Tadarus Puisi Di Ramadhan Suci

waktu baca 4 menit
(Searah jarum jam) Herry Lamongan, AF Tuasikal, Aming Aminoedhin, dan Akhudiat.

Oleh: Aming Aminoedhin

KEMPALAN: Beberapa tahun lalu, lupa persise tahun berapa? Komunitas sastra bertajuk Forum Sasrta Bersama Surabaya (FSBS) pernah menggelarpentaskan acara “Tadarus Puisi di Ramadhan Suci” pada saat bulan Ramadhan tiba. Beberapa penyair ikut andil dan buat semacam antologi puisi sederhana yang untuk acara pembacaannya. Ketika itu digelar di pendhapa Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), Jalan Gentengkali 85 Surabaya.

Pernah pula komunitas ini menggelar-pentaskan tadarus puisi di Arek Televisi Surabaya, dengan direkam dulu; yang kemudian ditayangkan di Arek Televisi Surabaya. Bahkan proses rekamannya hingga saat sahur tiba, baru bisa rampung usai. Ketika itu, juragannya Arek Tivi almarhum Aman Sugandi; dan Imung Mulyanto sebagai orang yang menangani rekaman tadarus puisi kala itu. Sungguh, sebuah acara yang seru di bulan Ramadhan waktu itu.

Ini hanya catatan lawas yang bicara soal “Tadarus Puisi di Ramadhan Suci” yang meng-ingatkan kita, bahwa kerja penyair memang tak dibatasi dengan adanya puasa. Meski berpuasa, mereka para penyair tetap berkarya.
Bulan ini kita memasuki bulan Ramadhan lagi, adakah gerakan atau kegiatan bertajuk “Tadarus Puisi di Ramadhan Suci” akan kembali digelarpentaskan?

Barangkali anak-anak muda penyair yang akan menggerakkan acara semacam ini.
Selamat menjalankan puasa, tarawih, dan tadarus ngaji Quran sepenuh hati. Salam sehat teruslah semangat! (Aming Aminoedhin).*

Puisi-Puisi Minggu Ini: Puisi Religi

Melengkapi ulasan soal “Tadarus Puisi di Ramadhan Suci” berikut ini saya muatkan beberapa puisi para penyair yang dulu pernah ikut bertadarus puisi itu. Kebetulan masih ada sebagian arsip yang tersisa di laptop saya. Puisinya: Akhudiat, Aming Aminoedhin, Pringgo HR, Herry Lamongan, Af. Tuasikal, W. Haryanto, Abdul Hadi WM, dan Sutardji Calzoum Bachri. Selamat membaca puisi-puisi mereka. (aa).

Akhudiat
Dari Kandungan Al Fatihah

Aku berlindung dalam kuasa Allah, Maha Zat
dari bujuk rayu setan yang dirajam dilaknat

Dengan nama Zat Maha Pengasih Maha Penyayang
pun kami kasih & sayang kepada sesama

Segala pujian, sanjungan, pemujaan hanya bagi-Nya
Rabbi, penguasa semesta alam
semesta nabati, hewani, manusia
semesta organik & non-organik
semesta eksistensi dan non-eksistensi

Maha Zat Maha Pengasih Maha Penyayang
pun kami kasih & sayang kepada sesama

Malik, penguasa hari pengadilan, surga, neraka, akhirat
semesta kebadian
tak terjangkau pikiran
tak tergapai imajinasi
tak terbetik di hati

Hanyalah Pada-Mu kami bersembah, serah diri
sujud di sajadah seluas muka bumi
Hanyalah pada-Mu kami meminta
pun kami darwis, pengemis, cinta Sang Kasih
perambah jalan ke sumber yang mabuk jilatan bibir arak
bukan ke berhala jahiliah, modern, supra modern
teramat kikir tapi rakus sesajen, ubo rampe
pun kantong, perut, tubuh, dada & kepala
pun zombie diganyang tanpa tilas
Tunjukkan kami jalan lempeng itu
lima waktu kami terjaga
di garis genting itu

Di garis mereka yang Kau beri, ridloi
anugerahi segala nikmat
bukan mereka yang ghodlob, terkutuk
bukan mereka yang dlolal, tersesat

Amin
1977

Aming Aminoedhin
Matematika Lailatul Qodar

pakar matematika pernah berhitung
jika seribu bulan
adalah 83 tahun lebih umurnya
sedang usia manusia
tak lebihi angka sejumlah itu
maka bersujud dan beramallah
pada saat lailatul qodar
hingga impaslah segala dosamu
dibayar oleh sujud-amalan
di malam qodar itu

aku termangu (mungkin ragu)
lantas kita semua terjaga
apa benar begitu?

Canggu, 19/8/2010

Pringgo HR
Catatan Ramadhan

untuk apa engkau berlaparhaus segala?
takusah engkau jawab
juga takperlu berbantah
diam
karena katakata bukanlagi neraca
menimbang begitu berat ringan makna

berbicara hanya menyebar riuh pongah
menyepi seperti pertapa

hembus nafasmu
angin titah
tiada keluh
tiada lelah
selalu mencatat senyapmu

Sukodadi, 12 Agustus 2010

Herry Lamongan
Ramadhan I

membumikan sifat-sifat shamdaniyah dalam diri
maka lahirbatin perlu dipuasakan
segala hajat ragawi disurutkan jauh
sejauh bulan menempuh gulir waktu,
selalu isyarat ramadhan memanggil pijar iman
memanggil siapa saja yang rendah hati
mencegah diri dari kepentingan basyariyah
sebab amat kuat butuh usia kepada al Haq
bismillah alhamdulillah

Madedadi, Juli 2010

AF. Tuasikal
Malam Seribu Bulan

kala malam kian terdiam
sunyi telusuri sepi
sendiri aku berdiri
bertumpu permadani bumi

tiada desir derai angin menemani
tak terdengar sesuatu atau alunan lagu
dari semak belukar rumput-Mu
hingga jasadku tak sadarkan diri

terbuai dalam kesunyian malam
menanti beribu ampunan
menanti kilau embun keridhoan
malam seribu bulan

terusan, oktober 2005

W. Haryanto
Ke Titik Nol

Setelah kata berakhir dan angin tak lagi
menggerakkan apapun di sekitar kita, setelah adzan magrib
melintas teluk dan September sujud tanpa bisikan,
setelah kematian menjawab semua teka-teki,
setelah tiap rumus matematika tak menjadikan
kita bijak. Di sini. Kita sendiri di bulan. Pada batas terluar
dari kenyataan. BISMILLAH,

Setelah halaman terakhir buku kita tutup. Burung-burung
dan semua bunyi hilang. Senyapkah?

(Sidoarjo, 2010)

Abdul Hadi WM
Tuhan, Kita Begitu Dekat

Tuhan
Kita begitu dekat
Sebagai apai dengan panas
Aku panas dalam apimu

Tuhan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *