Amerika belajar banyak dari kegagalannya di Afghanistan. Amerika menutup mata dan telinga dari kecaman internasional karena dianggap menelantarkan Afghanistan. Terlalu mahal ongkos yang harus dibayar oleh Amerika untuk terus menjadi polisi di Afghanistan.
Amerika tidak mau menjadi keledai yang masuk ke lubang yang sama dua kali. Ukraina bisa menjadi lubang yang mirip dengan Afghanistan meskipun tidak sepenuhnya sama. Sekali masuk langsung ke palagan Ukraina, Amerika harus siap untuk perang jangka panjang dengan skala yang lebih besar.
BACA JUGA: MUI dan Islamisme
Amerika dan sekutu NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) tidak mau ambil risiko. Perang frontal melawan Rusia bisa membawa efek perang global yang mengerikan. Amerika lebih memilih perang proxy melawan Vladimir Putin dengan menerapkan sanksi ekonomi dan pembekuan aset pengusaha Rusia kroni Putin.
Ukraina harus menerima nasib sebagai anak yatim yang ditelantarkan. Ia ingin menjadi anggota NATO untuk bisa mendapat perlindungan dari Amerika dan Eropa. Rusia tidak akan membiarkan pintu belakang rumahnya dikuasai oleh Amerika dan NATO.
Putin bersikeras mempertahankan kedaulatannya, dan Amerika akan berhitung cermat untuk tidak menantang Putin secara langsung. Dunia akan berada dalam ‘’stalemate’’, kondisi ketika dua pihak berada pada posisi seimbang dan tidak ada yang berani menyerang secara langsung.
BACA JUGA: The Hunger Games
Dalam permainan catur kondisi stalemate disebut sebagai remis karena skak abadi dan saling mengunci. Tidak ada yang bisa maju, dan tidak ada yang bisa mundur. Krisis Ukraina akan menjadi ajang remis antara Rusia dan Amerika.
Seluruh dunia akan merasakan efek remis itu, dan program recovery ekonomi pasca-pandemi harus ditata ulang lagi. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi