Sebagai wartawan baru, saat itu karena berita itu, di kantor saya jadi perhatian, di lapangan di kalangan para wartawan senior, media lokal maupun perwakilan media Jakarta, saya pun mulai dikenal. Beberapa wartawan nasional yang rada malas malah minta bahan liputan ke saya. Saya tak pernah pelit. Saya beri saja, toh media-media Jakarta itu bukan saingan koran kami juga. Kalau ada kasus di kota kami yang diangkat di media nasional, pembaca kami malah jadi meningkat.
Koran nasional, apalagi TV, paling berapa menit memberitakan. Malah bikin penasaran, orang nyari info lebih lengkap di koran kami.
“Masih berita Sandra, Dur?” tanya Bang Eel. Namanya sebenarnya Ilyas. Tapi kami semua, dan sepertinya semua orang di kota kami memanggil dia dengan nama akrabnya: Eel, dari tukang parkir permainan ketangkasan sampai kapolres, termasuk wali kota.
BACA JUGA: Vivo 1000
Suaranya parau, keras, sekeras perangainya. Parau suaranya seperti Karni Ilyas. Bang Eel wartawan yang berdisiplin. Dia yang wawancara saya ketika saya direkrut. Dia tanya apa agama saya, pertanyaan yang mula-mula terasa agak mengganggu saya, tapi kami akhirnya tertawa, ketika tahu apa maksud pertanyaannya itu. Dia bilang, kalau kamu Islam, mulai sekarang nabi keduamu deadline, setelah Nabi Muhammad.
Sebagai atasan dan bawahan mengembangkan hubungan yang saling membutuhkan. Kami cocok. Sejak hari pertama dia banyak mengandalkan saya. Saya pun memasok berita-berita yang memenuhi 13 rukun iman berita, layak headline, dan bikin oplah koran kami naik terus.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi