”Tadi malam kan masih dia yang mengedit berita halaman satu?” kata saya, dengan jawaban bersayap.
”Hari ini kita di lapangan diketawain orang, cuma kita yang tak memberitakan itu. Kamu tanya ini Yon. Iya kan, Yon?” kata Mas Jon.
”Iya, malu, kita. Bos!” kata Yon. Dia memanggil siapa saja dengan sapaan Bos.
BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (3)
Yon dirotasi ke pos liputan kriminal menggantikan saya. Yon sebenarnya reporter yang masuk sedikit lebih dahulu daripada saya. Saat saya datang ke kantor ini dengan rekomendasi dari ”Suara Balikpapan” lowongan wartawan sudah terisi penuh. Rekomendasi dari koran anak sulung grup kami itu yang bikin Bang Eel dan Bang Ado mempertimbangkan hal lain dan menerima saya. Karena itu kepada dua orang ini saya punya semacam rasa berutang juga.
Yon ngepos di liputan hiburan. Orangnya asyik. Modis dengan pakaian selalu dari brand terpilih. Rapi dengan model rambut yang secara berkala ia atur di salon. Tegak di atas dengan krim pengatur rambut. Suka nyanyi rock. Di kantor dia rocker andalan kami. Sambil ketik berita dia bisa teriak-teriak lagu Bon Jovi. Lebih kayak artis daripada wartawan. Kalau cari dia, carilah di kafe-kafe dengan homeband yang memainkan rock. Karaoke Abigail jelas bukan habitat dia.
”Jadi ini kelanjutan liputan Sandra gimana?” Mas Jon belum puas dan terus mencecar. Tampaknya dia punya rencana. ”Terus terang, aku curiga. Aku lihat kamu dan Eel semalam di Patron’s Café. Terus hari ini ada iklannya di koran kita. Itu kafe dari dulu aku lobi gak pernah mau pasang iklan di tempat kita. Apa ini ada hubungannya dengan sensor info kehamilan Sandra?”

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi