Pada era 1950-an, Indonesia dipandang sebagai pemimpin dunia Islam modern. Beberapa negara Timur Tengah melihat Indonesia sebagai contoh negara Muslim besar yang berhasil merdeka dari kolonialisme, yang aktif di panggung global.
Oleh: Drs. M. Hatta Taliwang, MIKom
KEMPALAN: Soekarno dikenal sebagai pemimpin dunia ketiga yang sangat keras menentang imperialisme Barat, terutama Amerika Serikat dan sekutunya.
Melalui Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung, Soekarno mengumandangkan Konsep NEFO vs OLDEFO (New Emerging Forces vs Old Established Forces).
Sementara itu Imam Khomeini sering menggunakan istilah “Setan Besar” untuk Amerika Serikat. Khomeini seumuran dengan Soekarno. Khomeini Lahir 17 Mei 1900 sementara Soekarno lahir 1 Juni 1901. Tergolong segenerasi.
Karena itu banyak analis melihat bahwa narasi anti-imperialisme Soekarno dan gerakan Dunia Ketiga, menjadi salah satu referensi atmosfer ideologis yang kemudian juga memengaruhi gerakan revolusi di Iran.
Pada tahun 1950-an sampai 1960-an, Soekarno adalah ikon revolusi anti-Barat di dunia Islam dan Asia.
Tokoh-tokoh Timur Tengah banyak memperhatikan pidato-pidato Soekarno seperti: “To Build the World Anew”, “Let a New Asia and New Africa be Born”.
Gagasan ini mempengaruhi generasi aktivis Islam dan nasionalis di Timur Tengah, termasuk kalangan yang kemudian menjadi pendukung revolusi Iran.
Soekarno sangat dikenal di dunia dunia ketiga bersama Gamal Abdel Nasser (Mesir), Josip Broz Tito (Yugoslavia), Jawaharlal Nehru (India). Gerakan mereka ini melahirkan Gerakan Non Blok.
Karena itu sangat mungkin Khomeini mengetahui dan memperhatikan Soekarno sebagai simbol perlawanan terhadap Barat.
Ada beberapa tokoh intelektual Iran yang diduga terinspirasi oleh gagasan yang dipopulerkan oleh Soekarno, terutama semangat anti-kolonialisme dan kebangkitan Dunia Timur.
Pengaruh besar Konferensi Asia Afrika (Bandung 1955) menjadi momen psikologis penting bagi dunia Asia dan Afrika.
Pesan utama Soekarno saat membuka konferensi adalah agar Dunia Timur harus bangkit melawan kolonialisme. Bangsa Asia-Afrika harus percaya diri. Perlawanan terhadap dominasi Barat harus dilakukan secara politik dan budaya.
Pidato Soekarno “Let a New Asia and a New Africa be Born” sangat terkenal.
Di Timur Tengah saat itu, peristiwa ini dianggap sebagai kebangkitan dunia ketiga, perlawanan global terhadap kolonialisme Barat.
Gagasan ini kemudian menjadi atmosfer intelektual yang juga bisa mempengaruhi kalangan oposisi di Iran. Diduga tokoh intelektual Iran Ali Shariati (23 November 1933) yang saat Konferensi Asia Afrika di Bandung sedang berusia 22 tahun, suatu usia yang mulai muncul spirit pembrontakan melawan kemapanan di mana pada akhirnya dia dikenal sebagai ideolog/intelektual utama revolusi Iran terinspirasi melawan imperialisme, pembebasan bangsa tertindas.
Selain itu Mehdi Bazargan (1 September 1907) yang menjadi Perdana Menteri pertama Iran setelah revolusi 1979, termasuk kalangan intelektual Muslim yang diduga juga terinspirasi KAA 1955.
Saat konprensi Asia Afrika usianya 48 tahun, suatu usia matang untuk memahami keburukan rezim Shah Iran yang saat itu dan mendapat inspirasi juga dari KAA Bandung.
Sikap oposisi terhadap kekuasaan Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi sebenarnya mulai terlihat sejak awal 1960-an (pasca Konfrensi Asia Afrika), dan sudah menjadi sangat kuat pada 1977–1979 yang memicu Revolusi Iran.
Awal munculnya oposisi sekitar 1960–1963, perlawanan mulai nyata terutama setelah program reformasi Shah yang disebut “White Revolution”.
Reformasi tanah, modernisasi ekonomi, pemberian hak politik kepada perempuan (ulama dan kelompok tradisional menilai kebijakan ini terlalu pro-Barat dan (juga) melemahkan peran agama).
Ketimpangan ekonomi di mana modernisasi malah memperkaya elit dan kelas menengah kota, rakyat desa dan pekerja banyak yang miskin, korupsi, gaya hidup elit kerajaan yang dianggap berlebihan.
Pada tahun 1963 terjadi demonstrasi besar yang dipimpin oleh Khomeini, dan ia kemudian ditangkap dan diasingkan.
Tahun 1970-an, oposisi semakin luas dan melibatkan banyak kelompok seperti, ulama, mahasiswa, kelompok kiri, dan nasionalis. Kritik politik ditekan oleh polisi rahasia SAVAK yang bengis dan kejam.
Pada tahun 1978, demonstrasi besar terjadi. Aksi protes kemudian menyebar ke seluruh Iran dan memuncak pada peristiwa Black Friday (1978), yang semakin menyatukan oposisi terhadap Shah.
Akhirnya, Januari 1979 Shah meninggalkan Iran dan Februari 1979 revolusi telah berhasil meruntuhkan monarki Shah Pahlevi. Itu realitas di Iran pasca Konferensi Asia Afrika.
Tokoh-tokoh Timur Tengah pada akhir 1950-an sampai 1960-an, sangat familiar dengan nama Soekarno. Di beberapa negara di Timteng dan Afrika ada jalan yang diberi nama Soekarno.
Pada era 1950-an, Indonesia dipandang sebagai pemimpin dunia Islam modern. Beberapa negara Timur Tengah melihat Indonesia sebagai contoh negara Muslim besar yang berhasil merdeka dari kolonialisme, yang aktif di panggung global.
Soekarno sering mendapat sambutan luar biasa di Timur Tengah. Dalam soal anti kolonialisme/imprealisme Imam Khomeini ada kesamaan dengan Soekarno.
*) Drs. M. Hatta Taliwang, MIKom, Mahasiswa S3 Ilmu Politik UNAS, Mantan Anggota DPR/MPR RI

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi