Digdayanya Anies dan Koalisi Perubahan

waktu baca 6 menit
Sumber Foto: Twiter Andi Arief)

KEMPALAN: ANIES, Partai Nasdem, Demokrat dan PKS adalah perpaduan kekuatan lengkap, karena merupakan gabungan kekuatan sosok integritas dan partai politik yang berusaha melakukan perbaikan untuk Indonesia. change and continuity.

Anies telah membuktikan bahwa dirinya adalah pemimpin yang tangguh, sabar, santun dan berintegritas.

Integritas Anies ditunjukkan ketika dia memimpin Jakarta, seluruh janji politik dan komitmennya terhadap rakyat Jakarta ia tuntaskan dengan baik. Anies mampu mewujudkan keberpihakannya kepada rakyat dan mampu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Jakarta.

Selama memimpin Jakarta, tergodakah Anies menjadi kutu loncat sebagaimana pendahulunya dan karibnya, menjadikan Jakarta sebagai batu loncatan untuk menuju istana tahun 2019, meski saat itu peluang untuk itu ada? Jawaban Anies tegas, komitmen saya untuk rakyat Jakarta adalah 5 tahun, maka janji saya adalah menuntaskan itu semua sampai berakhir masa jabatan saya tahun 2022, dan itu ditepati olehnya.

Indonesia butuh sosok seperti Anies, sosok yang berintegritas, menepati janji, cerdas, berkomitmen dan berpihak pada kepentingan rakyat, paket lengkap nasionalis dan relegius.

Sikap Anies yang seperti inilah yang menjadikan dirinya muncul sebagai sebuah harapan masa depan Indonesia. Anies saat ini tak lagi hanya sebagai pribadi, tapi dia sudah menjadi sebuah kekuatan institusi perubahan rakyat Indonesia. Anies tak lagi menjadi milik rakyat Indonesia bahkan dia juga menjadi milik dunia.

Komitmen Anies mewujudkan tatanan dunia yang berkeadilan dan saling bertanggungjawab dalam perubahan iklim hanya butuh waktu 10 menit untuk diterima oleh PBB dan dijadikan komitmen bersama negara negara dunia. Ini menunjukkan bahwa Anies adalah sosok yang dipercaya dan visioner.

Dalam toleransi, Anies sudah terbukti menjadikan Jakarta menjadi kota yang damai dan toleran, hal ini dibuktikan dengan kebijakannya yang proporsional dalam melayani seluruh Ummat beragama yang ada di Jakarta. Anies tanpa harus mengucapkan saya Indonesia, saya Pancasila, Anies sudah Indonesia banget dan Pancasila banget.

Sosok Anies yang seperti inilah yang kemudian merangsang mereka mereka yang selama ini hidupnya dihiasi dengan kebohongan dan kepalsuan serta ketergantungan kemapanan menjarah uang negara dan oligarki jahat, untuk melakukan upaya upaya menjatuhkan Anies ditengah kepercayaan rakyat semakin meningkat.

Sebut saja seperti Ade Armando, Eko Kun tadi dan Haidar Alwi, yang dibongkar oleh Majalah Tempo oleh dalam cek fakta yang dikupas oleh Tiffani Angelina. Ketiganya ini dan para buzzer penjarah uang negara mencoba menyusun fitnah terhadap Anies dengan mengumpulkan kepingan kepingan potongan video yang bertujuan menjatuhkan Anies bahwa Anies sudah dipersiapkan oleh Amerika dan Eropa. Nampaknya upaya mereka gagal total, karena Tempo dengan apik dan runtut menjelaskan bahwa mereka semua adalah pembohong.

Hal lain adalah pernyataan yang diucapkan oleh Sandiaga Uno dan Erwin Aksa melalui chanel Akbar Faisal, tentang perjanjian hutang piutang 50 M saat pilkada Jakarta 2017.

Setelah dibantah oleh Fadli Zon dan beredarnya dokumen perjanjian, buru buru Sandi membantah dengan menggunakan sholat istikharah sebagai tameng jawaban. “Setelah istikharah, saya ikhlaskan itu semua dan case closed”, ujar Sandi. Pernyataan Sandi ini tentu menyusahkan pertanyaan bahwa hutang piutang itu ada.

Beredarnya dokumen perjanjian di media sosial dan media massa yang kemudian menjadikan Erwin Aksa menyatakan dengan entengnya saya tidak tahu, menunjukkan ada upaya menjadikan Anies sebagai tertuduh yang punya hutang.

Membaca isi dokumen tersebut, publik kini pun jadi tahu siapa berbohong, siapa menebar fitnah dan siapa yang berintegritas.

Serangan dan tudingan bahwa Anies intoleran, Anies membawa politik identitas, Anies dekat dengan kelompok intoleran dan lain lain yang berbau fitnah, juga disematkan kepada Partai Nasdem yang dengan kejernihan hati dan visi restorasi mencalonkan Anies sebagai capresnya.

Partai Nasdem tak bisa dipisahkan dengan Surya Paloh ( SP), sang maestro dan sang dirigen partai. SP yang berada didalam partai Koalisi Pemerintahan, menyadari bahwa Indonesia butuh sosok Anies, kesadaran itulah yang kemudian membawa SP bersama Partai Nasdem mengusung Anies. Terasa Aneh memang, tapi itulah SP tahu momentum bagaimana menyelamatkan Indonesia. SP pun dan Partai Nasdem, kini juga menjelma sebagai Partai yang berpihak pada perubahan dan keberlanjutan, menurut nya “It’s time to change”.

Kini SP pun menjadi sosok yang penentu masa depan Indonesia, disamping sosok lain seperti Jokowi, Megawati dan yang lain lainnya. SP pun menjadi tokoh penting perubahan, sehingga memaksa LBP dan Jokowi harus bertemu untuk menjamin keberlangsungan Indonesia kedepan. Meski diawal awal SP selalu dibully dengan pernyataan “milih presiden ojo sembrono, ojo kesusu, dan sindiran sindiran lain” yang menjatuhkan SP dan Partai Nasdem, kini SP pun digadang untuk bisa memberi jaminan masa depan Jokowi dan program Indonesia yang dia buat.

Partai Demokrat dan PKS adalah dua partai yang selama ini berada diluar pemerintahan. Mereka ini menjadi penyeimbang Parlemen dan kontrol kebijakan pemerintah. Sehingga Demokrasi kelihatan berjalan, meski pada kenyataannya kekuasaan berusaha melumpuhkan dengan cara cara otoriternya. Isntrumen hukum dijadikan alat membungkam. Lumpuhkah mereka? Tidak. Partai Demokrat yang besutan SBY, mampu menunjukkan kepiawaiannya bersilancar dalam permainan Demokrasi seolah olah yang diperagakan oleh kekuasaan. AHY bak kuda troya sebagai pemimpin muda dalam pidatonya di rapat koordinasi nasional Partai, menyatakan bahwa saatnya berubah dan Demokrat bersama perubahan itu. Sebuah sikap kritis dan berani yang menjadi ciri Partai modern dan millenial. Bahkan sebagai pimpinan partai, AHY menunjukkan sikap kenegarawanannya, Partai Demokrat mengusung Anies dan cawapres diserahkan sepenuhnya kepada Anies, meski AHY dalam survey menempati posisi bagus sebagai pendamping Anies. AHY mampu menahan diri untuk tidak dianggap sebagai sosok yang ambisius. AHY mampu menempatkan diri sebagai sosok pemimpin muda yang diharapkan.

Hal yang sama juga dilakukan oleh PKS. Sebagai partai yang lahir dari aktivis dan tokoh tokoh Islam yang berkomitmen kebangsaan dan keislaman. PKS kerapkali dituduh sebagai partai pengusung ideologi khilafah dan intoleran. Namun semua itu bisa ditepis dengan baik oleh PKS dengan menunjukkan komitmen yang kuat terhadap ke Indonesiaan dan Kebangsaan. PKS mampu menunjukkan jati dirinya sebagai partai besar dan matang untuk menjaga NKRI.

Bagi PKS tuduhan tuduhan miring itu bukanlah sesuatu yang harus dipusingkan untuk dijawab dengan kata – kata, PKS membuktikan dengan karya dan keberpihakan para kadernya kepada rakyat. Kita bisa saksikan, kader kader PKS menjadi garda terdepan keberpihakan dibanding mereka yang mengatakan saya Indonesia, saya Pancasila atau partai yang mengatakan paling berpihak pada rakyat.

Kolaborasi Anies, Partai Nasdem, Partai Demokrat dan PKS dalam Koalisi Perubahan, telah nyata – nyata menunjukkan kedigdayaannya. Mampu menjadi bagian penentu perubahan Indonesia.

Koalisi perubahan mejadi Koalisi yang punya kepastian, karena saat ini hanya Koalisi Perubahan yang sudah memastikan siapa capresnya. Ini tentu berbeda dengan Koalisi – Koalisi lain yang menunggu arahan “kekuasaan”, kemana keberpihakan akan dilakukan. Namun pada saatnya hati nurani pun akan bicara yang akan menuntun kemana partai partai itu berpihak.

Tentu saja pilihannya adalah berpihak pada rakyat dan perubahan serta keberlanjutan. Nah kalau pilihannya seperti itu bukan tidak mungkin manufer manufer SP yang bertemu LBP, Jokowi, Airlangga Hartarto, AHY dan Salim Segaf Al Jufri adalah dalam rangka transisi Indonesia yang soft ke dalam Koalisi perubahan menyelamatkan Indonesia. Semoga saja! (*)

Editor: DAD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *