Minggu, 10 Mei 2026, pukul : 20:24 WIB
Surabaya
--°C

Asep Optimistis Lukisan Bakar akan Membawanya Sukses

KEMPALAN: NAMA Asep Aripin memang belum populer. Namun, karya lukis bakarnya telah dikoleksi oleh banyak orang. Padahal, baru setahun terakhir ini dia menekuni seni lukis bakar. Modal utamanya adalah solder listrik yang menggunakan trafo. “Saya menggunakan dua solder trafo. Saya memesannya secara khusus ke seorang teman,” ujar Asep, Rabu pagi (4/5) di rumahnya, di Kampung Jarakah Ds Lemah Duhur, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang (Jawa Barat).

Per unit, solder itu dibelinya dengan harga Rp 400 ribuan. Ujung soldernya sengaja dibikin pipih agar bisa melahirkan coretan atau guratan yang sesuai dengan keinginan Asep.

Media lukis bakar Asep menggunakan kayu atau triplek. Selama ini Asep paling sering menggunakan kayu pinus yang disuplai dari Yogjakarta. Ukurannya disesuaikan dengan order lukisan bakar yang diterima Asep. “Kalau triplek, saya biasa menggunakan ketebalan 1,5 sentimeter,” cerita lelaki 35 tahun ini.

Asep menanbahkan, makin bagus motif kayunya, maka makin keren lukisan bakar yang dihasilkan. “Dimensi keindahan dan keunikannya makin kuat,” alasan Asep.

Untuk mempola lukisannya, Asep menggunakan sebuah aplikasi yang diperolehnya di playstore. Selain itu Asep juga membentuk garis kotak-kotak dengan menggunakan pensil di media lukisnya, sebagai alat bantunya dalam membikin pola lukisan. “Jika lukisannya sudah selesai, garis kotak-kotak itu dihapus,” kata Asep yang hanya lulusan SMP tersebut.

Menurut Asep, semakin detil lukisan yang dibuat bakal meningkatkan kualitas lukisan bakarnya. “Makin detil, maka pengerjaannya makin lama. Harga jualnya juga semakin mahal,” papar dia.

Asep biasa menjual lukisan bakarnya dengan harga mulai Rp 200 ribu. Pemesan lukisannya kebanyakan dari luar Karawang. Khusus lukisan KH Maimun Zubair (Mbah Maimoen Dzoebair), pengasuh Pondok Pesantren Al-Nawar Rembang (Jawa Tengah), Asep belum melegonya. “Saya masih menyimpannya sebagai koleksi,” ucap Asep. Untuk mewujudkan lukisan Mbah Maimoen, Asep membutuhkan waktu lebih dari 2 bulan.

Sangat Yakin Berhasil

Asep amat optimis, lukisan bakar memiliki prospek yang sangat cerah. Dan, dia berniat untuk makin serius menekuninya. “Kalau dikelola beneran, saya sangat yakin bisa membawa kesuksesan,” katanya.

Asep Aripin (kanan) membanderol lukisan bakarnya mulai Rp 200 ribu

Dia tidak membantah, bahwa lukisan bakar tidak membutuhkan keterampilan yang luar-biasa. “Hanya butuh ketelatenan dan kesabaran,” jelasnya.

Sebenarnya, beberapa tahun yang lalu Asep lebih dulu mengenal dunia seni lukis dengan media paralon.
Namun, pada akhirnya dia menghentikan aktivitasnya itu. “Paralon itu harus dibor untuk menghasilkan titik-titik lukisan. Karena saya hanya punya waktu pada malam hari untuk melukis, maka saya menghentikan aktivitas tadi. Mengebor itu, kan melahirkan suara berisik. Jadi, tidak enak hati dengan tetangga,” jelas Asep.

Hingga sekarang Asep belum memposisikan sebagai pelukis bakar profesional. “Mungkin saat ini masih berproses, ya,” ucap dia.

Itulah sebabnya setiap hari dia masih bekerja sebagai mekanik di sebuah perusahaan karoseri di Cikarang. Pekerjaan ini sudah dilakoninya sejak 8 tahun yang lalu.

“Jadi, saya biasanya melukis pada malam hari. Jika mood bagus, saya baru mengambil solder…lantas mulai melukis. Rata-rata 2-3 jam dalam semalam,” tutur Asep. Untuk mem-finishing lukisan bakarnya, dia memberikan vernis Mowilex. (*)

Editor: DAD

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.