Kamis, 7 Mei 2026, pukul : 23:16 WIB
Surabaya
--°C

Narasi Heroik Puisi Panjang ‘Kemerdekaan, Corona dan Korupsi’

KEMPALAN : Inilah puisi terpanjang karya M. Rohanudin yang termuat di halaman 53-56 buku kumpulan puisi tunggalnya Bicaralah yang Baik-Baik. Judulnya : ‘Kemerdekaan, Corona dan Korupsi’.

Boleh jadi karena panjangnya, setelah membaca puisi ini, saya menimbang-nimbang: apakah ini yang disebut Puisi Epik, atau Puisi Esai?

Kalau menilik karakternya, boleh jadi ini masuk genre Puisi Epik. Tetapi jika diamati dari cara menyampaikannya, mungkin Puisi Esai.

Mari kita coba telusuri :

Puisi Epik adalah jenis puisi yang menceritakan kisah-kisah heroik, petualangan, atau peristiwa penting dalam bentuk naratif, panjang, dan terstruktur — begitu garis bawah pada data kepustakaan.

Sering kali Puisi Epik memiliki karakteristik sebagai berikut:

Struktur panjang dan kompleks, dengan banyak babakan, “episode” per “episode”.
Dan, menceritakan kisah-kisah petualangan, pertempuran, atau pencarian.

Biasanya Puisi Epik memiliki tokoh utama yang kuat dan gagah berani, misalnya pahlawan atau pemimpin. Katakanlah semacam heroisme (bukan psedo hero).

Sering kali diindikasikan menggunakan bahasa yang kaya dengan metafora, simile, dan perangkat retoris lainnya.

Puisi “jenis” ini sering dihubungkan dengan konteks budaya tertentu, misalnya : mitologi, sejarah, atau tradisi.

Contoh Puisi Epik yang terkenal, antara lain: ‘Iliad’ dan ‘Odyssey’ karya Homer pada (Zaman Yunani Kuno’) ; ‘Mahabharata’ karya Vyasa dan ‘Ramayana’ yang ditulis Valmiki (Zaman India Kuno); dan masih ada beberapa lagi seperti ‘La Divina Commedia’ karya Dante Alighieri dari Itali.

Puisi jenis ini memiliki peran penting dalam sastra dan budaya, karena mengungkap kisah-kisah yang mendalam.


Sementara itu, Puisi Esai adalah bentuk puisi yang memadukan unsur-unsur puisi dengan esai, sehingga tercipta karya yang unik dan ekspresif. Puisi “jenis” ini sering kali memiliki karakteristik :

Struktur lebih bebas dan cenderung eksperimental ; sering kali mengeksplorasi tema-tema yang kompleks dan mendalam, seperti filsafat, politik, atau pengalaman pribadi — menggunakan bahasa yang kaya dan ekspresif, diperkuat metafora, simile, dan perangkat retoris lainnya; acap kali merefleksikan dan menganalisis tema-tema yang dibahas secara mendalam dan intens.

Ekspresi yang kuat dan unik, memungkinkan penulis menggabungkan kekuatan puisi dengan konstruksi esai.

Dengan demikian, Puisi Esai menjadi cara efektif untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman dalam bentuk yang kreatif dan ekspresif.


Dari deskripsi di atas, puisi karya Rohan ini mendekati etos Puisi Epik , meski tidak sepanjang epos ‘Mahabarata’ atau ‘Odyssey’, karya dari India dan dari Yunani itu.

Namun, dalam “gaya bercerita” puisi ini secara konstruksi lebih mengarah ke Puisi Esai.

Lantas bagaimana?

Saya tidak akan mengeksekusi karya penyair yang dilahirkan di Sumenep, Madura, ini sebagai Puisi Epik atau Puisi Esai. Yang jelas puisi sarat heroisme dan nilai-nilai kemanusiaan ini kaya akan metafora, simile serta elemen retoris lainnya, dan ungkapan-ungkapan dalam bingkai “sihir kata-kata”.

Banyak hal mengejutkan di luar daya jelajah saya seputar dunia perpuisian, ketika pertama kali saya membaca puisi ini.

Pada awalnya saya pahami menyiratkan surealisme. Atau boleh jadi sesuatu yang absurd.

Setidaknya itu saya baca pada beberapa bait dari 11 bait (termaktub dalam tiga Bab meski tidak dijelaskan secara eksplisit : Bab Kemerdekaan, Bab Corona, Bab Korupsi) — pada puisi empat halaman ini : mencekam, namun menyimpan keindahan sublim. Dan itu justru diawali pada bait ke-1 :

jangan berkedip,
majukan bola mata kencang-kencang ke depan
letakkan dua jari mengapit kelopak mata
jatuhkan ke bumi, junjung ke langit,
sampai mata bisa berkata-kata
dan menghitung angka-angka

Ya, sederet baris-baris yang ritmis dan kata demi kata yang menghasilkan “bunyi” indah — meski maknanya belum saya pahami benar. Maklum, mungkin karena baru sekali saya baca.

Dalam hati timbul pertanyaan : apakah bait ke-1 ini layak disebut surealis, absurd, atau sesuatu yang dipersepsi dalam bentuk suasana lainnya?

Setelah saya baca beberapa kali, saya baru paham bahwa Rohan mengajak menyimak baik-baik, mengingat panjangnya puisi ini, demi
interpretasi yang benar. Atau setidaknya mendekati benar.

Akhirnya saya pahami bahwa bait ini tampaknya memiliki makna yang dalam dan simbolis, dengan titik-titik simpul mengajak pembaca untuk melihat sesuatu agar lebih jelas dan mendalam :

  • Jangan berkedip dan majukan bola mata kencang-kencang ke depan, saya pahami sebagai ajakan untuk fokus dan memperhatikan sesuatu dengan lebih seksama.
  • Letakkan dua jari mengapit kelopak mata, sebagai upaya untuk mengamati sesuatu dengan lebih teliti dan detail. Ini mungkin juga semacam effort untuk mengontrol atau memfokuskan pandangan.
  • Jatuhkan ke bumi, junjung ke langit , sebagai cara untuk mencapai pemahaman yang lebih baik dari perspektif yang lebih luas maupun yang spesifik. Mungkin juga untuk dipahami sebagai upaya menyeimbangkan aspek material dan spiritual.
  • Sampai mata bisa berkata-kata, adalah usaha untuk mencapai kemampuan mengungkapkan apa yang dilihat dan dipahami. Mungkin juga sebagai cara untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara efektif.
  • Sedangkan baris dan menghitung angka-angka, saya pahami sebagai daya dorong untuk bisa menghitung sesuatu dengan lebih akurat.

Secara keseluruhan, bait pembuka ini mengajak pembaca untuk melihat dan memahami sesuatu dengan lebih benderang, teliti, dan mendalam. Juga untuk mengembangkan kemampuan mengungkapkan dan menghitung sesuatu dengan lebih akurat.

Memang jika kita amati secara “telanjang”, kelihatannya bait puisi ini mencerminkan surealisme atau absurditas. Namun tidak seperti itu jika kita mau menyibak di balik “misteri” jalinan kata-kata tersebut. Ini adalah narasi yang merefleksikan kondisi yang terstruktur secara realistis.


Mengapa Rohan sampai mengajak seserius itu?

Tampaknya di usia senja penyair ini, ada tiga hal yang paling mengendap di sudut hatinya, dan sesuatu itu begitu sangat pentingnya — menoreh, menatah, menggurat dalam-dalam di lubuk jiwanya, yaitu : kemerdekaan, corona, dan korupsi.

Tentang ‘kemerdekaan’ antara lain Rohan jlentrehkan pada bait ke-2 :

para pujangga menulis sajak-sajak Indonesia
yang menggelora sempurna, bercahaya
hamparan padi-padi menguning,
pohon-pohon nyiur hijau melambai-lambai,
langit biru berparaskan pelangi membentang
dari Bener Meriah Aceh sampai ke Dana,
menyalakan Indonesia Merdeka

Namun demikian, kemerdekaan yang diraih dengan mengorbankan nyawa, tetesan darah dan keringat, serta lara lapa bertingkat-tingkat ini, terus dihadapkan pada rintangan dan sandungan bertubi-tubi — baik dari dalam maupun luar negeri.

Perihal rintangan dan sandungan sebagaimana saya sebut di atas, inilah refleksinya yang tertera di baris satu hingga baris empat pada bait ke-3, yaitu :

tapi kemerdekaan bagi tetangga sebelah adalah dagelan,
topeng-topeng, dongeng dan mimpi buruk
karena mereka melihat Indonesia
dengan teropong sedotan limun

Apalagi jika “tetangga” yang dimaksud pada baris-baris puisi di atas adalah proxy dari negara(-negara) besar yang hendak mengeruk sumber daya alam Indonesia.

Dan itu bisa jadi disubstansikan dengan indikasi baris-baris kalimat pada bagian lain bait ke-3 — baik yang menyangkut ancaman musuh dalam selimut, maupun dari luar dengan segala daya dan upaya :

tapi hatinya bengis,
jiwanya kotor lebih kejam dari jagal sapi,
mulut mereka menganga
menghembuskan bau busuk yang menjijikkan

Untuk memasuki babakan baru (sebut saja Bab II) dari puisi panjang yang dinarasikan oleh seorang penari ini, Rohan dengan cerdik merepetisi bait ke-1 yang dimulai dengan baris jangan berkedip dan seterusnya itu. Lantas mengalirlah baris-baris ini :

sekarang berbaringlah di langit
lihatlah hamparan tanah nusantara, riuh rendah,
mencekam dengan banyak pertanyaan
di negeri kita musim paceklik
apakah corona itu virus
atau malaikat pencabut nyawa?
dokter-dokter, paramedis pejuang kemanusiaan
terus disayat-sayat
mereka terluka, luka-luka,
ada yang terluka, perihnya lebih sakit dari dilukai,
berakhir dengan kematian,
mengenaskan dikubur tanpa ceremony

Pada pembuka Bab II (tentang Corona) ini, ada semacam pesan terselubung dari sang penulis bahwa puisi panjangnya ini akan lebih terasa “ekstase”-nya jika dibacakan — lebih-lebih oleh deklamator atau poetry reader yang tangguh. Sebab, puisi ini cenderung kuat dramaturginya.

Perhatikan baris ke-10 dan ke-11 pada bait ke-6 (Bab II) ini. Ada 4 “kosa kata” : ‘terluka’/’luka-luka/’terluka’/
‘dilukai’.

Ini mengindikasikan betapa dahsyatnya pandemi yang berlangsung selama 3 tahun tersebut.

Dan itu, sekali lagi, akan terasa “dahsyat”-nya (Covid-19) jika bisa menghidupkan unsur-unsur dramaturgi puisi ini dengan dibacakan/dideklamasikan secara performance.

Tentu, akan lebih terasa jika jeli memilih pelaku performance. Salah satu kekuatan bait ke-6 ini terletak pada unsur repetisi ‘luka’.


Pada akhirnya puisi ini ditutup dengan bait ke-11 tentang carut-marutnya kemerdekaan lantaran dirusak oleh korupsi :

kemerdekaan adalah kehormatan
kehadirannya disaksikan dengan kematian,
darah, sumpah dan luka
jatuhkanlah kemerdekaan di atas kemiskinan,
karena kemiskinan yang abadi merampas hak, martabat dan air mata

Kenapa bisa begitu? Kenapa hak, martabat dan air mata, bisa terampas?

Rohan terlebih dulu memberi semacam “kode” yang termanifestasikan pada bait ke-4 secara flash back.

Intinya korupsi telah melumpuhkan seluruh bangunan sosial-ekonomi masyarakat.

Begini eksplisitasnya :

mulut mereka menganga
bagai serigala kelaparan di hutan kering
semua disergap, tak peduli serigala kecil
yang lahir dari perutnya sendiri
jiwanya kosong, matanya rakus semua dibungkus

Begitulah fakta jahatnya korupsi, sebaimana diliterasikan Rohan.

Namun, meski begitu, penyair ini memberi harapan betapapun hebatnya daya rusak korupsi, dengan sebaris kalimat di akhir bait ke-4 :

tapi Tuhan tidak bisa disuap.
(Amang Mawardi).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.