Jokowi dan Myanmar

waktu baca 6 menit
Presiden Jokowi didampingi Menlu Retno Marsudi pada KTT ASEAN-PBB di Hotel Sokha, Phnom Penh, Jumat (11/11/2022). (Foto: BPMI Setpres/Kris)

KEMPALAN: DI pengujung masa jabatan kedua, Presiden Joko Widodo semakin aktif dalam diplomasi internasional. Terlihat bahwa Jokowi ingin goes international untuk memperluas dan memperkuat kredensialnya. Hal ini merupakan kemajuan yang mencolok dibanding dengan kiprah Jokowi pada masa-masa awal pemerintahan. Ketika itu Jokowi tidak aktif dalam diplomasi internasional dan malah cenderung menarik diri.

Jurnalis Australia Ben Blend dalam buku ‘’Jokowi’ The Man of Contradiction’’ menyebut bahwa Jokowi mempunyai keterbatasan wawasan dalam masalah-masalah internasional. Disebutkan bahwa untuk memberi pemahaman mengenai pentingnya masalah sengketa Laut China Selatan bagi geopolitik Indonesia, seorang pembantu presiden harus memberi penjelasan mendasar dengan memberi contoh perdagangan meubel ke luar negeri. Kalau situasi laut tidak aman, maka pengiriman barang ke luar negeri akan terancam dan hal itu akan memengaruhi ekonomi dalam negeri. Setelah dijelaskan dengan contoh sederhana Jokowi baru ngeh.

BACA JUGA: Republik Burung Hantu

Jokowi juga tidak terlalu aktif dalam forum internasional pada periode pertama, dan sering mendelegasikannya kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla. Untunglah kemampuan Bahasa Inggris JK sangat mumpuni sehingga dia sangat pede berbicara dalam forum-forum internasional. Jokowi kemudian mengeluarkan peraturan presiden bahwa seluruh pejabat Indonesia harus memakai bahasa Indonesia di forum internasional. Sejak itu kehadiran Jokowi di forum internasional mulai meningkat.

Saat ini Indonesia memegang kepresidenan G-20 dan bulan ini akan menyelenggarakan pertemuan tingkat tinggi di Bali. Tentu saja posisi Jokowi sangat penting di percaturan politik internasional sekarang ini. Dengan posisi sebagai pemegang kepresidenan G-20 Jokowi berkunjung ke Ukraina dan Rusia untuk mencoba menjembatani perang dua negara. Tapi hasilnya mengecewakan karena perang tetap berkecamuk sampai sekarang.

Forum G-20 diharapkan akan menjadi forum perdamaian yang mempertemukan pemimpin Rusia dengan Ukraina. Rusia adalah member G-20, sedangkan Ukraina tidak termasuk anggota. Kendati demikian Jokowi mengundang Presiden Ukraina Vlodimyr Zelensky untuk hadir ke Bali. Jokowi juga secara khusus mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin. Tapi kedua pemimpin itu menolak hadir. Hal ini menjadi catatan minor bagi kepresidenan Indonesia di G-20.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *