Senin, 22 Juni 2026, pukul : 07:28 WIB
Surabaya
--°C

Apakah Filsuf Juga Penyair?

KEMPALAN : Konon urutan derajat olah rasa dan olah pikir manusia setelah nabi adalah : 1. Filsuf; 2. Penyair; 3. Manusia pada umumnya.

Yang konon itu lantas menjelaskan secara paradoks bahwa filsuf sering memerankan dirinya sebagai penyair. Demikian juga penyair, pandangan-pandangannya acapkali terbaca sebagai filsuf. Hanya saja, prosentase kepenyairan seorang filsuf tidak sebanyak seorang penyair.
Demikian sebaliknya, peran kefilsufan seorang penyair, tak sebesar seorang filsuf.

Namun, ada banyak orang di kalangan seni dan budaya menganggap bahwa penyair itu sesungguhnya adalah filsuf. Hanya derajat kefilsufan masing-masing penyair berbeda, tergantung dari “jam terbang” dan “kesungguhan” mendalami dunia pencerahan.

Filsuf dan penyair acapkali menggunakan metafora dan simbol-simbol untuk menyampaikan gagasan-gagasannya. Intinya, setiap yang berkesadaran punya pandangan khas terhadap alam semesta.

Mereka selalu aktif berpikir kritis untuk memecahkan masalah-masalah besar yang menyangkut way of life manusia.

Tentu untuk memecahkan problem dimaksud, ada yang dengan cara serius, ada yang dengan “strategi” yang kelihatannya guyon, penuh canda, tapi sesungguhnya : tetap serius.

Kebanyakan filsuf menjalankan “strategi”-nya dengan serius. Sedikit yang mengutarakan jalan pikirannya dengan guyon, canda, bikin orang senyum simpul. Namun, tujuannya sama : menghasilkan permenungan.

BACA JUGA  Sengit Layaknya PON, Kecamatan Sidoarjo Juara Umum Akuatik PORKAB 2026

Salah satu contoh dari yang sedikit itu adalah filsuf dari Persia (sekarang disebut Irak), yaitu Nasrudin Hoja yang di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan : Abunawas.

Nah, membaca puisi-puisi yang ada di buku kumpulan puisi Bicaralah yang Baik-Baik, akan mendapati banyak puisi yang bernuansa serius, sedikit yang menyiratkan suasana guyon, canda, sarat humor.

Dari yang sedikit itu tampaknya adalah puisi berjudul ‘Allahu Akbar’.

Mari kita asyiki puisi ini :

ALLAHU AKBAR

kulihat kau lewat teropong sedotan limun
“kau cantik”
kulihat kau lewat teropong jarum suntik
“kau lebih cantik”
itulah maha Allah Akbar

Sebagaimana pada puisinya ini, M. Rohanudin mengajak Tuhan bercanda. Eits…, nanti dulu. Maksudnya bukan begitu. Yang ia ajak bercanda adalah kita. Manusia. Bukan Tuhan. Rohan sekadar memaparkan fakta.

Lewat kosakata ganda ‘sedotan limun’ dan ‘jarum suntik’ ia mengajak kita guyon.

Namun, di balik lubang dua benda itu, sesungguhnya secara esensial, Rohan mengajak serius. Bahkan sangat serius.

BACA JUGA  Gila! UNESA Siapkan Lahan Puluhan Hektare demi Bangun 5 Lapangan Mini Soccer Internasional

Sekali lagi, maaf, coba perhatikan baris-baris di bawah ini :

kulihat kau lewat teropong sedotan limun
“kau cantik”
kulihat kau lewat teropong jarum suntik
“kau lebih cantik”

Secara “degree comparison” lubang ‘sedotan limun’ itu lebih besar dibanding lubang ‘jarum suntik’. Tapi, oleh Rohan, lewat lubang ‘jarum suntik’ Tuhan dimetaforakan terlihat lebih cantik.

Manakala ada yang mempersepsikan Tuhan itu (sangat) kecil, maka penampakannya justru menjadi lebih besar dari yang dipersepsikan. Ini bukan parodi, melainkan realitas dari dialektika spiritual.

Dan yang tak disangka, Rohan menutup puisi ini dengan “plot twist” yang manis :

itulah maha Allah Akbar

Artinya, dalam baris penutup ini, Rohan memperkuat kefilsufannya dengan untaian kata yang tidak klise : maha Allah Akbar. Bukan sebagaimana lazimnya: ‘Allah Maha Akbar’. Atau ‘Allah Maha Besar’.

Penyair yang kreatif selayaknya menghindari hal-hal yang klise. Dan Rohan mengamini dengan cerdik dan bijak. (Amang Mawardi).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.