Dedolarisasi dan Pudarnya Dominasi Amerika

waktu baca 5 menit
Ilustrasi Pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah.

KEMPALAN: Mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) menjadi simbol kedigdayaan ekonomi Amerika Serikat sejak Perang Dunia II. Dolar AS menjadi mata uang cadangan di hampir seluruh dunia selama hampir 75 tahun terakhir. Bersamaan dengan itu Amerika menasbihkan diri sebagai negara paling digdaya di dunia.

Tapi, beberapa waktu belakangan ini mulai muncul gerakan untuk menendang Dolar AS sebagai mata uang global. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan terhadap Dolar, sekaligus untuk membangun kemandirian ekonomi yang lebih kokoh.

Gerakan ini disebut sebagai ‘’Dedolarisasi’’. Tidak tanggung-tanggung, negara-negara kekuatan baru sudah sepakat untuk melakukan kerja sama regional untuk melepaskan Dolar, dan menggantinya dengan mata yang lain. Salah satu gerakan penting muncul dari China dan Brasil, dua negara dengan skala ekonomi besar yang menjadi mesin gerakan di wilayahnya masing-masing.

Selama ini Brasil dan China menjadi kekuatan ekonomi baru yang bisa menjadi pesaing Amerika Serikat. Brasil dan China berkumpul bersama kekuatan ekonomi lain seperti India, Rusia, dan Afrika Selatan dan sering disebut sebagai BRICS sebagai akronim dari negara-negara itu.

Selain BRICS, negara-negara di Timur Tengah juga mulai menunjukkan pemberontakannya terhadap hegemoni ekonomi Amerika. Arab Saudi yang selama ini dikenal sebagai sekutu paling setia Amerika mulai mbalela dengan membuka hubungan bilateral dengan Iran, yang notabene adalah musuh utama Amerika di Timur Tengah.

Turki yang selama ini menjadi kekuatan penting di mediterania juga akan bergabung dengan gerakan dedolarisasi. Bahkan, negara-negara Asia Tenggara yang sedang bertemu di Indonesia juga mempertimbangkan untuk melakukan dedolarisasi.

Gerakan masal ini bisa menjadi ancaman serius bagi dominasi Amerika, karena sekarang kondisi ekonomi dalam negeri Amerika sedang goyah. Amerika punya utang besar ke China dan Eropa dan terancam gagal bayar. Dedolarisasi sangat potensial menjadi senjata yang mengakhiri dominasi Amerika di percaturan global.

Para analis geopolitik internasional banyak yang meramalkan bakal berakhirnya dominasi Amerika. Tetapi, hal itu belum tentu bisa terjadi dalam waktu singkat. Kemunduran itu akan berlangsung gradual dan pelan.

Tanda-tanda kemunduran itu terlihat dalam berbagai kebijakan internasional yang dilakukan Amerika. Sejak 1970-an ekspansi militer Amerika membuatnya sangat digdaya dan memiliki kekuatan tak terhingga, sekaligus membuatnya sebagai polisi dunia di sektor ekonomi atau politik. Atas nama demokrasi dan liberalisasi, Amerika kerap melakukan perluasan hegemoni yang disebut Pax Americana.

Dalam setiap pertempuran, Amerika berhasil menghancurkan negara sasaran, tetapi tidak bisa menundukkan ideology yang dianut negara itu. Hal itu terlihat pada invasi Amerika di Timur Tengah maupun di Afghanistan dan juga upaya untuk menundukkan Iran yang tidak pernah berhasil.

Akibat gagal menghabisi akar ideologis yang lintas negara, dan terlena oleh kemenangan semu, lahirlah berbagai kelompok yang menjadi pembenci Amerika. Kasus-kasus seperti ini jadi bumerang bagi Amerika. Prediksi American Decline atau kemunduran Amerika semakin santer terdengar.

Penyebab kemunduran ini karena Amerika membuat kecewa karena agresi militer dan sistem kapitalismenya. Model kapitalisme Amerika yang sebelumnya begitu dominan dipandang telah merusak politik, menghambat pertumbuhan, dan melemahkan daya tarik Amerika dalam tatanan global.

Di sinilah peluang China untuk mengambil alih kepemimpinan dunia terbuka. Amerika masih sibuk mengeluarkan anggaran besar untuk melakukan ekspansi militer, sementara China sudah lebih fokus melakukan ekspansi ekonomi dan bisnis. Perbedaan fokus inilah yang akan memberi keunggulan bagi China.

Fenomena dedolarisasi ini disebut-sebut sebagai indikasi hilangnya dominasi Amerika, dan munculnya ‘’dunia-pasca Amerika’’. Wartawan Fareed Zakaria sudah meramalkan bakal munculnya dunia pasca Amerika dalam buku ‘’The Post America World’’ (2015)

Dunia pasca-kekuasaan Amerika tidak berarti Amerika runtuh seperti Uni Soviet pada akhir Perang Dingin. Menurut Zakaria, dunia pasca-Amerika adalah ketika Amerika tidak lagi menjadi kekuatan tunggal yang menguasai segala dimensi kekuatan ― ekonomi, politik-militer, sosial-budaya. Kekuatan-kekuatan tersebut semakin terdistribusi ke beberapa negara kekuatan baru.

Ia memberikan analogi untuk memotret pergeseran ini. Misalnya, bangunan tertinggi di dunia kini terletak di Dubai, pabrik-pabrik terbesar sejagat berdiri di Tiongkok, Hongkong menjadi sentral keuangan baru dunia, Uni Emirat Arab menyumbang investasi terbesar di dunia.
Zakaria memprediksi Amerika masih akan menjadi negara adikuasa, tetapi hanya salah satu di antara sekian banyak negara yang kuat, percaya diri, dan aktif dalam sistem internasional yang lebih demokratis, dinamis, terbuka, dan berkelindan. Inilah yang terjadi sampai beberapa dasawarsa ke depan. Dunia baru itulah yang disebut sebagai ‘’dunia pasca-Amerika’’.

Dalam sejarah, pergeseran distribusi kekuasaan adalah proses panjang. Zakaria mencatat pergeseran kekuasaan telah berlangsung tiga kali dalam kurun waktu lima ratus tahun terakhir. Pergeseran tersebut bukan hanya merubah siapa yang menjadi pusat kekuasaan, tetapi juga mengubah tatanan politik, ekonomi dan kebudayaam global. Pergeseran kekuasaan pertama terjadi seiring kebangkitan dunia Barat sejak abad ke-5 hingga abad ke-18 yang menghasilkan revolusi pertanian, revolusi industri, dan kolonialisme.

Pada pergeseran kekuasaan kedua, Amerika menggeser dominasi negara-negara Eropa sejak akhir abad ke-19. Saat ini, pergeseran kekuasaan ketiga ditandai oleh kebangkitan negara-negara non-Barat yang menggerogoti dominasi Amerika.

Amerika merosot dan kekuatan lain akan muncul. Fenomena ini merupakan fenomena ekonomi, tetapi berdampak pada level politik, militer, sosial-budaya. China disebut-sebut akan menjadi pengganti Amerika, tetapi jalan menuju dominasi itu masih sangat panjang.

Indonesia sudah mencium gelagat itu dan harus membuat pilihan yang tepat supaya tidak ketinggalan kereta. Gagasan dedolarisasi negara-negara ASEAN yang ditawarkan Indonesia pada pertemua di Labuan Bajo minggu ini menjadi indikasi bahwa Indonesia juga ingin ikut masuk dalam gerbong perubahan itu. ()

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *