Freddy Poernomo. (Foto: Dwi Arifin/kempalan.com)
SURABAYA-KEMPALAN: Anggota Komisi A DPRD Jawa Timur Freddy Poernomo menyoroti kinerja internal Komisi A dalam menjalankan fungsi pengawasan dan perencanaan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim). Ia menilai terjadi kemerosotan kinerja di tubuh DPRD, khususnya di Komisi A.
“Sak iki seng paling jembret DPRD-nya. Mohon maaf ya, saya di Komisi A, saya tuh jadi malu sekarang,” ujar Freddy di Surabaya, Senin (23/2).
Politisi Partai Golkar itu menyoroti tidak adanya rencana kerja (Renja) tahunan yang jelas di Komisi A. Menurutnya, dokumen tersebut semestinya menjadi dasar dalam menyusun program serta target prioritas.
“Apa sih? Renja setahun apa? Gak ada di Komisi A Renja-nya setahun, gak ada. Terus program prioritasmu apa? Target prioritasmu apa? Gak ada Komisi A,” tegasnya.
Freddy menegaskan, kritik yang ia sampaikan bukan dilatarbelakangi faktor senioritas, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab dan arahan internal.
“Saya bukan karena saya senior di Komisi A, enggak lah. Nanti dikira saya sombong, tidak. Tapi saya kasih arahan,” katanya.
Ia kembali menekankan bahwa kemerosotan justru terjadi di tubuh DPRD sendiri. Menurutnya, hingga kini Komisi A belum memiliki target kerja yang jelas.
“Saya nggak tahu ya, yang saya lihat dari Komisi A, nggak ada sekarang targetnya Komisi A. Bolak-balik tak takoki sih? Renjamu mana? Kalau kita ini mau membuat kegiatan tahun ke depan, Renja,” ungkapnya.
Freddy membandingkan dengan mekanisme perencanaan di lingkungan Pemprov Jatim yang dinilainya lebih terstruktur. Ia mencontohkan tahapan penyusunan R-APBD dan Musrenbang yang mengacu pada RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah).
“Kalau di Pemprov sebelum menyusun R-APBD, Musrenbang, disesuaikan dengan RPJMD. Mana yang menjadi skala prioritas? Tidak ada (di Komisi A),” ucapnya.
Ia bahkan menyebut kinerja DPRD Jawa Timur saat ini kalah cepat dibanding Sekretariat Dewan (Sekwan).
“Sekwan e banter sak iki. Lah kene gak onok terobosan opo-opo DPRD, kan malu saya,” katanya.
Freddy juga menyinggung lambannya respons Komisi A dalam sejumlah kasus, termasuk persoalan RS Pura Raharja. Ia mengaku sempat mengawal langsung kasus tersebut karena dinilai kurang cepat ditindaklanjuti komisi.
“Ini sudah saya sampaikan ke Komisi A, gak direspons. Terus kasus RS Pura Raharja, kemarin. Akhirnya saya pribadi yang kawal di balik itu, saya yang kawal, eh Komisi A-nya lelet, tidak cepat,” sebutnya.
Ia pun mencontohkan pengalamannya saat mengawal kasus pembunuhan aktivis lingkungan Salim Kancil pada 2015.
“Ndok kene disek kasus Salim Kancil, tak kawal sampai dieksekusi 17 orang ditahan, padahal bukan dapil saya lho ya,” tutup Freddy.
Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD Jatim Dedi Irwansyah saat dikonfirmasi mengenai Renja Komisi A menegaskan bahwa rencana kerja tersebut masih belum difinalisasi.
“Belum difinalisasi mas. Saya kan baru pulang,” ujarnya. (Dwi Arifin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi