JAKARTA-KEMPALAN: Bank Indonesia (BI) secara resmi mengumumkan bahwa pihaknya telah menyiapkan rancangan uang Rupiah digital. Rancangan tersebut berisikan desain, kebijakan hingga skema distribusi mata uang bank sentral digital (Central Bank Digital Currency) tersebut.
Dalam penjelasannya di agenda Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) yang bertempat di kegiatan G20, Deputi Gubernur Bank Indonesia yaitu Doni Primanto mengatakan bahwa Rupiah Digital merupakan inovasi dari BI untuk menghadirkan alat pembayaran yang lebih baik.
Primanto mengatakan bahwa rancangan tersebut akan terbit paling lambat pada akhir tahun ini.
“Bank Sentral telah meningkatkan upaya untuk mengeksplorasi mata uang digital sendiri yang stabil. Rupiah digital akan menjadi bentuk baru penerbitan uang digital” ucap Primanto.
“Bank Indonesia akan terus mendalami peranan CBDC dan pada akhir tahun ini, kami akan mengeluarkan white paper pengembangan Rupiah digital” lanjutnya.
Bank Indonesia akan merilis terlebih dahulu white paper Rupiah digital dalam rangka untuk mengakomodasi pembuatan CBDC tersebut—sekaligus menjadi bahan evaluasi sebelum menerbitkan secara resmi.
Primanto juga menjabarkan bahwa white paper tersebut akan menjadi jembatan utama untuk melihat risiko yang diantisipasi atas penerbitan Rupiah digital, mulai dari stabilitas ekonomi, moneter hingga sistem keuangan Indonesia.
“Saat ini, mayoritas bank sentral di dunia telah melakukan tahapan riset dan percobaan sesuai dengan karakteristik negaranya masing-masing” ucap Primanto.
Menanggapi adanya hal tersebut terkait dengan penerbitan Rupiah digital, disebutkan bahwa sudah terdapat beberapa kritik yang masuk dari lembaga keuangan internasional mulai dari IMF dan juga Bank Dunia.
Hal tersebut sudah divalidasi oleh Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran (DKSP) BI yaitu Ryan Rizaldy yang mengatakan bahwa kritik dari dua lembaga internasional tersebut memang benar adanya.
Namun, Ryan tidak berpusing diri karena dikatakan kritik tersebut masih dalam tahap kewajaran.
“Itu wajar, mencerminkan diskusi global. Ini masih banyak perdebatan apakah CBDC itu meningkatkan kualitas mata uang negara atau tidak. Ada yang ragu, ada yang percaya” ucap Ryan, melansir dari CNBC.
Sebelumnya, Bank Dunia sudah menyatakan bahwa CBDC belum tentu berkontribusi secara langsung kepada inklusi keuangan—sehingga negara yang mencoba mengimplementasikannya perlu berpikir lebih panjang.
Kemudian juga IMF yang telah menyebut bahwa CBDC belum bisa berkontribusi banyak bagi masyarakat maupun perbankan—karena konsepnya tidak berbeda dengan dompet digital yang dimiliki oleh bank komersial ataupun suatu perusahaan.
Namun, Ryan memastikan bahwa terbitnya Rupiah digital akan menjawab semua tantangan dari BI.
Apakah kebijakan dari BI sudah tepat, terlepas dari adanya kritik dari IMF dan World Bank? (CNBC/Suara, Arlita Azzahra Addin)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi