Rabu, 22 April 2026, pukul : 13:42 WIB
Surabaya
--°C

Presiden Jokowi dan Anak-Anaknya

KEMPALAN: Pak Jokowi memang Presiden fenomenal. Dukungan pribadi beliau dibutuhkan oleh hampir semua partai, kecuali oposisi murni. Tak hanya dukungan pak Jokowi yang diperebutkan di Pilpres 2024 ini. Tapi anak anak pak Jokowi juga diperebutkan. Ada yang ujug-ujug dijadikan ketua partai Politik. Ada yang ditawari jadi Cawapres. Ada yang “ngirik iriki” ibu Iriana. Ada yang tahu arti ngirik-iriki? Itu maksudnya mempersuasi agar bu Jokowi mau diajak dukung mendukung.

Mereka sadar, telunjuk dan ucapan dukungan pak Jokowi dan keluarga adalah seperti mantra yang ditunggu dan diharapkan ngarah pada mereka. Inilah panggung politik Indonesia yang dinamis dan dramatis, karena ada peran dan sentuhan keluarga istana. Panggung politik jadi makin menarik dan terus ditunggu hasil akhirnya. Tiap ada isu terkait pak jokowi dan keluarga, akan jadi trending, agenda media dan menenggelamkan isu politik lainnya. 

Persoalannya sampai kapan peran Pak Jokowi dan keluarga akan terus jadi bintang panggung politik nasional? Apa setelah beliau berhenti dari jabatan presiden, kepala negara, dan pemerintahan akan terus menjadi pusat kekuatan dinamika politik Indonesia? Tentu semua ada waktu dan jamannya. Kita hanya diingatkan “Ojo Kesusu” sekarang masih era pak Jokowi. 

Beliau masih menjadi pemegang peran sentral kekuasaan. Ke depan setelah ada presiden baru, era itu pasti akan berubah. Bisa saja pemimpin baru melanjutkan kebijakan dan legasi pak Jokowi. Tapi tak menutup kemungkinan bisa juga berubah dan berbeda dengan sekarang. Ini yang jadi alasan mengapa pak Jokowi hati-hati dalam menentukan dukungan pada siapa yang akan layak meneruskan pemerintahannya. 

Secara sejarah, tak pernah ada matahari kembar dalam kekuasaan di Nusantara. Satu dengan yang lain akan selalu ingin berbeda dan menggantikannya. Jika salah dalam memilih dan menunjuk dukungan ke pengganti, bisa beresiko, kecuali pada anak sendiri.

Siapapun akan sulit mencari orang yang tulus dan loyal, konsisten patuh pada pendahulunya. Kekhawatiran itulah yang mungkin membuat pak Jokowi membiarkan putra-putranya berpolitik, yang awalnya hanya berjualan pisang dan martabak. Siapa tahu mereka bisa menjaga kelangsungan kebijakan dan legasi pak Jokowi. 

Pak Jokowi adalah ahli strategi. Pasti semua direncanakan dan dipersiapkan, agar apa yang terjadi ke depan bisa baik untuk negeri ini dan baik juga untuk diri keluarganya. Hingga  sekarang masih sulit ditebak kemana jari telunjuk pak Jokowi mengarah. Itulah persoalan komunikasi politik terkait legasi.

Anak-anak sendiri lebih dipercaya dibanding orang lain itu logis, walau sebaik dan sedekat apapun orang lain. Namun, mendahulukan anak-anak sendiri juga tidak tanpa resiko. Sejarah mencatat, banyak kekuasaan hancur dan buruk di akhir masanya, dikarenakan kebijakan memberikan privilege pada anak dan keluarga. 

Soeharto misalnya, sangat kuat dan dominan hingga 32 tahun, tapi merosot dan tumbang karena mendahulukan kepentingan anak-anak, keluarga, dan kroninya. SBY yang pernah menjulang dan terpilih dua periode, belakangan partainya tak juga membesar, salah satunya karena mengistimewakan anak-anak SBY daripada menguatkan kader lain yang berpotensi. 

Begitu pula PDIP sebagai partai besar, dua kali pemenang Pemilu juga kesulitan saat mau menaikkan Puan, anak kandung Ketua Umum sebagai bacapres. PDIP justru menang dan membesar karena mengakomodir tokoh di luar garis keturunan Soekarno, yaitu Jokowi.

Pengalaman ini harus jadi pelajaran. Kecintaan pada anak itu baik, tapi jangan “gege mongso”. Jangan membiarkan anak-anak dipersepsi publik mendapatkan keistimewaan dari keadaan politik di era orang tuanya berkuasa.

Jangan membiarkan anak-anak itu memperoleh sesuatu yang belum saatnya, hanya karena lingkungan mendorongnya karena kebesaran orang tua. Jika orang tua membiarkan anak bertindak “gege mongso”, maka akan memunculkan persepsi buruk, dan bisa mengurangi bahkan menghancurkan citra yang sudah terbangun baik pada orang tuanya. Ingat “politics is perception”. 

Maka kehati-hatian dan sensitif terhadap pengalaman sejarah harus jadi pelajaran. Baik untuk keluarga Presiden Jokowi maupun pihak-pihak yang ingin memanfaatkan kekuatan pak Jokowi dan keluarganya, terutama anak-anaknya. ()

Henry Subiakto (Guru Besar Ilmu Komunikasi Unair)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.