Wartawan saya ditegur oleh humas Polres, diperingatkan agar memberitakan hanya keterangan resmi dari mereka. Kami tak pedulikan, selama tak melanggar kaidah jurnalistik dan kode etik, kami akan temukan informasi tentang apa pun dengan cara-cara dari sumber yang tak melanggar aturan.
Ferdy langsung bekerja. Ia jenis jurnalis yang sabar, tekun, dan mudah diterima narasumber. Pengalamannya bekerja di wilayah berkonflik mematangkannya. Ia amat berhati-hati dengan fakta. Paling tidak ia akan mencari satu sumber pembanding. Untuk hal-hal peka, kepada pemberi informasi ia tanyakan lagi kepastiannya. Ferdy terus menabung informasi itu.
BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (4)
Koran kami belum terbit, tapi tinggal menunggu hari, begitu juga kami dengar koran dari grup pesaing kami, Podium Kota. Pada hari H-1terbit kami sudah punya berita untuk seminggu, berita tentang hilangnya istri polisi itu. Sampai hari itu, kami masih menyebut kata hilang, bukan pembunuhan, faktanya memang baru hilang.
Ferdy mewawancarai salon mahal tempat langganan istri polisi itu. Ia memang mantan model di ibu kota. Sekolah di universitas swasta terkenal mahal. Sebagai anak bungsu petinggi kepolisian gaya hidup yang mewah itu bisa dimaklumi. Ferdy juga mendapatkan info dari butik langganan istri polisi itu. Berapa juta sekali belanja, dan berapa habisnya tiap bulan. ”Mereka kira saya polisi kayaknya, Bang,” kata Ferdy.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi