Fokus ke psikologis mereka, ternyata memang bermasalah. Aktris tidak mungkin mengakui, bahwa dia mengalami gangguan jiwa. Seperti halnya, semua orang gila pasti mengaku tidak gila (sambil ketawa meringis).
Soal kondisi psikis, responden menolak diperiksa psikiater. Tim riset melakukan cek silang: Aktor menilai kondisi psikologis aktris, dan sebaliknya. Tapi, hasilnya memang subyektif.
Ada lima aktris diminta menyampaikan keluhan mereka. Hampir semuanya mengatakan, sejak jadi aktris mereka jadi gampang marah. Bahkan untuk persoalan sepele.
BACA JUGA: KDRT di Depok Caranya Unik
Salah satu aktris cerita: “Mereka (produser) menghancurkan saya. Ketika saya baru tiba di sini, dulu, mereka sekap untuk kebutuhan seks mereka dan kawan-kawan. Setelah mereka bosan, atau ada aktris yang baru masuk, baru-lah saya main film.”
Setelah bekerja, mereka harus mengikuti perintah produser dalam bentuk apa pun. Produser paling tahu keinginan konsumen.
Aktris lain, cerita: “Ketika saya baru tiba di sini, lalu disekap, lalu main di film, saya menyadari bahwa hidup saya telah berubah begitu cepat. Saya jadi terlalu gampang marah, sepulang kerja. Mungkin, saya tidak akan pernah mengalami gangguan itu, seandainya saya tidak pernah terjun ke sini.”
Seorang aktor cerita tentang aktris: “Saya katakan, bahwa semua wanita yang datang ke film porno, pasti sebelumnya mereka sudah rusak. Ada korban DV (Domestic Violence atau KDRT) atau korban perkosaan. Pokoknya mereka sudah rusak, sebelum masuk sini.”

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi