua, konsolidasi internal.Dalam tradisi Republik Islam Iran, kematian elite sering dimanfaatkan untuk memperkuat narasi “syahid” dan mempererat solidaritas nasional.

Hal ini bisa mengurangi potensi dissent domestik, menguatkan legitimasi rezim, dan mempercepat penunjukan elite baru yang lebih militan.

Dalam konteks ini, gugurnya Larijani justru bisa melahirkan generasi pemimpin yang lebih keras dan kurang kompromistis dibanding pendahulunya.

Dimensi Regional dan Global

Krisis ini tidak hanya berdampak bilateral Iran – Israel, namun juga berpotensi mengguncang keseimbangan kawasan. Amerika Serikat akan semakin terlibat, baik secara langsung maupun melalui dukungan terhadap Israel.

Negara-negara Teluk berada dalam dilema antara mendukung Israel secara diam-diam atau menghindari eskalasi yang bisa merusak stabilitas energi. Selat Hormuz kembali menjadi titik krusial. Jika Iran merasa terpojok, ancaman penutupan jalur ini bisa menjadi kartu strategis.

Penutup

Gugurnya Ali Larijani dan Gholamreza Soleimani bukan sekadar kehilangan personal bagi Iran, tetapi pukulan simbolik terhadap struktur kekuasaan negara tersebut. Namun, apakah ini akan melemahkan Iran secara permanen atau justru memperkuat determinasi mereka? Tentu saja masih menjadi pertanyaan terbuka.

Jika Israel berharap bahwa strategi “decapitation” akan melumpuhkan Iran, maka sejarah konflik asimetris menunjukkan hasil yang justru seringkali sebaliknya: radikalisasi, konsolidasi, dan eskalasi berkepanjangan.

Dunia mungkin tidak sedang menyaksikan akhir dari konflik, melainkan awal dari fase yang lebih berbahaya dan tidak terprediksi.

*) Dr. Selamat Ginting, Analis Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.