Guru dan Pinjol

waktu baca 3 menit
Seorang guru honorer di Kabupaten Semarang yang terjerat pinjol (*)

KEMPALAN: Guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Guru juga disebut sebagai orang yang ‘’digugu lan ditiru’’, didengar omongannya dan diteladani tindakannya. 

Tetapi, dalam praktiknya tidaklah demikian. Ungkapan itu hanya jargon kosong semata. Guru tidak pernah dihormati sebagaimana para pahlawan. Mau bukti? Kalau ada ada guru meninggal cobalah makamkan di Taman Makam Pahlawan. Pasti auto ditolak. 

Bisa dimakamkan di makam kampung saja sudah alhamdulillah. Kalau saja ada pembayaran pajak pemakaman oleh pemerintah kota, hampir pasti para keluarga almarhum guru kesulitan membayar.

Guru digugu lan ditiru. Tapi sekarang diplesetkan menjadi ‘’Wagu lan Kuru’’, janggal dan kurus. Penampilannya kurang menarik dan badannya kurus kurang gizi. Mungkin ungkapan ini lebay, tidak sepenuhnya benar. Tapi, kenyataan bahwa sangat banyak guru yang cuma digaji Rp 250 ribu sebulan menunjukkan bahwa penampilan guru benar-benar ‘’wagu lan kuru’’.

Bukti lain mengenai guru yang wagu lan kuru muncul dari data yang dirilis OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Di tengah maraknya pemberitaan kasus pinjaman online atau pinjol muncul hasil survei OJK sebanyak 47% guru menjadi korban terbesar pinjaman online ilegal. 

Banyak yang kepo mengapa bisa demikian? Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan bahwa perilaku konsumtif membuat guru menggunakan pinjol. “Ini sudah banyak kebutuhan pun konsumtif, seperti itu mulailah mereka terjerat pinjol-pinjol ilegal,”katanya.

Menurutnya, para guru sudah mengerti soal ancaman digital, tetapi belum sepenuhnya terliterasi, sehingga bisa menghindari jeratan pinjol. “Karena itu, kita terpanggil untuk bagaimana kita merangkul guru-guru ini. Kita didik satu guru, satu kelas, satu sekolah akan menjadi well-literated,” katanya.

Untuk itu, OJK mengadakan edukasi keuangan bagi guru Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI), yakni acara Training of Trainers bagi guru dengan tema “Guru Cerdas Keuangan, Wujudkan Masa Depan Sejahtera.” Ini diadakan sekaligus memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Menyalahkan guru karena berperilaku konsumtif sehingga terjerat pinjol tentu tidak fair. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Status sosial guru di masyarakat sedikit banyak masih dihormati. Tetapi, gaji guru yang minim membuat para guru harus bekerja keras menutup pasak yang lebih besar daripada tiang. Karena itu godaan berutang ke pinjol tidak terhindarkan.

Beberapa guru membagikan pengalaman “pahit” mereka atas produk jasa keuangan ilegal secara langsung. Salah satunya, Arlin, yang suatu hari mendapatkan telepon saat sedang mengajar yang menyebut ia telah mendaftarkan asuransi kesehatan.

Pihak yang menelepon itu menyebutkan data-data Arlin dengan lengkap. Ia lantas meminta untuk dibatalkan karena sudah memiliki asuransi. Tetapi pembatalan tidak pernah dilakukan dan Arlin menerima tagihan sampai Rp3 juta.

Karena tidak mau membayar, ia diteror melalui pemanggilan di handphone. Arlin sampai mengganti nomor namun tetap mendapat teror. Bahkan pihak yang menagih sampai mendatangi sekolah tempat Arlin mengajar. Pada akhirnya, karena sudah ditekan dari berbagai pihak, ia akhirnya membayar tagihan yang tidak pernah ia lakukan itu. 

Hj. Enty Haidaroh Djuraid guru SMP Muhammadiyah 14 Manukan Kulon Surabaya bercerita bahwa ada koleganya yang terlibat pinjol sampai memunculkan teror ke sekolah. ‘’Cara menagihnya sudah tidak manusiawi, melakukan teror ke sekolah dan ke rumah,’’ kata Enty yang baru menjalankan ibadah haji.

Dengan maraknya kasus ini pemerintah dan masyarakat bertanggung jawab terhadap kondisi ekonomi guru. Dengan remunerasi yang memadai, para guru bisa lebih konsen untuk meningkatkan kualitas pribadi, dan kemudian bisa mengajar dengan lebih baik. (dad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *