Rabu, 6 Mei 2026, pukul : 19:56 WIB
Surabaya
--°C

Dulu Tukang Becak, Kini Komisaris Polisi

KEMPALAN : Apa yang muncul di benak ketika mendengar kata ‘reuni’ ?

Yang pertama, aktivitas pertemuan sesama teman-teman lama.

Yang kedua, mungkin adanya saling melepas rindu setelah sekian waktu tidak bertemu (di situ barangkali terbersit juga CLBK/Cinta Lama Belum Klar bagi yang dulu pernah terjalin saat sekolah).

Selanjutnya munculnya rasa –sadar atau tidak– ingin memunculkan succsess story bagi yang menganggap kariernya berhasil. Dan masih banyak makna koneksitas yang timbul dari aktivitas tersebut.

Sekian waktu lalu –persisnya tahun 2016– berkaitan dengan sekolah saya dulu, yakni STM Negeri II Kimia Industri Surabaya, mengadakan reuni akbar selama tiga hari di sebuah resor di Lawang, Malang, Jawa Timur, yang view-nya indah bukan main.

Reuni ini diisi juga dengan wisata di banyak lokasi di seputar Malang, dari Museum Angkut dan Jatim Park di Batu, hingga laut tiga warna di pantai selatan. Itupun masih ditambah dengan beberapa objek lain.

Pokoknya para peserta dengan membayar Rp 600.000 dimanjakan dengan berbagai fasilitas. Perkiraan saya, mestinya peserta membayar lebih dari itu jika melihat fasilitas yang diberikan panitia.

Meski saya hanya ikut acara resepsinya pada hari kedua malam itu, dan pulang keesokan harinya, saya benar-benar merasakan banting-tulang panitia untuk menyukseskan acara ini.

Lho, jadi saya tidak ikut penuh acara reuni ini? Betul ! Mengapa ?

Pertama, terus terang, rasanya fisik saya tidak kuat jika harus mengikuti acara ini penuh dengan berwisata ke sejumlah lokasi.

Kedua, terus terang lagi, hari-hari belakangan saya tidak punya uang sebanyak itu. Padahal saya ingin kumpul-kumpul bersama teman-teman lama. Kok bisa ikut?

Saya (dan beberapa orang teman) mengajukan usul ke panitia, agar boleh mengikuti malam resepsi saja.

Panitia pun bijak dan tanggap. Usul kami diterima. Kami pun cuma membayar Rp 175.000/orang dengan fasilitas menginap semalam di cottage mewah, ditambah makan malam, sarapan, dan saat mau pulang disangoni satu dos bingkisan oleh-oleh khas Malang.

Bagi yang hadir tidak penuh seperti saya, yang paling menarik adalah saat malam resepsi di hall resor tersebut.

Sekitar 100 orang yang datang dari daerah di Tanah Air diperkenalkan satu per satu oleh panitia, baik secara wilayah (Jawa, DKI Jakarta, luar Jawa) maupun secara angkatan.

Saya tidak menyangka yang hadir malam itu banyak yang sudah “jadi orang”. Ada yang masih dinas dengan pangkat kolonel, kombes, pensiunan kepala dinas setingkat provinsi, doktor kimia, pensiunan general manager, pengusaha sukses, dan masih banyak lagi embrio untuk dikisah-sukseskan.

Bahkan diselipkan informasi ada alumni yang bintang satu (marsekal pertama) yang meninggal dunia sekitar dua bulan sebelum acara tersebut.

Intinya, acara malam mitu yang dihadiri lebih kurang 100 alumni sebagaimana saya sebut di atas, sebagian banyak adalah sosok-sosok sukses.

Di antara munculnya sekian succsess story, saya tertarik guyonan mantan kakak kelas saya dulu kepada seorang mantan adik kelas, “Kon dadi pulisi ojok mbegedut, ojok lali kon biyen mbecak…(kamu jadi polisi jangan sok, ingat kamu dulu pernah jadi tukang becak…).

Saya pikir ini cuma main-main, sekadar guyonan, ternyata true story!

Saat sekolah dulu, yang kini polisi memang nyambi jadi tukang becak.

“Pernah juga nyambi jualan bakso keliling,” jelas kakak kelas saya itu di depan cottage nomor 705 usai acara senam pagi massal.

Sementara yang dimaksud polisi di sini, cuma membalas Dengan senyam-senyum.

Bagi saya, succsess story polisi inilah sukses sebenar-benarnya. Betapa berdarah-darah dia saat sekolah dulu, meski ini bukan kisah tunggal. Banyak kisah sukses lainnya mirip pak polisi ini di Tanah Air.

Mendatangi reuni tentu tidak sekadar menyaksikan “kisah sukses”, juga “kisah sedih” para alumni meski tidak banyak jumlahnya.

Tiba-tiba saya teringat ucapan sobat saya Agus Bing seorang seniman yang doktor yang pernah mengajar di Universitas Pasundan, Bandung, katanya: Yang sukses jangan lantas menengadahkan dagu –sadar atau tidak sadar– saat melihat ada teman kurang beruntung. Sebab beruntung atau tidak, itu tidak terlalu penting.

Yang lebih penting, lanjut Agus, adalah seberapa jauh tanggungjawab setiap orang dalam memikul beban hidup. Biar pun tukang sablon atau pedagang warung mracangan (sembako), kalau punya tanggungjawab terhadap kehidupan yang dijalani, dia adalah pahlawan bagi diri sendiri dan keluarganya …

“Dan …” tambah Agus Bing, “Manakala seseorang yang nasibnya ‘kurang beruntung’ dalam konteks nilai-nilai ekonomi mau hadir pada acara reuni yang banyak dihadiri orang-orang yang menggenggam success story, maka dia termasuk salah seorang pemenang. Ia berhasil menaklukkan sisi psikologisnya, memenangkan dirinya. Itulah barangkali yang disebut pribadi unggul…!”

Lantas siapa yang dimaksud dengan alumni yang dulu pernah mbecak itu? Sosok periang ini adalah Prawoto alumnus tahun 1976 (tiga tahun di bawah angkatan saya). Sebelum pensiun dengan pangkat komisaris (setingkat mayor TNI), sosok ini bertugas di Polres Mojokerto, Jawa Timur. (Amang Mawardi).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.