Kekerasan yang semakin intens dan meluas, serangan oposisi yang terkoordinasi, membuat situasi di Myanmar meningkat dari pemberontakan menjadi perang saudara.
Kekerasan telah menyebar ke seantero negeri. Pertempuran yang terjadi semakin terorganisir dan telah mencapai pusat-pusat kota, padahal sebelumnya tidak pernah terlihat perlawanan bersenjata terhadap militer.
Pemerintah militer Myanmar melakukan kudeta terhadap pemerintahan sipil yang terbentuk melalui pemilihan umum. Partai pimpinan Aung San Suu Kyi memenangkan pemilu demokratis dan berhak membentuk pemerintahan sipil. Tetapi, pada 1 Februari 2021 militer melakukan kudeta dan menahan para pemimpin sipil termasuk Suu Kyi.
BACA JUGA: Gubernur Lesbian
Suu Kyi, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian kini mendekam dipenjara. Beberapa anggota partai yang dipimpinnya bahkan menghadapi tuntutan hukuman mati. Junta menyasar Suu Kyi karena dianggap melawan kediktatoran militer tersebut. Suu Kyi pun dituduh melancarkan aksi terorisme.
Suu Kyi pun telah menghadapi berbagai rentetan dakwaan. Pada April lalu, Junta memvonis hukuman 5 tahun penjara kepada wanita berusia 76 tahun itu. Dia dinyatakan bersalah atas kasus korupsi. Suu Kyi juga menghadapi 6 tahun penjara atas tuduhan hasutan terhadap militer, pelanggaran aturan COVID-19, dan pelanggaran Undang-Undang Telekomunikasi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi