Melihat sulitnya medan Indarung zaman itu, dan sulitnya angkutan internasional, maka waktu 2 tahun pembangunan pabrik semen tersebut sangat cepat.
Maka proyek-proyek seperti Monas Jakarta, Jembatan Ampera Palembang, dan Sarinah, semennya dari Padang. Masih kokoh sampai sekarang. Mungkin karena tidak ada yang menendang Monas.
Tahun 1950-an barulah dibangun pabrik semen kedua di Indonesia: Semen Gresik. Lalu Tonasa. Lalu swasta pertama: Tiga Roda, Cibinong, Bosowa. Lalu pabrik semen asing: Tiongkok. Kecil-kecil tapi banyak.
BACA JUGA: Kaipang Greenhope
Mutu semen itu, kata para kontraktor, hampir sama. Dari pabrik yang mana pun dan merek apa pun. Perbedaan kualitas lebih ditentukan pada tukang di lapangan saat menggunakannya.
Orang Padang tentu sangat bangga dengan sejarah panjang itu. Makanya Jasmi langsung telepon saya ketika nama Semen Padang dianggap terjelek. Ia tahu, yang bicara bupati Kediri, Jatim. Tapi saya juga orang Jatim: harus ikut bertanggung jawab. (*)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan
Edisi 25 Oktober 2022: Dari Li ke Li

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi