KEMPALAN: Setelah peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2025 yang terpecah di dua kota, publik wartawan Indonesia kembali menyoroti organisasi mereka: Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Pertanyaan yang mengemuka: akankah dualisme kepengurusan PWI berakhir setelah terpilihnya H. Akhmad Munir sebagai Ketua Umum PWI Pusat periode 2025–2030?
Sabtu (30/8/2025), dalam Kongres PWI di Balai Pelatihan dan Pengembangan TIK Komdigi Cikarang, Munir meraih 52 suara, mengungguli Hendry Ch Bangun dengan 35 suara. Kemenangan ini tidak hanya simbol demokrasi organisasi, tetapi juga membawa harapan besar: menyatukan PWI yang terbelah.
Pada kongres itu Atal Sembiring Depari terpilih sebagai Ketua Dewan Kehormatan mengalahkan Sihono HT dengan suara tipis 33 dan 32 suara.
Akar Dualisme
Dualisme PWI bermula sejak munculnya dua kepengurusan di tingkat pusat. Satu dipimpin Hendry Ch. Bangun, satu lagi dipimpin Zulmansyah Sekedang. Situasi itu kemudian merembet ke perayaan HPN. Zulmansyah membawa PWI ke Pekanbaru, Riau, sementara Hendry memilih Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Dampaknya tidak sederhana. Dewan Pers turun tangan. Dalam rapat pleno, diputuskan PWI dilarang menggunakan kantor di Gedung Dewan Pers. Bahkan, uji kompetensi wartawan (UKW) yang menjadi agenda utama PWI dihentikan. Jika kedua kubu tidak mencapai kesepakatan, PWI terancam kehilangan haknya dalam pemilihan anggota Dewan Pers.
Di tengah suasana penuh ketidakpastian itu, figur Munir hadir menawarkan jalan keluar. “Saya ingin membawa PWI kembali bersatu dengan melakukan rekonsiliasi,” ujarnya sebelum kongres.
Figur Pemersatu
Munir bukan nama asing. Lahir di Sumenep, Madura, 15 Desember 1966, ia meniti karier jurnalistik dari bawah. Dari reporter Suara Akbar Jember, ia kemudian merambah Antara hingga menjadi Kepala Biro Bengkulu, Kepala Biro Jawa Timur, Direktur Pemberitaan, lalu puncaknya Direktur Utama LKBN Antara pada 2023.
Di organisasi PWI, ia pernah menjabat Ketua PWI Jawa Timur dua periode. Kiprah ini membuatnya paham betul bagaimana dinamika internal, sekaligus menempatkannya sebagai figur yang mampu menjembatani berbagai kepentingan.
Dalam proses menuju kongres, Munir aktif berkeliling daerah, menemui wartawan senior, menyerap masukan dari berbagai cabang. Langkah itu menjadikannya sosok dengan dukungan akar rumput sekaligus legitimasi moral.
Meski terpilih dengan suara mayoritas, tantangan Munir tidak ringan. Ia harus merajut kembali kepercayaan yang terkoyak akibat dualisme. Mengembalikan kantor PWI di Gedung Dewan Pers, memulihkan hak uji kompetensi wartawan, serta mengakhiri polarisasi internal akan menjadi pekerjaan rumah pertama.
Selain itu, era digital menuntut PWI bertransformasi. Organisasi wartawan tertua ini harus mampu beradaptasi dengan ekosistem media baru, menjaga profesionalisme, sekaligus membela kemerdekaan pers.
“Ke depan, saya memiliki mimpi besar: mengembalikan keagungan dan martabat PWI,” tegas Munir dalam pidato kemenangannya. Kini, publik wartawan menaruh harapan pada sosok yang dikenal rendah hati dan pekerja keras ini.
Terpilihnya Munir bukan sekadar pergantian ketua, tetapi momentum untuk menutup lembar kelam dualisme dan membuka babak baru perjalanan PWI.
Mampukah Munir menjawab tantangan itu? Waktu akan menguji. Namun, langkah pertamanya adalah rekonsiliasi sudah menjadi sinyal kuat bahwa ia ingin menulis ulang sejarah PWI, dari organisasi yang terpecah kembali menjadi rumah besar wartawan Indonesia.
Rokimdakas
Penulis di Surabaya
Senin, 1 September 2025

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi