Bendera Palsu Panji Gumilang

waktu baca 5 menit
Panji Gumilang

KEMPALAN: Tidak banyak yang mengenal nama Abdussalam Rasyidi. Tapi nama Panji Gumilang hampir pasti dikenal atau pernah didengar banyak orang. Panji Gumilang adalah nom de guerre, nama pangung, yang dipakai Abdussalam dalam aktivitas sehari-hari. Nama itu lebih ‘’matching’’ dengan gayanya yang penuh warna, dengan tampilan khas peci hitam tinggi ala Bung Karno dan dilengkapi dengan kacamata hitam.

Panji Gumilang, lahir pada 1946, menjadi sosok kontroversial beberapa waktu belakangan ini karena aktivitasnya sebagai pemimpin Ma’had Al-Zaytun yang kontroversial. Salah satu yang viral adalah aktivitas shalat Idul Fitri yang tidak lazim, karena posisi shaf yang berbaris renggang ala militer, dan ada seorang wanita di shaf terdepan di belakang imam.

Panji Gumilang mengajarkan salam Yahudi dan sering mengutip Kitab Taurat. Ia berencana membuat pesantren Kristen, dan menyebut agama-agama Ibrahimi itu sebagai agama yang sama. Kontoversi lainnya adalah memperbolehkan penebusan dosa besar—termasuk zina—dengan pembayaran denda dalam bentuk uang.

Itu adalah serangkaian kontroversi yang belakangan ini viral. Mereka yang kurang well-informed akan menyangka bahwa Panji Gumilang dengan segala kontroversinya adalah barang baru. Padahal Panji Gumilang adalah stok lama dan semua kontroversi yang menyertainya juga barang lama.

Era media sosial belakangan ini membuatnya viral dimana-mana. Salah satu video terpotong menggambarkan Panji Gumilang mengatakan bahwa dirinya komunis. Tidak jelas konteks pembicaraan itu karena videonya tidak utuh.

Dari potongan itu bisa diketahui bahwa dia bercerita mengenai kemajuan China di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping, dan menjelaskan kemampuan China untuk menjadi super power baru menggantikan Amerika Serikat. Dalam video itu disebutkan kebijakan Deng yang pragmatis dengan mengutip pernyataan yang terkenal ‘’doesn’t matter whether the cat is black or white as long as it cathes mouse’’, tidak peduli kucing putih atau hitam yang penting bisa menangkap tikus.

Dari pragmatisme politik itulah Panji Gumilang kemudian menyebut dirinya sebagai komunis. Artinya, dia lebih memilih jalan pragmatis seperti Deng untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Panji Gumilang mungkin memuji Soeharto yang memakai pendekatan pragmatis, dan bisa membawa kemajuan ekonomi Indonesia sebelum jatuh oleh krisis moneter 1998.
Sebenarnya tidak ada yang baru dari kontroversi Panji Gumilang. Ia mengajarkan kesamaan agama-agama Ibrahimi—atau bahkan semua agama. Ajaran itu selama ini dikenal sebagai teosofi yang sudah ada di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Dalam teori filsafat paham kesamaan agama itu disebut sebagai filsafat perennial. Inti ajarannya adalah banyak jalan menuju satu Tuhan.

Ajaran ala Panji Gumilang sama saja dengan gerakan Islam Liberal yang diperkenalkan oleh Ulil Abshar Abdalla melalui Jaringan Islam Liberal (JIL) pada 2001. Kelompok ini berpusat di Utan Kayu, Jakarta, dan disokong penuh oleh Goenawan Mohamad. Gerakan JIL menjadi kontroversi besar sampai Ulil Abshar menjadi sasaran fatwa hukuman mati dan dihalalkan darahnya.

Gerakan JIL ramai selama 10 tahun dan sekarang redup, karena Ulil Abshar sudah insaf dan sekarang menekuni tasawuf dengan spesialisasi kitab Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali. Beberapa pengikutnya sudah mendapat jabatan sebagai komisari BUMN, atau ada juga yang menjadi dubes. Selebihnya ada yang menjadi caleg PSI (Partai Solidaritas Indonesia), seperti Ade Armando.

Isu-isu liberalisme Islam masih sering disuarakan berulang-ulang oleh Denny Siregar, Abu Janda, Eko Kuntadi, Habib Kribo, dan kelompoknya. Mereka tidak punya basis ilmu seperti yang dimiliki Ulil Abshar. Karena itu argumen-argumennya dangkal, membosankan, dan tidak punya referensi.

Kontroversi jamaah wanita di shaf depan yang terjadi di Pesantren Al-Zaytun adalah salah satu contoh dagangan lama kelompok Islam Liberal. Isu ini sudah lama terjadi di Amerika Serikat dengan munculnya Amina Wadud, wanita muslim, yang menjadi imam dalam shalat Jumat di masjid New York dan Inggris pada 2005 dan 2008.

Tindakannya itu menimbulkan kontroversi dan protes dari kalangan muslim seluruh dunia. Tetapi media Barat melindunginya atas nama kebebasan beragama. Amina Wadud pun mendapat julukan ‘’Lady Imam’’ atau imam perempuan dari media Barat.

Pernyataan Panji Gumilang bahwa Al-Qur’an adalah ucapan Nabi Muhammad, bukan firman Allah, adalah dagangan lama yang sudah basi yang sering diungkapkan orang-orang liberal. Pandangan ini sudah lama muncul dalam khazanah pemikiran Islam sejak munculnya pemikiran Mu’tzilah dan Murji’ah pada abad kedua Hijriyah.

Dua kelompok ini meyakini kebebasan akal manusia melebihi wahyu. Akal mendapat posisi yang lebih utama dibanding dengan wahyu. Kelompok ini berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah suara moral Muhammad dan bukan wahyu. Al-Qur’an bukan firman Allah tetapi makhluk Allah, sama dengan makhluk ciptaan lainnya.

Ulil Abshar Abdalla dianggap sesat dan muncul fatwa darahnya halal dari seorang ulama. Tetapi sampai sejauh ini tidak ada fatwa hukuman darah halal, atau hukuman mati, terhadap Panji Gumilang. Sampai sejauh ini banyak yang dilaporkan ke polisi karena pelecehan agama. Tetapi Panji Gumilang masih tetap aman.

Pendeta Saifuddin Ibrahim menyebarkan ajaran yang sama dengan Panji Gumilang, karena dia pernah belajar dan mengajar di Al-Zaytun. Saifuddin sekarang melarikan diri ke Amerika dan menjadi buron polisi. Masih banyak lagi yang dilaporkan karena pelecehan agama, tapi Panji Gumilang tenang-tenang saja.

Ribuan orang melakukan unjuk rasa mengepung pesantren Al-Zaytun. Alih-alih mundur, Panji Gumilang malah mengusir pengunjuk rasa dan membentak-bentak polisi yang bertugas. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menyatakan ajaran Al-Zaytun menyimpang, tetapi belum ada tindakan kongkret.

Analis intelijen Al-Chaidar menduga Panji Gumilang dan Pesantren Al-Zaytun adalah produk intelijen. Proyek ini sengaja didirikan di Indramayu sebagai ‘’false flag’’ bendera palsu untuk mengecoh kelompok Islamisme yang menghendaki berdirinya Negara Islam Indonesia (NII).

Gerakan NII dan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berakar kuat di Indramayu dan beberapa wilayah di Jawa Barat. Wilayah itu merupakan stronghold, wilayah kekuasaan, S.M Kartosoewirjo yang memberontak terhadap pemerintah Jakarta pada 1960-an. Kartosoewirjo ditangkap dan dihukum mati, tetapi gagasan NII tetap hidup sampai sekarang.

Al-Zaytun disebut sebagai bendera palsu untuk mengecoh masyarakat yang mengira Panji Gumilang adalah penerus atau representasi Kartosoewirjo. Kabar yang beredar menyebutkan pesantren itu bisa menghimpun infak masyarakat miliaran rupiah dalam sehari. Jika jumlah itu benar, maka berarti aspirasi terhadap NII di Jawa Barat masih sangat masif. Karena itu, harus ada operasi intelijen untuk membelokkan dana itu supaya tidak menjadi bahaya laten.

Kontroversi Panji Gumilang tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Sangat mungkin, menjelang pemilihan presiden 2024 Panji Gumilang akan muncul dengan berbagai sikap dan pernyataan yang makin kontroversial. Kita tunggu. ()

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *